EtIndonesia. Seorang anak laki-laki hidup berdua bersama adik perempuannya. Orangtua mereka telah lama tiada—adik kecil itu adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Maka, dia mencintai adiknya lebih dari dirinya sendiri.
Namun, nasib buruk kembali menghampiri dua anak malang ini. Sang adik jatuh sakit parah dan harus segera menjalani transfusi darah untuk bertahan hidup. Sayangnya, biaya darah di rumah sakit sangat mahal, dan si kakak tidak memiliki uang sepeser pun. Meski pihak rumah sakit telah membebaskan biaya operasi, tanpa transfusi darah, adiknya tetap akan meninggal dunia.
Sebagai satu-satunya kerabat sedarah, golongan darah si kakak ternyata cocok dengan adiknya. Dokter pun bertanya kepadanya, apakah dia cukup berani—apakah dia memiliki keberanian untuk menanggung rasa sakit dari pengambilan darah.
Anak laki-laki itu terlihat ragu. Dia baru berusia 10 tahun, dan pikirannya yang masih polos tampak bergulat cukup lama sebelum akhirnya dia mengangguk pelan.
Saat darah diambil, dia diam saja, tidak mengeluh sedikit pun. Dia hanya menoleh dan tersenyum manis kepada adiknya yang terbaring di ranjang sebelah.
Setelah proses pengambilan darah selesai, anak itu bertanya dengan suara bergetar, “Dokter, aku masih bisa hidup berapa lama lagi?”
Dokter awalnya ingin tertawa melihat kepolosan anak itu. Namun, dalam sekejap, dia tersentak dan merasa terguncang oleh keberanian si bocah. Di dalam benak anak berusia 10 tahun itu, transfusi darah berarti memberikan nyawa—dan dia telah siap mati demi menyelamatkan adiknya.
Di saat itu juga, anak itu telah membuat keputusan paling berani dalam hidupnya: dia telah siap untuk mengorbankan hidupnya demi sang adik.
Tangan dokter pun mulai berkeringat. Dia menggenggam erat tangan anak itu dan berkata dengan lembut: “Tenang, Nak. Kamu tidak akan mati. Transfusi darah tidak akan membuatmu kehilangan nyawa.”
Mata anak itu langsung berbinar, penuh harapan, dan dia bertanya penuh semangat: “Benarkah? Jadi aku masih bisa hidup berapa tahun lagi?”
Dokter tersenyum dan dengan penuh kasih berkata: “Kamu bisa hidup sampai usia 100 tahun. Kamu anak yang sangat sehat!”
Mendengar itu, si anak melonjak kegirangan. Dia melompat-lompat dengan sukacita. Setelah memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, dia kembali menyingsingkan lengan yang tadi diambil darahnya, lalu dengan serius berkata kepada dokter: “Kalau begitu, ambil saja setengah darahku untuk adikku. Biar kami masing-masing hidup 50 tahun!”
Semua orang yang mendengar kata-katanya langsung terdiam—terpana. Ini bukanlah ucapan polos seorang anak kecil semata. Ini adalah janji yang paling murni dan tak egois dari hati manusia—sebuah janji tulus yang hanya bisa lahir dari cinta yang sejati.(jhn/yn)


