EtIndonesia. Anggota parlemen AS telah mengusulkan agar Presiden AS, Donald Trump diberi wewenang untuk mengirim pesawat pengebom siluman B-2 dan bom “penghancur bunker” seberat 30.000 pon ke Israel jika Iran diketahui masih mengembangkan senjata nuklir. Hal ini terjadi beberapa hari setelah AS menyerang tiga lokasi nuklir Iran – Fordow, Natanz, dan Esfahan dengan 14 bom penghancur bunker B-2.
Anggota DPR Josh Gottheimer, D-N.J., dan Mike Lawler, R-N.Y. telah mengusulkan undang-undang yang disebut Bunker Buster Act yang akan memungkinkan POTUS untuk “mengambil tindakan untuk memastikan Israel siap menghadapi semua kemungkinan jika Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir.”
Gencatan senjata diumumkan antara Iran dan Israel setelah lebih dari seminggu ketegangan meningkat di mana kedua negara meluncurkan rudal dan saling menyerang. Meskipun Israel adalah yang pertama melancarkan serangan pendahuluan yang menargetkan situs nuklir Iran, Iran mengatakan bahwa mereka memiliki hak untuk menanggapi.
Ketegangan tersebut berakhir setelah serangan AS dan pembalasan Iran terhadap pangkalan Amerika di Qatar. Hingga tahun 2024, AS memiliki 19 B-2 yang beroperasi. AS tidak mengalihkan hak pengunakan atas pesawat pengebom siluman B-2-nya kepada sekutu mana pun.
“Iran, negara sponsor utama teror, dan salah satu musuh utama Amerika, tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya saya sangat mendukung tindakan militer kami awal bulan ini. Iran telah membunuh banyak orang Amerika, termasuk anggota angkatan bersenjata kami, dan berulang kali menyerang sekutu demokrasi utama kami, Israel. Israel harus mampu mempertahankan diri terhadap Iran, dan memastikan bahwa Iran tidak dapat membangun kembali kemampuan nuklirnya,” kata Gottheimer dalam sebuah pernyataan.
“RUU ini memberi Presiden kewenangan untuk membekali Israel dengan peralatan dan pelatihan yang mereka butuhkan untuk menghalangi Teheran dan menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih aman,” Lawler menambahkan.
Israel mengisyaratkan serangan ke Yaman menggunakan pesawat pengebom B2
Usulan tersebut penting karena muncul setelah Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee menyarankan agar pesawat pengebom B-2 dikirim ke Yaman setelah serangan Houthi terhadap Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mengatakan bahwa Houthi akan menghadapi nasib yang sama seperti Iran jika mereka terus menargetkan Israel.
“Kami pikir kami sudah selesai dengan rudal yang datang ke Israel, tetapi Houthi baru saja menembakkan satu rudal di atas kami di Israel. Untungnya, sistem intersepsi Israel yang luar biasa berarti kami harus berlindung dan menunggu sampai semuanya aman,” tulis Huckabee di X.
“Mungkin pesawat pengebom B2 itu perlu mengunjungi Yaman!” tambahnya.
Katz mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Nasib Yaman sama dengan nasib Teheran…Setelah menyerang kepala ular di Teheran, kami juga akan menyerang Houthi di Yaman. Siapa pun yang mengangkat tangan melawan Israel — tangan itu akan dipotong.”
Iran menangguhkan kerja sama dengan pengawas nuklir PBB
Pernyataan tersebut juga dapat dilihat dari latar belakang Iran yang menangguhkan kerja sama dengan pengawas nuklir PBB, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
“Masoud Pezeshkian mengumumkan undang-undang yang menangguhkan kerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional,” kata TV pemerintah, yang berarti tindakan yang dibuat setelah perang Iran-Israel bulan lalu kini berlaku.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengecam kepala IAEA Rafael Grossi dan berkata :”Kekerasan Grossi untuk mengunjungi lokasi yang dibom dengan dalih perlindungan tidak ada artinya dan bahkan mungkin bermaksud jahat…Iran berhak mengambil langkah apa pun untuk membela kepentingannya, rakyatnya, dan kedaulatannya.”
Senada dengan itu, Presiden Iran, Pezeshkian mengatakan kepada mitranya dari Prancis, Emmanuel Macron, bahwa Teheran telah menghentikan kerja sama dengan IAEA karena apa yang disebutnya sebagai perilaku “destruktif” Grossi terhadap Iran. (yn)


