Menjelang 1 Juli, sejumlah kelompok hak asasi manusia di luar negeri menggelar aksi unjuk rasa dan pawai di New York, Amerika Serikat. Penyelenggara menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang disebut sebagai partai iblis yang meracuni rakyat dengan kebohongan dan menindas mereka dengan kekerasan. Aksi ini merupakan respons terhadap “hari jadi berdirinya PKT” dan seruan untuk melenyapkan Partai Komunis dari muka bumi.
EtIndonesia. Tahun ini, tanggal 1 Juli 2025 menandai 104 tahun berdirinya PKT. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai kelompok hak asasi manusia dari berbagai penjuru berkumpul di Flushing, New York, untuk mengadakan unjuk rasa dan pawai, mengecam kejahatan PKT selama satu abad.
“PKT adalah musuh rakyat, musuh umat manusia, dan organisasi teroris.”

Pada 29 Juni, anggota Aliansi HAM dan Demokrasi Tiongkok, Partai Demokrat Tiongkok, dan Aliansi Keadilan Kristen, membawa spanduk besar bertuliskan “Akhiri Kediktatoran PKT” dan “PKT Sumber Segala Kejahatan”. Mereka berbaris sambil meneriakkan slogan:
“Akhiri kekuasaan diktator PKT! Kediktatoran pasti tumbang, rakyat pasti menang! PKT enyah dari Amerika! PKT enyah dari Tiongkok!”
Ketua Aliansi HAM dan Demokrasi Tiongkok, Jin Xiuhong, mengatakan bahwa 1 Juli adalah hari yang kelam. Aksi ini adalah respons langsung terhadap perayaan ulang tahun PKT.
Wang Juntao, Ketua Komite Nasional Partai Demokrat Tiongkok, dalam pidatonya menyampaikan bahwa orang-orang yang telah lama ditindas oleh PKT awalnya berharap bisa hidup bebas dari ketakutan di Amerika. Namun ternyata, infiltrasi PKT ke AS sudah sangat dalam, dan selama PKT masih ada, tidak ada tempat di dunia yang aman bagi umat manusia. Oleh karena itu, PKT harus disingkirkan sepenuhnya dari muka bumi.
Penulis Tionghoa-Kanada, Sheng Xue, mengatakan kepada wartawan bahwa meskipun banyak warganet di Tiongkok tidak berani menunjukkan dukungan secara terbuka, mayoritas dari mereka telah kehilangan harapan terhadap PKT.
“PKT saat ini memerintah dalam keadaan panik, meskipun banyak orang tidak secara langsung meneriakkan untuk menggulingkan PKT, masyarakat Tiongkok secara umum sudah kehilangan kepercayaan dan harapan terhadap kediktatoran PKT. Kekacauan politik dalam tubuh PKT sudah berlangsung cukup lama, dan kemerosotan ekonomi yang menyeluruh berdampak langsung pada seluruh masyarakat.”




Pengamat politik Tiongkok di AS, Cai Shenkun, menilai bahwa krisis terbesar yang dihadapi PKT adalah generasi muda.
“Masalah yang dihadapi sekarang sangat banyak, terutama situasi internasional yang semakin menekan PKT, belum lagi persoalan domestik. Ekspor mengalami pukulan hebat, tingkat pengangguran di kalangan muda melonjak tajam, dan masalah besar lainnya adalah kaum mahasiswa. Dulu mereka bisa dipaksa pergi ke pedesaan, tapi sekarang mereka berada di kota. Jika tidak bisa mencari nafkah, para kaum intelektual ini pasti akan melawan. Ini bisa menjadi tantangan terbesar bagi rezim PKT di masa depan.”
Cai juga menganalisis bahwa bukan hanya rakyat yang kehilangan kepercayaan, tetapi “hati partai” dan “loyalitas militer” juga mulai goyah.
“Saya pikir saat ini loyalitas kader partai dan militer jelas tidak stabil. Karena itu, Xi Jinping sangat mengontrol hal ini. Ia ketat dalam mengatur pejabat partai dan militer, termasuk larangan minum alkohol dan larangan mengadakan jamuan makan. Intinya, ia tidak ingin para pejabat ini berkumpul, apalagi membicarakan hal-hal yang bertentangan dengan pusat kekuasaan. Ini sangat jelas.”
“Beijing sudah sejak lama menetapkan aturan bahwa pejabat setingkat wakil negara tidak diizinkan menetap atau bekerja di luar negeri. Setelah selesai studi, mereka wajib kembali ke dalam negeri. Sekarang aturan ini kemungkinan sudah diperluas hingga ke pejabat tingkat kabupaten. Ini menunjukkan bahwa rezim merasa tidak aman. Mereka takut para pejabat bawah tidak lagi setia dan menjadi sulit dikendalikan.”
Pada Mei lalu, PKT mengeluarkan “larangan minum alkohol paling ketat sepanjang sejarah” untuk membenahi disiplin internal. Aturan ini mencakup jam kerja dan bahkan waktu setelah pulang kerja. Para pegawai pemerintah tingkat bawah menjadi sangat waspada dalam pergaulan sosial, takut direkam atau dilaporkan, yang memperburuk krisis kepercayaan sosial.
Sheng Xue juga menambahkan bahwa sistem diplomatik PKT kini kewalahan. Semakin banyak negara telah menyadari sifat diktator otoriter PKT. Pemerintah dan politisi dunia kini semakin tidak mentoleransi PKT.
“Bisa dikatakan bahwa PKT sekarang berada dalam kondisi ‘rezim menjelang akhir’. Mesin masih berjalan, tetapi banyak komponen penting untuk menjalankannya sudah lapuk dan rusak.”
Sheng Xue menyimpulkan bahwa rezim PKT kini terhimpit oleh tekanan internasional dan perlawanan internal, sementara masyarakat hidup dalam ketakutan dan tampaknya semua orang sedang menanti perubahan. Dalam kondisi seperti ini, perubahan bisa datang lebih cepat dari perkiraan. (hui/asr)
Huang Yimei | Luo Ya | Zhong Yuan


