Trump Bertemu dengan Sandera AS di Gaza, Israel : Perang Akan Berakhir Secepatnya

Pada Kamis (3 Juli), Presiden Amerika Serikat Trump menerima Edan Alexander, sandera Amerika terakhir yang dibebaskan dari Gaza. Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel menyatakan bahwa mereka sedang mengatasi segala rintangan untuk segera mengakhiri perang di Gaza.

EtIndonesia. Pada  Kamis 3 Juli, Edan Alexander — yang pernah disandera oleh Hamas — bersama keluarganya tiba di Gedung Putih dan bertemu dengan Presiden Trump.

Edan adalah tentara Israel kelahiran Amerika Serikat. Ia ditahan oleh Hamas selama 584 hari dan dibebaskan pada Mei tahun ini. Diyakini bahwa ia adalah sandera Amerika terakhir yang berhasil dibebaskan.

Gedung Putih dalam unggahannya di media sosial X mengatakan:  “Hari ini, Presiden Trump menyambutnya (Edan) di Oval Office. Kami tidak akan berhenti hingga setiap sandera dipulangkan kepada keluarganya.”

Pada hari yang sama, serangan Israel di Gaza masih terus berlangsung. Rentetan ledakan mengguncang Gaza dan asap tebal membumbung ke langit.

Kementerian Kesehatan Gaza pada Kamis menyatakan bahwa sebuah sekolah di Kota Gaza terkena serangan rudal Israel, menyebabkan 15 orang tewas.

Sehari sebelumnya, militer Israel menyatakan bahwa teroris Hamas menembakkan dua roket dari Gaza ke wilayah selatan Israel. Beruntung, keduanya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel.

Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, pada Kamis mengatakan bahwa Israel sedang merundingkan proposal gencatan senjata baru di Gaza demi segera mengakhiri perang.

David Mencer menyatakan:  “Perdana Menteri Netanyahu sedang berupaya untuk mengakhiri operasi di Gaza dengan membebaskan para sandera dan mengalahkan organisasi teroris Hamas secepat mungkin.”

Ia menambahkan:  “Jelas bahwa Israel tidak menginginkan warga sipil Gaza terluka. Mereka juga merupakan korban dari organisasi teroris Hamas.”

Pada Selasa (1 Juli), Presiden Trump menyatakan bahwa telah dicapai kesepakatan dengan Israel untuk melakukan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza, dan ia mendesak Hamas untuk menerima proposal tersebut.

Pada hari yang sama, polisi di ibu kota Denmark, Kopenhagen, mengatakan bahwa mereka sedang memeriksa paket mencurigakan yang dikirim ke Kedutaan Besar Israel.

Cuplikan televisi menunjukkan sejumlah mobil polisi dan kendaraan darurat berjaga di sekitar kedutaan Israel. Sejak pecahnya “Perang 12 Hari” antara Israel dan Iran, banyak negara Eropa telah meningkatkan pengamanan terhadap misi Israel dan organisasi-organisasi Yahudi.

Di hari yang sama pula, Menteri Luar Negeri Prancis, Stéphane Séjourné, mengecam Iran atas penahanan dua warga negara Prancis selama tiga tahun, dan mendesak pemerintah Iran untuk segera membebaskan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Garda Revolusi Iran telah menahan puluhan warga asing dan warga berkewarganegaraan ganda, dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata. Organisasi hak asasi manusia dan negara-negara Barat menuduh Iran melakukan “diplomasi sandera”, yaitu menggunakan warga asing yang ditahan sebagai alat tawar-menawar. (Hui/asr)

Laporan disusun oleh reporter NTD Zhao Fenghua.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine