Sejak musim panas dimulai, gelombang panas laut di Laut Mediterania ditambah dengan fenomena “kubah panas” telah menyebabkan Eropa mengalami Juni terpanas dalam sejarah. Di Paris, Prancis, Menara Eiffel mengalami pembengkokan karena pemuaian logam akibat panas, hingga terpaksa ditutup sementara. Kemudian, badan meteorologi kembali mengeluarkan peringatan bahwa badai yang lebih hebat akan melanda minggu ini. Suhu tinggi yang dikombinasikan dengan badai kuat membuat warga Eropa harus waspada.
EtIndonesia. Setelah memasuki musim panas, gelombang panas laut di kawasan Mediterania bergabung dengan fenomena “kubah panas”, membuat banyak wilayah Eropa lebih awal terjerat dalam suhu tinggi dan pengap. Spanyol dan Portugal mencatat Juni terpanas sepanjang sejarah. Di berbagai kota di Italia, suhu mencapai 40°C. Bahkan kota-kota yang biasanya sejuk seperti London dan wilayah Nordik pun tak luput dari gelombang panas ini.
Badan Meteorologi Nasional Spanyol menyebutkan bahwa pada Minggu, suhu melonjak hingga 46°C, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni di seluruh negeri.
Pada Selasa (1 Juli), sebanyak 16 provinsi di Prancis telah mengeluarkan peringatan merah untuk gelombang panas, menyebabkan sekitar 1.900 sekolah terpaksa diliburkan.
Bagian atas Menara Eiffel di Paris juga ditutup sementara karena suhu mendekati 38°C. Pejabat setempat menjelaskan bahwa pada suhu tinggi, logam pada menara mengalami pemuaian hingga sedikit miring, namun hal ini tidak membahayakan stabilitas strukturnya.
Akibat gelombang panas dan cuaca ekstrem, terjadi tanah longsor di sisi Pegunungan Alpen Prancis, yang menyebabkan layanan kereta antara Paris dan Milan terputus. Perusahaan kereta api nasional Prancis (SNCF) memperkirakan bahwa layanan penuh baru akan pulih pada pertengahan Juli.
Saat ini, lebih dari setengah wilayah Italia telah melarang aktivitas kerja di luar ruangan pada jam-jam terpanas. Pihak berwenang juga telah mengeluarkan peringatan merah untuk gelombang panas di 17 kota, termasuk Milan dan Roma.
Namun demikian, jumlah pasien gawat darurat di berbagai rumah sakit meningkat drastis, dan telah dilaporkan adanya korban jiwa.
Para ahli menjelaskan bahwa sebagian besar korban gelombang panas sebenarnya meninggal dunia karena penyakit yang sudah diderita sebelumnya seperti penyakit jantung, paru-paru, atau ginjal, yang mudah memburuk di bawah suhu tinggi. Selain itu, para pekerja konstruksi, petani, dan tunawisma yang terpapar panas dalam waktu lama juga sangat rentan mengalami sengatan panas atau kelelahan akibat panas.
Gelombang panas ekstrem ini juga memicu kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa. Pada Selasa, terjadi kebakaran hutan di wilayah Catalonia, Spanyol, yang menyebabkan dua orang tewas. Meski api sebagian besar sudah dapat dikendalikan, pihak berwenang memperingatkan bahwa pada Rabu (2 Juli) diperkirakan akan datang angin kencang dan badai petir, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi instruksi penanggulangan bencana. (Hui/asr)
Laporan oleh Liu Jiajia, NTDTV, Amerika Serikat


