Kapal penyeberangan yang membawa 65 orang tenggelam di Selat Bali, pada 2 Juli malam, menyebabkan sedikitnya 4 orang tewas dan 38 orang hilang, sementara 23 lainnya berhasil diselamatkan. Polres Banyuwangi menyampaikan kabar tersebut pada Kamis (3 Juli). Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung.
EtIndonesia. Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan dalam pernyataannya Kamis (3 Juli), bahwa feri KMP Tunu Pratama Jaya awalnya dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Ketapang di Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali — menempuh jarak sekitar 50 kilometer.
Saat kejadian, feri tersebut mengangkut 53 penumpang, 12 awak kapal, dan 22 kendaraan, termasuk 14 truk.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa feri tenggelam sekitar 30 menit setelah meninggalkan Pelabuhan Ketapang. Namun, penyebab kecelakaan belum dijelaskan.

Hingga pukul 07:50 pagi waktu setempat, sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan dan 4 orang dilaporkan meninggal dunia.
Kapolres Banyuwangi, Kombes Rama Samtama Putra, menyampaikan bahwa banyak korban selamat terombang-ambing di laut yang bergelombang tinggi selama beberapa jam, dan sebagian dari mereka ditemukan dalam keadaan tidak sadar.

Setelah kejadian, total 9 kapal dikerahkan sepanjang malam untuk mencari korban di tengah ombak setinggi 2 meter, termasuk 2 kapal tugboat dan 2 perahu karet.
Menurut AFP, sejauh ini belum diketahui apakah terdapat warga negara asing di antara penumpang. Di Indonesia, jumlah penumpang di atas kapal seringkali tidak sesuai dengan manifes resmi, dan petugas SAR mengatakan mereka masih memverifikasi kemungkinan adanya penumpang yang tidak tercatat. (Hui/asr)


