Sejak musim panas tahun ini, berbagai provinsi di Tiongkok seperti Hubei, Guangdong, Guizhou, dan Henan dilanda hujan lebat yang luar biasa, menyebabkan banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Dalam semalam, wilayah perkotaan tergenang air, dan rakyat mengalami kerugian besar. Hingga saat ini, hujan deras di Provinsi Henan telah menyebabkan sedikitnya 5 orang tewas. Berikut laporan kondisi bencana terbaru di daratan Tiongkok.
EtIndonesia. Kabupaten Xianfeng, Provinsi Hubei, Tiongkok yang menjadi wilayah paling parah terdampak bencana, terjadi hujan sangat deras selama dua hari berturut-turut. Dalam waktu hanya 12 jam, curah hujan di sana melampaui total curah hujan selama sebulan.
Dalam semalam, wilayah kabupaten dengan populasi 300.000 orang itu tenggelam dalam banjir. Banyak toko terendam, dan arus deras menyeret kendaraan.
Total curah hujan mencapai 358,8 milimeter, dan di beberapa lokasi, ketinggian air melebihi 2,5 meter. Wilayah perkotaan pun terendam dalam semalam.
Banjir juga memicu tanah longsor yang menelan banyak kendaraan. Setelah air surut, kondisi di lokasi sangat memprihatinkan, dengan jalanan dipenuhi lumpur, perabotan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang berserakan.
⛈️超強暴雨夜襲河南 板房被沖走 5死3失聯
— 新唐人電視台 (@NTDChinese) July 3, 2025
連日來,河南多地遭遇大暴雨天氣。短時極端強降雨引發山洪暴發,下游河道猛漲,道路設施損毀,有民眾被困。
據官媒報導,截至7月1日19時30分,5名失聯人員被找到時均已死亡;另外還有3人失聯。截至當晚,河南西峽縣受災人數為5751人。… https://t.co/hRiuP2bgIy
Seorang warga terdampak dari Xianfeng, Hubei mengatakan: “Banjir, tanah longsor, sekitar belasan mobil cuma kelihatan atapnya saja.”
Beberapa warganet juga mengungkapkan bahwa seorang pemilik toko dan istrinya di Kabupaten Xianfeng tersengat listrik hingga tewas saat banjir. Adik perempuan pemilik toko tersebut sedang mengadakan acara duka di rumah. Namun, laporan terkait peristiwa ini kemudian dihapus.
Di Guizhou, sejak 19 Juni, Kota Dujiang di Prefektur Qiannan telah tiga kali dilanda banjir besar, memicu bencana banjir parah serta tanah longsor dan pergerakan tanah skala besar. Banyak rumah hancur dan toko-toko di kota tersapu air.
Sebuah video menunjukkan seorang pemilik toko wanita di Kabupaten Rongjiang menangis histeris sambil duduk di tanah setelah banjir surut.
Seorang warga bernama Nyonya Zhao dari Rongjiang, Guizhou mengatakan: “Toko kami semuanya terendam, air hampir mencapai langit-langit. Kerugian dari tiga toko kami ini setidaknya mencapai lebih dari satu juta yuan. Alat pengukur biometrik satu unitnya saja lebih dari RMB.80 ribu , dan setiap toko kami punya satu unit. Sekarang kami tidak tahu harus bagaimana, di rumah masih ada tiga anak yang harus kami besarkan, masih ada cicilan rumah dan mobil.”
Di wilayah pegunungan Kabupaten Xixia, Kota Nanyang, Provinsi Henan, sejak Senin juga terjadi hujan ekstrem. Dalam waktu tiga jam, curah hujan mencapai 225,3 milimeter. Hujan deras menyebabkan air sungai meluap, jalanan hancur, dan jembatan rusak.
Hingga kini, hujan lebat ini telah menyebabkan 5 orang tewas dan 3 orang hilang. Partai Komunis Tiongkok dikenal sering menutup-nutupi bencana, sehingga kemungkinan besar kondisi sebenarnya jauh lebih buruk.
Pada waktu yang bersamaan, Provinsi Sichuan dan Kota Dezhou di Shandong juga dilanda hujan badai, menyebabkan jalanan perkotaan terendam dan kendaraan terjebak banjir.
Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok memperkirakan bahwa sejak 1 Juli, Tiongkok telah sepenuhnya memasuki musim banjir. Secara umum, akan terjadi kekeringan di utara dan banjir di selatan, serta kejadian banjir lokal akibat hujan deras diperkirakan akan sering dan berulang. (Hui/asr)
Laporan oleh Chen Yue dari NTDTV


