WHO Umumkan Varian COVID XFG Sebagai ‘Varian yang Dipantau’

Varian ini berbeda dari varian yang saat ini dominan di Amerika Serikat dan yang memicu lonjakan infeksi di Tiongkok tahun ini.

EtIndonesia. Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  menyatakan bahwa varian COVID-19 baru yang muncul awal tahun ini kini dikategorikan sebagai “varian yang dipantau,” menjadikannya varian kedua dalam sebulan terakhir yang menerima penetapan tersebut.

Laporan WHO yang terbaru menyebutkan Varian XFG, yang merupakan salah satu turunan dari strain JN.1, dievaluasi oleh WHO sebagai berisiko rendah di tingkat global. Urutan genetik XFG pertama kali dilaporkan pada Januari 2025. 

“Vaksin COVID-19 yang saat ini disetujui diperkirakan tetap efektif terhadap varian ini dalam mencegah penyakit bergejala dan berat. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara melaporkan peningkatan kasus baru dan rawat inap secara bersamaan, di mana XFG telah terdeteksi secara luas,” demikian pernyataan badan kesehatan PBB dalam laporan tertanggal 25 Juni.

WHO menyatakan bahwa data terkini tidak menunjukkan bahwa varian XFG menyebabkan penyakit yang lebih parah atau tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan varian lain yang sedang beredar.

Kasus dan rawat inap meningkat di negara-negara di mana kasus XFG relatif lebih tinggi, tambah WHO, dengan beberapa negara Asia Tenggara melaporkan lebih banyak kasus dan rawat inap yang terkait dengan varian ini.

Di Amerika Serikat, varian ini diperkirakan menyumbang hanya 14 persen dari total kasus per 21 Juni, menurut pembaruan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada 26 Juni.

Secara keseluruhan, XFG menunjukkan keunggulan pertumbuhan yang “moderat” karena frekuensi urutan genetiknya meningkat dari 7,4 persen pada awal Mei menjadi 22,7 persen antara akhir Mei hingga awal Juni, menurut laporan WHO.

XFG tampaknya memiliki risiko rendah dalam hal pelolosan kekebalan (kemampuan untuk menghindari respons imun tubuh), meskipun tingkat keyakinan terhadap penilaian ini masih rendah karena ekspansi yang baru terjadi dan tingkat pengurutan genetik yang rendah. Selain itu, hanya satu studi yang telah dilakukan untuk menilai antigenisitas—yaitu kemampuan suatu varian untuk bereaksi terhadap produk dari respons imun tubuh.

“Di India, XFG telah menjadi varian dominan sepanjang musim semi, sementara NB.1.8.1 tetap sangat jarang,” tulis WHO dalam pembaruan terbarunya, seraya menambahkan bahwa XFG tidak umum ditemukan di wilayah Afrika dan Mediterania Timur.

Gejala yang Dilaporkan

Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebutkan, Varian COVID-19 lainnya, NB.1.8.1, merupakan varian yang paling banyak dilaporkan di negara tersebut. Varian ini juga disebut sebagai penyebab utama lonjakan kasus di  daratan Tiongkok sepanjang tahun ini.

Seperti XFG, NB.1.8.1 juga ditetapkan sebagai “varian yang dipantau” oleh WHO pada  Mei. Laporan internasional dan beberapa dokter di Tiongkok menyebutkan bahwa varian NB.1.8.1 dapat menyebabkan sakit tenggorokan yang tajam disertai gejala COVID-19 lainnya seperti demam, batuk, dan nyeri tubuh.

Namun, mengingat riwayat Partai Komunis Tiongkok yang sering menutup-nutupi informasi dan menerbitkan data yang tidak dapat diandalkan—termasuk meremehkan jumlah infeksi dan kematian terkait COVID-19 sejak 2020—informasi dari dokter dan tenaga kesehatan lokal lebih bernilai untuk memahami situasi nyata di lapangan.

WHO baru-baru ini juga merilis laporan pembaruan tentang asal-usul COVID-19, menyatakan bahwa peneliti mereka gagal menemukan jawaban pasti tentang bagaimana virus tersebut bermula. Pejabat intelijen AS selama bertahun-tahun telah menyatakan bahwa kemungkinan besar virus ini bocor dari sebuah laboratorium di dekat Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019 sebelum menyebar ke seluruh Tiongkok dan dunia.

Pembaruan dari WHO ini juga muncul beberapa minggu setelah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS merekomendasikan agar anak-anak sehat dan wanita hamil dikeluarkan dari jadwal imunisasi COVID-19 yang direkomendasikan oleh CDC.

Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga memperluas peringatan untuk vaksin mRNA COVID-19 buatan Pfizer dan Moderna terkait potensi risiko dua jenis peradangan jantung: miokarditis dan perikarditis.

The Epoch Times menghubungi CDC pada 30 Juni untuk meminta komentar terkait varian-varian tersebut. (asr)

Sumber : Theepochtimes.com 

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine