EtIndonesia. Tiga tahun lalu, pada 21 Maret 2022, sebuah pesawat penumpang Boeing 737 milik maskapai China Eastern Airlines jatuh di Wuzhou, Provinsi Guangxi. Di dalam pesawat itu terdapat 132 orang—123 penumpang dan 9 awak. Tak ada satu pun yang selamat.
Banyak keluarga hancur, kehilangan, dan menanti dengan getir jawaban yang tak kunjung datang. Bukankah seharusnya ada laporan penyelidikan yang bisa diceritakan kepada publik?
Jawabannya: ada—pasti ada. Namun apakah itu akan diberitahukan kepada publik atau tidak,
itu cerita yang berbeda.
Tiga tahun berlalu. Sebagian orang mulai tidak sabar dan secara resmi mengajukan permohonan keterbukaan informasi ke otoritas penerbangan sipil. Dalam prinsip hukum administrasi modern, keterbukaan adalah hal biasa, ketertutupan adalah pengecualian.
Beberapa hari terakhir, sebuah “Surat Jawaban Permohonan Informasi Publik” beredar di internet.
Di dalamnya disebutkan:
Memang, pesawat tersebut dilengkapi dengan kotak hitam (black box), dan benda itu sudah ditemukan. Namun, pihak Boeing hanya bertugas membantu menganalisis data tersebut. Mengenai apakah hasilnya akan dipublikasikan atau tidak, tentu menunggu keputusan dari pimpinan kami di sini.
Para pemimpin akan mempertimbangkan segala aspek secara menyeluruh.
Apa yang pantas diketahui publik, akan diberitahukan.
Apa yang tak boleh diketahui, tentu tak akan dipublikasikan.
Dan ini semua adalah… demi kebaikan bersama.
Sebenarnya, tanpa perlu bertanya pun kita sudah bisa menebak jawabannya. Kalau memang bisa dibuka ke publik, pasti sudah dibuka sejak dulu. Sampai hari ini tidak ada informasi yang disampaikan secara aktif,itu artinya—memang tidak boleh diberitahukan.
Lalu, apakah saya mendukung keputusan untuk tidak membuka informasi ini?
Kalau bukan mendukung keputusan pimpinan, siapa lagi yang harus saya dukung?
Namun, surat jawaban itu juga bukan berarti tidak mengatakan apa-apa. Setidaknya, dalam alasan penolakan disebutkan bahwa keterbukaan informasi berpotensi memengaruhi “keamanan negara” dan “stabilitas sosial.”
Dari delapan kata ini saja, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa penyebab kecelakaan bukan semata-mata karena faktor teknis.
Lagi pula, dari laporan-laporan “progres penyelidikan” yang sempat dibuka ke publik tahun lalu, juga tidak terlihat adanya alasan teknis murni.
Tampaknya memang tidak banyak yang dikatakan. Namun di balik diam itu, justru tersimpan banyak makna. Untuk memahaminya, kita memang perlu kecakapan dalam membaca “bahasa media.”
Pimpinan sebenarnya sangat memahami luka dan duka masyarakat. Mereka juga memperhatikan perasaan publik.
Pada 20 Maret 2024, tepat dua tahun sejak tragedi terjadi, otoritas penerbangan sipil pernah menyatakan bahwa mereka akan “segera menyampaikan informasi terkait sesuai dengan perkembangan investigasi.”
Namun saat memasuki tahun ketiga, tidak ada kabar apa pun. Beberapa orang pun mencoba bertanya lagi. Dan hasilnya?
Seperti kisah Zhang Jiahui menceritakan cerita ke kasim istana—baru mulai, lalu tiba-tiba: “Selanjutnya… tidak ada lagi.”
Dalam surat jawaban itu, memang dicantumkan nomor telepon, dan juga ada kalimat: “Jika tidak puas, Anda berhak menggugat melalui jalur hukum.”
Tapi jika keputusan sudah ditetapkan, tentu semua orang juga akan “setuju”.
Kalau Anda masih menelepon, itu berarti Anda belum memahami betapa berat dan dalamnya pertimbangan para pemimpin.
Kita harus melihat kepentingan besar. Semua ini, demi negara, dan demi kebaikan semua.
Catatan Penutup
Di dunia ini, memang ada hal-hal yang tidak akan pernah diungkap ke permukaan.
Tapi bukan berarti tidak ada yang mengetahuinya.
Sejarah tidak selalu dibacakan secara lantang—
Kadang, ia berbisik dari balik diam yang panjang.(jhn/yn)


