Kejahatan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam mengambil organ dari manusia hidup semakin menjadi perhatian dan kecaman dari dunia internasional. Informasi terbaru mengungkap bahwa PKT berencana dalam lima tahun ke depan membangun enam pusat transplantasi organ baru di wilayah Xinjiang. Jumlah ini akan membuat total lembaga transplantasi organ di Xinjiang menjadi tiga kali lipat dari jumlah saat ini, jauh melampaui kebutuhan lokal, sehingga memicu kekhawatiran bahwa PKT memperluas cakupan praktik pengambilan organ hidup.
Etindonesia. Laporan media Inggris The Daily Telegraph pada 3 Juli, yang mengutip data dari organisasi HAM internasional End Transplant Abuse in China, menyebutkan PKT merencanakan pembangunan enam pusat medis dengan fungsi transplantasi organ di Xinjiang sebelum tahun 2030, empat di antaranya berlokasi di ibu kota Urumqi.
Saat ini, Xinjiang sudah memiliki tiga rumah sakit atau pusat medis yang melakukan transplantasi organ. Ini berarti bahwa dalam lima tahun ke depan, jumlah lembaga transplantasi organ di wilayah ini akan meningkat hingga tiga kali lipat.
“Jelas ini bukan kebutuhan medis, melainkan ekspansi strategis PKT dalam transplantasi organ dan pengambilan organ hidup, yang di baliknya tersembunyi kejahatan serius terhadap kemanusiaan dan genosida. Berdasarkan laporan yang saya lihat, pasokan organ di wilayah ini sangat minim,” ujar Sheng Xue, Wakil Ketua Aliansi Demokrasi Tiongkok.
Menurut data sensus nasional Tiongkok tahun 2020, populasi Xinjiang sekitar 26 juta jiwa. Berdasarkan statistik resmi PKT, di Xinjiang hanya terdapat 0,69 pendonor per satu juta penduduk, sedangkan rata-rata nasional adalah 4,6 pendonor per juta. Dengan membangun sembilan pusat transplantasi organ di wilayah ini, jelas jumlah tersebut sangat melebihi kebutuhan lokal.
Sheng Xue melanjutkan: “Apa artinya ini? Artinya sumber organ-organ ini sama sekali tidak mungkin berasal dari donasi. Xinjiang adalah wilayah yang sangat termiliterisasi, diawasi ketat, dan tertutup. Wilayah seperti ini justru memudahkan PKT untuk melakukan operasi gelap seperti pengambilan organ hidup dan transplantasi organ secara tertutup.”
Heng He, pakar isu-isu Tiongkok mengatakan: “Mayoritas penduduk non-Han di Xinjiang adalah Muslim, yang secara tradisional tidak menyumbangkan organ. Jadi sumber organ tersebut hampir pasti bukan berasal dari donor sukarela, melainkan melalui paksaan.”
Enver Tohti, mantan dokter di Xinjiang, pernah mengungkap bahwa pada tahun 1990-an, ia diperintahkan untuk mengambil organ dari tahanan yang masih hidup. Menurut penelitian internasional, saat ini sedikitnya 500.000 orang Uyghur ditahan di Xinjiang.
Heng He menambahkan: “Secara historis, Xinjiang mungkin adalah salah satu wilayah pertama tempat PKT melakukan pengambilan organ hidup, meskipun saat itu belum banyak diketahui. Setelah tahun 1999 ketika PKT mulai menindas praktisi Falun Gong, mereka menjadi kelompok utama korban, dan praktik pengambilan organ hidup mulai terungkap. Dalam beberapa tahun terakhir, Xinjiang hampir menjadi kamp konsentrasi besar-besaran, dengan jumlah orang hilang yang sulit dihitung, menjadi kawasan bencana utama bagi kejahatan ini.”
Wendy Rogers, Ketua Dewan Penasehat End Transplant Abuse in China, menyatakan bahwa mayoritas warga Uighur adalah Muslim yang tidak mengonsumsi alkohol, sehingga – seperti halnya praktisi Falun Gong – dianggap sebagai sumber organ yang relatif sehat dan “ideal”.
Enver Tohti sebelumnya mengatakan kepada NTDTV bahwa industri transplantasi organ di Tiongkok telah berubah menjadi industri yang sangat menguntungkan, dengan sumber organ yang tidak jelas asal-usulnya.
Belakangan ini, di berbagai platform media sosial di Tiongkok Daratan, muncul banyak laporan tentang meningkatnya jumlah anak-anak yang hilang. Publik banyak yang curiga hal ini berkaitan dengan praktik “pengambilan organ hidup.”
Sheng Xue kembali menegaskan: “Ini membuktikan bahwa rezim PKT adalah kelompok jahat yang tidak memiliki batas moral, tidak berperikemanusiaan, dan tidak beradab. Dalam sejarah umat manusia hingga saat ini, bisa dikatakan inilah kelompok paling anti-kemanusiaan, dan yang lebih menakutkan lagi, mereka menguasai aparat kekerasan negara. Semua rakyat yang hidup di bawah kekuasaan mereka sejatinya adalah korban.” (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan NTDTV, Tang Rui dan Qiu Yue.


