Ketika Trump melangkah ke panggung KTT NATO 2025, Sekjen NATO Mark Rutte dengan nada setengah bercanda memanggil Trump “Daddy”, yang kemudian ramai diperbincangkan oleh media global. Hal ini selain sebuah penegasan terhadap pengaruh pribadi Trump, juga sebagai simbol kembalinya dominasi Amerika Serikat di NATO.
Pada saat yang sama, suatu hal yang menggemparkan dunia politik AS terjadi di New York, kota terbesar Amerika Serikat. Di mana Zohran Mamdani, seorang sosialis demokrat berusia 33 tahun berhasil mengalahkan politikus kawakan dan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dalam pemilihan pendahuluan wali kota dan menjadi calon yang diusung oleh Partai Demokrat. Kemenangannya menandakan bahwa New York, basis liberal ini akan kembali bergerak ke kiri, dan bayangan sosialisme seakan tak lama lagi akan menyelimuti seluruh persimpangan dunia ini.
Ini adalah badai tentang kekuatan global, ideologi, dan masa depan. Apakah Anda sudah siap?
“Daddy” Trump Kembali, Amerika Serikat Menciptakan Prestasi Gemilang di NATO
Pada 24 Juni, Trump terbang dengan Air Force One menuju Den Haag, Belanda untuk menghadiri KTT NATO. Ketika ia ditanya oleh wartawan tentang apakah ia bersedia mendukung Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, terkait klausul pertahanan kolektif, yang menyatakan bahwa jika ada negara anggota yang diserang, maka negara anggota lainnya akan menanggapi bersama-sama.
Trump menjawab secara ambigu mengatakan: “Karena ada banyak definisi tentang Pasal 5 ini jadi sangat tergantung pada bagaimana Anda mendefinisikannya. Anda tahu itu, kan? Tetapi saya berkomitmen untuk berteman dengan mereka.” Jawaban ini langsung menimbulkan kegemparan. Media Eropa khawatir bahwa ini akan melemahkan persatuan NATO, Trump bahkan menarik diri dari aliansi tersebut. Sementara itu komentator Rusia dan PKT justru memanfaatkan kesempatan ini untuk mencemooh keretakan NATO.
Namun, ini adalah strategi negosiasi yang biasa dilakukan Trump: Menciptakan ketidakpastian terlebih dahulu, kemudian menuai hasilnya dengan ketegasan sikap. Fakta membuktikan bahwa Trump menang lagi, seperti 1,5 bulan lalu ketika ia diterima bagaikan raja di Timur Tengah. Dan KTT NATO ini telah menjadi KTT Trump yang sesungguhnya.
Sampai-sampai Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan negara-negara anggota memberikan hadiah yang “dibuat secara khusus” untuk Trump. Ini unik karena belum pernah terjadi dalam sejarah NATO selama 75 tahun terakhir. Situasi telah berubah sekarang, dimana negara sekutu yang selama ini terbiasa mendapat perlindungan dari Amerika Serikat, negara yang tampak mudah dikibuli, kini tidak lagi bisa begitu:
Pertama, pembagian beban anggaran militer NATO: komitmen bersejarah sebesar 5% dari PDB
Trump telah lama mengkritik negara-negara anggota NATO karena subsidi untuk anggaran militer NATO tidak mencukupi, sehingga membebani tanggung jawab Amerika Serikat. Pada pertemuan puncak ini, 32 negara anggota NATO dengan suara bulat menyepakati untuk meningkatkan pengeluaran militer hingga 5% dari PDB masing-masing anggota, jauh melampaui target sebelumnya yang 2%.
Secara khusus, Mark Rutte mengusulkan rencana alokasi yang jelas, yakni 3,5% untuk anggaran militer inti (senjata, pasukan, amunisi), dan 1,5% untuk infrastruktur strategis dan keamanan siber (jembatan, jalan, pertahanan jaringan). Rancangan ini selain memenuhi permintaan Trump untuk peningkatan pengeluaran militer, tetapi juga secara cerdik menghubungkan kerja sama militer dengan kepentingan ekonomi. Misalnya, dana dari peningkatan belanja militer mengalir ke industri pertahanan Amerika Serikat dan Eropa, yang juga sejalan dengan kebijakan America First usungan Trump, dan sengketa perdagangan yang diakibatkannya.
Komitmen ini sempat menemui perlawanan. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez pernah mencoba mencari pengecualian, tetapi akhirnya berkompromi karena tekanan Trump.
Kedua, agenda tersebut berorientasi untuk memenuhi prioritas geopolitik Trump.
Agenda KTT tersebut disesuaikan dengan cermat untuk berfokus pada area inti kebijakan luar negeri Trump. Pertama, isu Iran menjadi fokus. Dalam pesan pribadi dan pidatonya, Mark Rutte sangat memuji tindakan tegas Trump yang mengubah situasi di Timur Tengah.
Topik ini juga memicu salah satu episode paling meriah dari KTT NATO kali ini. Ketika Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berbicara di panggung yang sama, mereka berbicara tentang Trump menengahi gencatan senjata antara Iran dan Israel, dan mengakhiri perang yang berlangsung selama 12 hari. Trump mengatakan: “Mereka bertengkar hebat, seperti dua orang anak kecil berkelahi di halaman sekolah. Biarkan mereka bertengkar selama dua menit, agar lebih mudah untuk menghentikan mereka.” Mark Rutte lalu menimpali: “Sampai Daddy terkadang harus menggunakan bahasa yang kasar” (And then Daddy has to sometimes use strong language).
Percakapan ini menjadi topik hangat di media besar dan media sosial di seluruh dunia. Tentu saja, ketika Trump ditanya soal hal ini pada konferensi pers setelahnya, “Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, dia memanggil Anda ‘Daddy’ sebelumnya… Apakah Anda memperlakukan sekutu NATO sebagai anak-anak?” Trump memberikan jawaban yang tidak merusak reputasi Rutte tetapi bermakna: “Tentu saja mereka bukan anak-anak, mereka hanya butuh sedikit bantuan di awal.”
Kedua, untuk pertama kalinya NATO mencantumkan ekspansi militer PKT sebagai agenda pembahasan utama. Dalam pidato pembukaannya, Mark Rutte memperingatkan bahwa modernisasi militer PKT sangat membahayakan, dan berpotensi menimbulkan risiko krisis di Selat Taiwan. Ia juga mengatakan: “Setelah Rusia dan Iran, PKT adalah negara berikutnya yang menerima perlakuan khusus dari Barat……” Hal ini secara langsung menanggapi kekhawatiran Trump yang tinggi tentang ancaman PKT dan juga meletakkan dasar bagi penyesuaian strategis NATO.
Ketiga, tanggapan fleksibel terhadap kontroversi Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara
Pada masa jabatan pertama, kritikan Trump terhadap NATO dan sekutu Barat pernah memicu reaksi keras. Namun kali ini, para pemimpin negara NATO memilih untuk menghormati dan menanggapi secara fleksibel kontroversi yang ada.
Tidak diragukan lagi bahwa masalah pengeluaran untuk anggaran militer NATO telah dapat diatasi, dan penghormatan tinggi yang diberikan oleh sekutu telah mendatangkan respons yang menggembirakan bagi Trump. Pada konferensi pers, ketika ia ditanya: “Apakah Anda mendukung Pasal 5?” Trump mengatakan: “Itulah sebabnya saya di sini. Jika tidak, saya tidak akan berada di sini.” Reporter itu bertanya lagi: “Apakah Anda akan membela negara-negara ini?” Trump hanya menjawab: “Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa saya di sini?” Anda lihat, Trump juga sangat pandai mengendalikan diri.
Keempat, tampilan profil tinggi tentang pertemuan Trump dengan Zelenskyy
Untuk memenuhi keinginan Trump yang suka menunjukkan pengaruhnya di depan umum, KTT NATO juga secara khusus mengatur pertemuannya dengan Presiden Ukraina Zelensky. Pertemuan tersebut disiarkan langsung ke seluruh dunia, dan Zelensky yang biasanya lebih sering memakai T-shirt mengenakan jas untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Trump. Setelah pertemuan tersebut, lewat konferensi pers Trump mengatakan bahwa Zelensky adalah orang baik.
Pertemuan ini tidak hanya meningkatkan citra internasional Trump, tetapi juga meredakan kekhawatiran sekutu Eropa tentang berkurangnya dukungan Amerika Serikat terhadap Ukraina. Lewat media sosial Zelensky mengatakan: “Kami membahas cara mencapai gencatan senjata dan perdamaian sejati.”
Selain itu, NATO juga menyederhanakan jadwal dan pernyataan bersama (hanya satu halaman) sebagai tanggapan atas ketidaksukaan Trump terhadap birokrasi, menghindari perdebatan panjang, dan menunjukkan bahwa KTT berakhir tanpa perselisihan.
Singkatnya, KTT NATO tahun 2025 bukan hanya kemenangan bagi pribadi Trump, tetapi juga momen transformasional bagi NATO untuk beradaptasi dengan era baru. Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya telah mulai memasuki periode yang sangat baik, dan semua orang memahami bahwa ini mungkin menjadi berita buruk bagi beberapa rezim.
Berita Palsu Muncul Lagi. Artikel di New York Times Menyebut: Trump Menyerahkan Wacana Global
Namun, di mata orang biasa, mudah untuk menilai benar dan salah. Dalam tulisan-tulisan beberapa negara dan beberapa media, mungkin narasinya sama sekali berbeda.
Misalnya, setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel, di pinggiran selatan Beirut, tempat sekutu Iran, Hizbullah bermarkas terpasang sebuah spanduk yang merayakan kemenangan Khamenei, berbunyi: Trump berlutut di tanah untuk memohon Khamenei menghentikan tembakan.
Pada 25 Juni, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan parah akibat serangan AS selama akhir pekan. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa yang pertama kali mengirim pesan untuk menghentikan tembakan adalah Amerika Serikat, bukan Iran, yang berarti bahwa Amerika Serikat yang terlebih dahulu memohon Iran untuk menghentikan konflik senjata. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat harus membayar ganti rugi atas kerusakan fasilitas Iran. Iran akan menuntut hal ini melalui jalur diplomatik dan hukum.
Ini sungguh menggelikan, bukan. AS memang cukup tulus untuk meminta gencatan senjata setelah menjatuhkan 14 bom super berat dan 30 rudal Tomahawk ke Iran. Kepada siapa keadilan akan diminta?
Namun, beberapa media arus utama di dunia telah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan media Iran dalam beberapa hari terakhir. Misalnya, The New York Times dan CNN melaporkan bahwa serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran berdampak kecil dan hanya mengakibatkan penundaan program nuklir Iran selama beberapa bulan. Penulis benar-benar tidak tahu harus berkata apa tentang mereka. Informasi yang mereka kutip berasal dari laporan dari biro intelijen AS, yang mengatakan bahwa kurang kredibel menyebabkan pukulan berat. Namun, semua orang tahu bahwa ketika Kementerian Energi AS dan FBI melacak sumber epidemi virus PKT, menambahkan pernyataan yang kurang kredibel hanya berarti bahwa penyelidikan lebih lanjut diperlukan, dan itu tidak berarti bahwa PKT dapat menghindari tanggung jawab! Oleh karena itu, beberapa media sebenarnya hanya berpura-pura bingung saja.
Dalam dua hari terakhir, pernyataan New York Times dan CNN telah dibantah oleh banyak pihak. Pertama, badan intelijen Israel Mossad mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir di Fordow mengalami kehancuran total setelah serangan itu. Kedua, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga secara terbuka membantah: “Jika Iran benar-benar tidak terluka, mengapa mereka bersedia berbicara tentang gencatan senjata?” Selain itu, citra satelit perusahaan satelit Maxar lebih lanjut menunjukkan bahwa puncak bukit Fordow telah hancur, muncul enam kawah di kawasan pemboman, dan 12 bom dijatuhkan di fasilitas nuklir Fordow, membuktikan bahwa pemboman itu sangat akurat. Terlebih lagi, video di internet menunjukkan kawah bom tersebut setidaknya ada beberapa meter dalamnya, dan terdengar suara air di dalamnya, sehingga dapat dipastikan terjadi kerusakan pada fasilitas di dalamnya.
Namun, New York Times pada 25 Juni menerbitkan artikel lain yang ditulis oleh jurnalis Tiffany Hsu dengan judul Pemerintahan Trump Menyerahkan Wacana Global kepada Musuh Seperti Tiongkok dan Rusia. Artikel tersebut mengklaim bahwa pemerintahan Trump sedang bunuh diri dengan meninggalkan kekuatan lunak global Amerika Serikat dengan menutup media yang didanai pemerintah federal seperti Voice of America (VOA), Radio Free Asia, serta membubarkan Kantor Penanggulangan Informasi Palsu.
Cara tidak menanggapi setelah dibantah dan beralih ke topik baru ini juga menunjukkan bahwa beberapa media hanya menentang Trump demi ideologi. Mari kita ambil artikel ini sebagai contoh:
1. Apakah penutupan Voice of America akan menyebabkan krisis pengaruh global bagi Amerika Serikat?
Secara historis, Voice of America memang memainkan peran dalam nilai-nilai Amerika Serikat yang dianut Trump, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Voice of America mengikuti USAID untuk mempromosikan beberapa agenda ekstrem kiri, yang sebenarnya menyimpang dari tujuan awalnya. Sekarang, pengurangan dana yang disubsidi pemerintah untuk VOA tidak lagi dapat dihindari.
Selain itu, Voice of America telah lama dikritik karena sangat birokratis dan tidak efisien, dan pengaruhnya di era digital jauh lebih kecil daripada platform media sosial yang sedang berkembang. Keputusan pemerintahan Trump bukanlah untuk meninggalkan soft power, tetapi untuk mengalokasikan kembali sumber daya ke saluran propaganda yang lebih efektif, seperti berinteraksi langsung dengan khalayak global melalui platform X.
Mengambil contoh serangan fasilitas nuklir Iran, artikel mengakui bahwa siaran Voice of America dalam bahasa Persia dengan cepat dipulihkan setelah serangan tersebut, menghasilkan sejumlah besar laporan dan konten media sosial. Hal ini membuktikan bahwa pemerintahan Trump tidak menyerah dalam perang informasi, tetapi telah secara fleksibel mengerahkan sumber daya pada saat-saat kritis. Faktanya, citra satelit setelah serangan (yang memperlihatkan bahwa fasilitas nuklir Iran Fordow hancur) yang dirilis oleh Amerika Serikat melalui platform X justru mendapat postingan ulang sampai jutaan kali, jauh melebihi pengaruh media tradisional.
2. Klaim berlebihan bahwa PKT dan Rusia merebut ruang wacana
Artikel tersebut mengklaim bahwa PKT, Rusia, dan negara-negara lain sedang merebut ruang wacana yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat, termasuk pembukaan kantor di Afrika oleh Badan Komunikasi Satelit Rusia, perluasan jangkauan siaran TRT Turki, dan sebagainya. Namun, tindakan ini sudah dimulai jauh sebelum Trump menjabat dan bukan merupakan hasil dari “penarikan diri” Amerika Serikat.
Yang lebih penting, artikel tersebut mengabaikan keuntungan Amerika Serikat di era digital. Trump sendiri secara langsung memengaruhi ratusan juta pengguna global melalui Truth Social dan platform X. Cara penyebaran informasi yang dipersonalisasi ini jauh lebih efektif daripada media tradisional.
Selain itu, bukankah akan lebih efektif jika Amerika Serikat menginvestasikan sumber dayanya yang terbatas untuk menyatukan sekutu guna melawan PKT?
Terlebih lagi, kekuatan lunak Amerika Serikat perlu didefinisikan ulang, dan pemerintahan Trump tengah memperluas pengaruh global Amerika Serikat. Perkembangan ekonomi AS dan perang melawan terorisme seperti Iran merupakan perwujudan kekuatan lunak Amerika Serikat yang setingkat lebih atas. Setelah membereskan para pembuat onar di Timur Tengah, Amerika Serikat juga dapat lebih fokus dalam memerangi PKT.
Selain itu, artikel tersebut menyebutkan bahwa Uni Eropa dan Inggris berupaya mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh “penarikan diri” AS, tetapi ini hanya membuktikan bahwa sekutu NATO berbagi lebih banyak tanggung jawab, yang sejalan dengan tuntutan jangka panjang Trump. Pendanaan Uni Eropa untuk Radio Free Europe bukan untuk menggantikan Amerika Serikat, tetapi kerja sama yang saling melengkapi.
Debut Bintang Baru Sosialis Pemilihan Wali Kota New York, Etnis Tionghoa Perlu Waspada!
Hasil dari Pemilihan Pendahuluan Wali Kota Demokrat Kota New York pada 24 Juni mengejutkan AS: anggota legislatif negara bagian berusia 33 tahun Zohran Mamdani unggul dengan 43,5% suara, mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo (36,4%) dan menjadi calon wali kota dari Partai Demokrat.
Pemilihan ini merupakan pukulan fatal bagi karier politik Andrew Cuomo, tetapi juga menandai momen bersejarah dalam politik Kota New York: bahaya sosialisme.
Zohran Mamdani, seorang etnis India, lahir di Uganda dan berimigrasi ke New York pada usia 7 tahun. Sebagai seorang sosialis demokrat, ia memperoleh dukungan antusias dari kalangan pemilih muda. dengan berfokus pada keterjangkauan dan penyebaran media sosial yang viral. Kampanyenya juga mendapat dukungan dari dua perwakilan sayap kiri lainnya, Perwakilan AS AOC dan Senator Bernie Sanders.
Platform kampanye Mamdani adalah serangkaian kebijakan sosialis radikal:
1 Pembekuan uang sewa: Ia berjanji untuk membekukan uang sewa 1 juta apartemen dengan sewa terkendali dan membangun 200.000 unit perumahan umum dalam 10 tahun ke depan. Tujuannya adalah untuk mengatasi krisis perumahan, tetapi telah dikritik dari dua sisi: di satu sisi, kebijakan murah hati yang dilakukan dengan cara merampas kepentingan pemilik properti, yang merupakan bentuk komunisme yang terselubung. Di sisi lain, dari mana dana untuk perumahan umum berskala besar itu berasal? Menaikkan pajak bagi orang kaya dan bisnis? Ini jelas akan menjadi pukulan lain bagi New York, tempat orang kaya dan pebisnis yang telah banyak hengkang sejak epidemi tahun 2020. Pada akhir tahun 2020, orang kaya telah meninggalkan New York, yang menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar USD 34 miliar.
2 Transportasi umum gratis: Ia mengusulkan untuk memberikan layanan gratis bagi penumpang bus di seluruh kota, dengan perkiraan biaya tahunan sebesar $630 juta.
3 Toko kelontong yang dikelola pemerintah kota: Sebagai respons terhadap kenaikan harga pangan, ia berencana untuk mendirikan toko kelontong yang dikelola oleh pemerintah Kota New York dan menerapkan kontrol harga.
4 Memotong dana polisi: Ini juga merupakan berita buruk bagi kota yang keamanan publiknya sudah menghadapi banyak tantangan.
Mantan pembawa acara TV dan radio @John Cardillo memperingatkan: “Jangan menyalahkan warga orang kulit hitam atau Latino di New York atas pelanggaran Mamdani. Mereka justru memilih menentangnya. Itu dilakukan oleh orang kulit putih dan Asia.” Hasil survei menunjukkan bahwa 58% orang Asia yang memilih memberikan suara mereka untuk Mamdani….. merupakan proporsi tertinggi dari semua kelompok etnis! Dan di antara orang Asia di New York, jumlah terbesar adalah warga etnis Tionghoa.
Agenda sosialis Zohran Mamdani mengandung banyak risiko:
1 Ketidakberlanjutan finansial: Anggaran Kota New York tahun 2026 sudah sangat jomplang, anggaran pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Dari mana dana untuk menunjang rencana Mamdani (transportasi umum gratis, toko kelontong yang dikelola pemerintah kota, perumahan umum) yang diperkirakan akan tambah membebani anggaran pengeluaran yang jumlahnya mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.
2 Penurunan efisiensi administratif: Rencana seperti toko kelontong yang dikelola kota memerlukan sistem birokrasi yang besar untuk mendukungnya, tetapi pemerintah Kota New York memiliki catatan yang buruk dalam mengelola proyek publik. Misalnya, sistem kereta bawah tanah New York yang kotor dan bau. Mamdani yang tidak memiliki pengalaman administratif tingkat tinggi mungkin sulit untuk menerapkan kebijakan yang rumit ini secara efektif.
3 Meningkatnya perpecahan sosial: Sikap anti-Israel Mamdani (dia secara terbuka mengkritik kebijakan Palestina Israel) telah menimbulkan kontroversi di komunitas Yahudi New York, yang dapat menyebabkan perpecahan lebih lanjut dalam solidaritas sosial, mengingat New York memiliki hampir 1 juta penduduk Yahudi.
4 Konflik dengan pemerintah federal: Pemerintahan Trump secara eksplisit menentang sosialisme
NATO bergerak ke kanan sedangkan New York bergerak ke kiri. Dua tren yang sangat bertolak belakang ini mengingatkan kita bahwa tahun 2025 belum bisa damai. (***)


