Tiga Tantangan Ekonomi Tambahan yang Dihadapi Tiongkok

Ekonomi Tiongkok menghadapi berbagai tantangan yang jarang dilaporkan oleh media Barat.

Milton Ezrati

Selain tarif-tarif yang diberlakukan—maupun yang masih berupa ancaman—oleh pemerintahan Trump, Tiongkok juga menghadapi sejumlah tantangan ekonomi domestik serius lainnya. Sebuah kolom sebelumnya telah merinci beberapa di antaranya. Anda dapat membacanya di sini. Namun, daftar tersebut masih jauh dari lengkap. Berikut ini adalah tiga tantangan tambahan yang tak kalah pentingnya.


1. Teknologi dan Inovasi

Tantangan pertama adalah di bidang yang digencarkan oleh propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT): teknologi dan inovasi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (AI).
Narasi dari Beijing adalah bahwa Tiongkok sedang membuat kemajuan pesat dan dalam waktu dekat akan melampaui Amerika Serikat di bidang ini.

Tampaknya banyak media Barat menerima begitu saja narasi PKT tersebut. Dan, meskipun tak diragukan lagi bahwa Tiongkok telah mencapai kemajuan teknologi yang mengesankan, statistik yang tersedia menunjukkan bahwa Tiongkok sebenarnya masih tertinggal dalam persaingan ini.

Meskipun sulit mengukur kemajuan teknologi secara akurat, perbandingan dalam pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D) menunjukkan dominasi Amerika Serikat yang signifikan.
Menurut data terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Amerika Serikat mengalokasikan sekitar 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB)-nya untuk R&D, sementara Tiongkok hanya sekitar 2,6 persen. Ini memang merupakan peningkatan besar dibandingkan masa lalu, tetapi masih jauh tertinggal dari AS.

Dan, karena ekonomi AS lebih besar dari Tiongkok, maka kesenjangan dalam jumlah riil dana yang diinvestasikan menjadi jauh lebih lebar.

Namun ini bukan satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan dalam hal posisi teknologi. Pemerintah AS secara aktif menghalangi transfer teknologi ke Tiongkok.

Pemerintahan Trump telah memberlakukan pembatasan baru terhadap ekspor chip, dan memasukkan banyak entitas Tiongkok ke daftar hitam dalam perdagangan yang berkaitan dengan semikonduktor dan teknologi strategis canggih lainnya.

Tiongkok memang memiliki sumber semikonduktor lain selain Amerika Serikat—meskipun Taiwan tidak termasuk dalam daftar tersebut. Dan meskipun belanja R&D AS melebihi Tiongkok, upaya domestik Tiongkok tetap menjanjikan penciptaan pengganti produk Barat versi buatan dalam negeri.

Namun demikian, larangan-larangan tersebut memperlambat laju kemajuan Tiongkok, dan karena Amerika Serikat sudah lebih unggul, ini merupakan faktor yang tidak bisa diremehkan.


2. Keterbatasan Fiskal (“Fiscal Room”)

Tantangan yang berbeda datang dari apa yang oleh sebagian pihak disebut sebagai “ruang fiskal”—yaitu kemampuan keuangan suatu negara untuk merangsang aktivitas ekonomi dan mengarahkan fokus kebijakan.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok memiliki “ruang” yang besar. Beban utang publiknya begitu kecil hingga bisa dikatakan menjadi irinya dunia.

Pada tahun 2008, selama krisis keuangan global, Beijing menggunakan ruang fiskalnya untuk meluncurkan stimulus ekonomi secara besar-besaran yang sangat membantu meringankan dampak krisis terhadap ekonominya. Namun itu cerita lama.

Upaya Beijing dalam menghadapi krisis tersebut, serta selama pandemi COVID-19, ditambah berbagai upaya setelahnya untuk mengembalikan momentum ekonomi dari krisis properti yang melanda, telah meningkatkan utang publik sehingga kini setara dengan PDB Tiongkok.

Memang benar, beban utang relatif ini masih lebih rendah dibandingkan yang dihadapi Amerika Serikat, tetapi karena Tiongkok adalah negara dengan pendapatan lebih rendah dan kekayaan modal yang lebih sedikit, kemampuannya untuk menanggung beban utang ini lebih terbatas dibanding AS.

Selain itu, Tiongkok juga menghadapi masalah utang besar di tingkat pemerintah daerah, yang skalanya melampaui apa pun yang terjadi di Amerika Serikat.

Di saat kendala fiskal ini membatasi kemampuan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengelola situasi, Tiongkok juga terbebani oleh warisan kesalahan kebijakan masa lalu.

Segera setelah pandemi dan untuk mengurangi dampak ekonomi dari krisis properti yang dimulai pada tahun 2021, Beijing mengucurkan dana besar ke investasi di kendaraan listrik, teknologi, dirgantara, material, dan berbagai industri pilihan lainnya.

Namun, pada saat yang sama, pembeli asing dari Barat dan Jepang mulai mendiversifikasi sumber pasokan mereka dan menjauh dari Tiongkok.

Akibatnya, investasi-investasi tersebut menciptakan kelebihan kapasitas besar di sejumlah sektor ekonomi Tiongkok.

Dengan permintaan luar negeri yang menurun dan ekonomi domestik yang tidak terlalu kuat, Tiongkok telah menghabiskan banyak uang untuk menciptakan kapasitas produksi yang tampaknya tidak dibutuhkan siapa pun.

Berbagai investasi tersebut pada akhirnya menjadi sia-sia.


3. Kelebihan Kapasitas yang Tidak Efektif

Kelebihan kapasitas yang hampir tidak berguna ini tercermin dalam tiga statistik utama:

  1. Pemanfaatan kapasitas produksi dalam perekonomian Tiongkok kini berada di titik terendah selama tiga tahun terakhir.
  2. Kelebihan kapasitas telah menciptakan deflasi harga produsen yang berlangsung selama beberapa tahun.
  3. Pengembalian investasi telah menurun drastis sehingga hanya sedikit manajer yang tertarik untuk melakukan modernisasi, apalagi ekspansi.

Menurut lembaga think tank Eropa Bruegel, tingkat pengembalian aset (return on assets) bagi perusahaan milik negara Tiongkok telah jatuh ke angka hanya 3,4 persen.

 Angka untuk perusahaan swasta memang lebih tinggi—sedikit di atas 5 persen—tetapi itu pun turun jauh dari rata-rata hampir 10 persen yang terjadi sebelum pandemi.


Bahkan setelah menambahkan tiga tantangan tambahan ini, daftar tantangan ekonomi Tiongkok masih belum lengkap.

Tiongkok, misalnya, belum merasakan dampak jangka panjang dari penurunan populasi, dan yang lebih signifikan secara ekonomi, adalah laju penurunan angkatan kerja yang jauh lebih cepat.

Dari sudut mana pun, situasi ini tidak tampak baik, terutama mengingat Washington telah berjanji untuk menambah tekanan ekonomi yang lebih besar lagi terhadap Tiongkok. (asr)


Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di University at Buffalo (SUNY), dan kepala ekonom di Vested, sebuah perusahaan komunikasi yang berbasis di New York. Sebelum bergabung dengan Vested, ia menjabat sebagai kepala ahli strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga sering menulis untuk City Journal dan secara rutin menulis blog untuk Forbes. Buku terbarunya berjudul “Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.”

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine