Apakah Anda Bahagia?

oleh Wu Huilin

Belum lama ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis Laporan Kebahagiaan Dunia tahun 2025 yang menunjukkan bahwa Taiwan tercatat berada di peringkat ke-27 dari sekitar 150 negara di dunia. Naik tiga peringkat dari tahun sebelumnya. Negara ini berada di peringkat ketiga di antara negara-negara Asia, di bawah Israel dan Uni Emirat Arab. Tetapi menduduki peringkat pertama di antara negara-negara Asia Timur, lebih baik daripada Jepang (di peringkat 55) dan Korea Selatan (di peringkat 58).

Makan Bersama Membangkitkan Rasa Bahagia

Laporan tahun ini yang secara khusus mengkaji faktor-faktor di luar penentu tradisional seperti kesehatan dan kekayaan, mengungkapkan bahwa makan bersama dan mempercayai orang lain ternyata adalah faktor penentu kebahagiaan yang lebih kuat dari apa yang kita perkirakan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa dampak dari makan bersama terhadap rasa bahagia subjektif sebanding dengan dampak pendapat dan pengangguran, dan orang-orang yang lebih sering menikmati makan bersama akan memiliki kepuasaan hidup yang jauh lebih tinggi. 

Jan-Emmanuel De Neve, editor laporan tersebut, yang mengambil Taiwan sebagai contoh menyebutkan: “Orang Taiwan mengatakan bahwa mereka lebih sering menikmati makan bersama.” Rata-rata, orang Taiwan menikmati 5,5 dari 7 kali makan malam, serta 4,7 dari 7 kali makan siang bersama dengan orang lain. Jadi bila ditotal, ada 10,2 dari 14 kali makan siang atau malam yang mereka nikmati bersama dengan orang lain. Dalam hal ini, Taiwan menduduki peringkat ke-8 dunia. 

Laporan juga menyebutkan: “Studi terdahulu menemukan bahwa kebiasaan makan sendirian semakin meningkat di negara-negara Asia Timur, khususnya di Jepang dan Korea Selatan. Dua alasan yang paling sering dikemukakan adalah meningkatnya jumlah rumah tangga dengan satu orang penghuni, dan masalah populasi yang menua.” 

Jan-Emmanuel De Neve mengatakan: “Di era isolasi sosial dan polarisasi politik ini, kita perlu menemukan cara agar orang-orang bisa kembali duduk di depan meja untuk menikmati makan bersama, karena rasa bahagia ini sangat penting bagi individu maupun kelompok.” 

Alberto Prati, asisten profesor ekonomi di University College London, yang berpartisipasi dalam persiapan laporan juga menulis, mereka menemukan di hampir semua wilayah bahwa makan bersama berkorelasi positif secara signifikan dengan kebahagiaan. Ia mengatakan, rasa bahagia saat bersantap bersama tidak hanya dirasakan saat membandingkan antar negara, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah di dalam negeri. Artinya, di negara yang sama, orang yang sering menikmati makan bersama akan memiliki rasa bahagia yang lebih tinggi. 

Alberto Prati mengatakan bahwa makan sendirian di antara orang-orang modern sekarang menjadi semakin umum. Dibandingkan dengan tahun 2003, warga Amerika Serikat berusia 18 hingga 24 tahun yang makan sendirian di setiap waktu makan jumlahnya mungkin sudah bertambah 90%. Warga Amerika Serikat yang setidaknya satu kali dalam sehari menikmati makan bersama orang lain ternyata memiliki tingkat rasa bahagia yang lebih tinggi, mereka lebih tidak stres, tidak terlalu merasakan tekanan, rasa sakit dan kesedihan pun lebih rendah.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial, menikmati makan bersama orang lain lebih membahagiakan daripada makan sendirian, ini jelas mudah dibayangkan. Namun, seiring dengan evolusi masyarakat modern dan semakin “terpecahnya” anggota keluarga, bisa jadi jumlah kesempatan untuk makan bersama anggota keluarga semakin berkurang. 

Khususnya di era AI, bahkan jika orang-orang berkumpul dalam ruangan yang sama, nyaris tidak berbeda dengan keadaan sedang sendirian, karena semakin banyak individu yang sibuk dengan melihat ponsel miliknya. Jika demikian halnya, apakah makan bersama masih dapat membangkitkan rasa bahagia? 

Apa itu kebahagiaan?

Tidak diragukan lagi kebahagiaan adalah hal yang dikejar sepanjang waktu oleh orang-orang biasa. Ekonomi dasar menggunakan “utilitas” (utility) untuk mewakili kebahagiaan, dan “maksimalisasi utilitas” adalah apa yang dikejar konsumen. 

Apa sebenarnya kebahagiaan itu? Sesungguhnya tidak ada kriteria khusus untuk mengukur kebahagiaan. Karena itu, pada akhirnya jawaban sederhana adalah, “Kebahagiaan adalah hal yang mudah — jangan memaksakan diri untuk bersedih itulah bahagia.” Jawaban yang sederhana dan tampaknya tak berdaya itu mungkin merupakan arti kebahagiaan.

Sebagai bentuk protes, bayi akan menangis ketika terlahir, seolah-olah ia sudah menyadari bahwa sejak saat itu ia akan menjalani kehidupan yang keras di dunia ini. Memang, “tua,” “sakit,” dan “mati” adalah penderitaan yang pasti dialami oleh setiap manusia, belum lagi rasa lapar, kenyang, kedinginan, kepanasan… hampir semuanya membuat manusia terasa tidak nyaman. 

Akan tetapi, karena kita dilahirkan sebagai manusia, maka sudah seharusnya kita menerima takdir kita dan tetap “menemukan kegembiraan dalam penderitaan” serta mengejar kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup. Meskipun “Ode to Joy” pun tidak dapat memberikan jawaban standar tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu, kita masih tetap terus bertanya pada diri sendiri: Apakah Anda bahagia?

Pada saat itu, ada survei indeks kesehatan mental yang menunjukkan bahwa kesehatan mental masyarakat Taiwan buruk, terutama kepuasan mereka terhadap nilai pribadi yang sangat rendah. 

Di antara responden, 58,9% percaya bahwa kemampuan dan karakteristik mereka sendiri tidak sepenuhnya dimanfaatkan, 42,4% tidak puas terhadap kinerja yang mereka capai, 38,6% beranggapan bahwa hidup kurang berarti, dan 36,1% tidak puas dengan status diri mereka. Hasil survei tersebut ditafsirkan sebagai: masyarakat Taiwan sangat tidak bahagia.

Karena survei ini tidak terbatas pada atribut kategori subjek saja, sehingga hasilnya dapat dengan mudah diinterpretasikan sebagai berikut: pengangguran, lansia, hidup sendiri, bercerai, atau janda/duda kurang bahagia, terutama kemiskinan menjadi alasan penting. 

Namun, pada awal September 1994, “Organisasi Penelitian dan Survei” Hong Kong menerbitkan survei tentang indeks kebahagiaan orang-orang di beberapa negara Asia. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Jepang adalah orang Asia yang paling tidak bahagia, Taiwan serta Korea Selatan, yang termasuk di antara empat macan Asia, juga memiliki banyak orang yang tidak bahagia. 

Sebaliknya, orang-orang di negara tropis seperti Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina lebih bahagia. Jika kita melihatnya dari perspektif pembangunan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi, atau tingkat pendapatan nasional, tampaknya semakin tinggi pendapatan suatu negara atau wilayah, semakin tidak bahagia rakyatnya. Oleh karena itu, beberapa orang mengomentari hal ini dengan mengutip pepatah lama: Uang tidak dapat membeli kebahagiaan. Apakah ini masuk akal? Pengalaman Jepang memiliki nilai referensi yang tinggi.

Kembali ke Keluarga untuk Menemukan Kebahagiaan

Business Week melaporkan pada  Februari 2003 bahwa setelah lebih dari satu dekade Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang rendah, meski para pekerja kantoran di kawasan metropolitan Tokyo masih sibuk bekerja, pusat perbelanjaan masih terawat bersih dengan lampunya yang bersinar terang, orang-orang yang mondar mandir di jalan masih tampak tersenyum, juga bersemangat. Apakah ini merupakan ciri khas wilayah metropolitan Tokyo, ataukah kekuatan ekonomi Jepang masih utuh? 

Menurut laporan, Jepang memang telah jatuh ke dalam resesi jangka panjang, sehingga membuat budaya konsumsi mewah mereka menurun, dan jumlah orang yang bersosialisasi juga menurun secara signifikan, hal mana mengakibatkan penurunan tajam dalam pendapatan tip bagi mamasan Ginza hingga tiga perempat, selain itu pengeluaran masyarakat Jepang untuk makan di luar rumah juga menurun sebesar 32%. 

Sesuai dengan fenomena ini, orang Jepang merasakan kebahagiaan terbesar adalah momen di saat mereka pulang ke rumah lebih awal setelah bekerja seharian lalu menikmati sedikit minuman beralkohol. Di antara produk-produk yang paling laku dijual di Jepang pada akhir tahun 2002 adalah produk-produk DIY yang dapat dibawa pulang, Tercatat bahwa dalam setahun produk-produk DIY yang bisa dibawa sendiri oleh konsumen telah tumbuh sebesar lebih dari 20%.

Pria Jepang yang umumnya memiliki mentalitas machismo (rasa bangga berlebihan terhadap kaum pria), menerapkan konsep “pria bekerja di luar, wanita bekerja di dalam” sampai pada titik ekstrem. Sekalipun bisa pulang kerja lebih awal, tetapi mereka tetap saja baru pulang ke rumah setelah malam. Jika tidak, mereka akan dipandang rendah oleh sesama teman pria dan merasa malu. 

Namun pada akhir abad ke-20, pria Jepang tidak hanya lebih memilih pulang ke rumah lebih awal, tetapi juga mulai membantu pekerjaan rumah tangga saat berada di rumah. Bahkan beberapa department store besar di Jepang mulai memasang meja untuk mengganti popok di toilet pria pada tahun-tahun itu. Business Weekly melaporkan bahwa di bawah bayang-bayang ekonomi dan konsumsi Jepang yang lesu, hubungan sosial, interpersonal yang lebih dalam, dan bahkan nilai-nilai telah mengalami perubahan kualitatif… Ekonomi yang stagnan telah membawa perubahan besar dalam lanskap sosial, hal ini yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.”

Laporan ini telah mengisyaratkan kepada kita bahwa kemerosotan ekonomi tidak hanya gagal menggerogoti kebahagiaan dan kegembiraan orang Jepang, sebaliknya membuat para pria Jepang tanpa sadar meninggalkan mentalitas machismo mereka dan mendapatkan kembali suasana “keluarga sebagai tempat berlindung yang aman.” 

Yang lebih menarik adalah bahwa pandangan terhadap “nilai” yang paling sulit digoyahkan telah berubah secara alami. “Keluarga” adalah sumber kebahagiaan dan kegembiraan. Perasaan ini tidak hanya dialami orang Jepang selama resesi. Dalam survei yang dilakukan pada bulan Maret 2003 terhadap para manajer menengah dan senior di berbagai perusahaan Taiwan dan asing oleh majalah Farsighted, “keluarga yang bahagia” merupakan tujuan paling berharga dalam benak para responden, karena itu merupakan “sumber kebahagiaan.”

Para pembaca yang budiman, mari kita mencoba untuk menenangkan diri dan bertanya pada diri sendiri: Apa itu kebahagiaan? Bagaimanapun, ini adalah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh orang yang masih hidup! Mengapa kita sendiri yang membuat diri kita merasa tidak bahagia?  (***)

Penulis adalah peneliti khusus di Institut Penelitian Ekonomi Tiongkok

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine