Mangaka Jepang Ryo Tatsuki meramalkan akan terjadi gempa besar dan tsunami dahsyat pada Juli ini. Kebenaran ramalan ini masih menjadi perdebatan. Menanggapi hal tersebut, Ryo Tatsuki baru-baru ini menerbitkan karya baru berjudul “Testamen Malaikat”, yang menjelaskan “visi mimpi” yang ia lihat.
EtIndonesia. Ryo Tatsuki, yang dijuluki sebagai “Nostradamus Jepang,” dalam manga-nya “Masa Depan yang Kulihat” meramalkan bahwa “pada 5 Juli Jepang akan mengalami gempa bumi dahsyat, sepertiga wilayah negara akan lenyap.”
Ramalan ini menarik perhatian publik. Ketika tanggal tersebut tiba, saluran YouTube pemantauan gempa di Jepang diserbu lebih dari 230.000 penonton yang menonton siaran langsung. Namun, gempa “kiamat” yang diramalkan tidak terjadi.
Meski demikian, wilayah Kepulauan Tokara di selatan Prefektur Kagoshima telah mengalami ribuan gempa kecil sejak 21 Juni, mencatat rekor tertinggi sejak tahun 1995.
Menurut media Jepang, akibat aktivitas gempa yang terus berlanjut, penduduk Desa Toshima yang berada di dekat pusat gempa mulai mengungsi sejak 4 Juli. Gelombang pertama pengungsi kini telah ditempatkan di tempat penampungan sementara di Kota Kagoshima. Masa pengungsian sementara ditetapkan selama satu minggu.
Seorang warga mengatakan bahwa karena gempa yang terus-menerus, mereka tidak bisa tidur dan merasa sangat lelah:
“Rasanya bumi terus berguncang, bahkan saat tidur pun terasa menakutkan.”
Seorang pengungsi lain berkata:
“Karena tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, saya sulit tidur tiap malam. Sekarang akhirnya bisa tidur dengan tenang, benar-benar terasa lega. Beberapa orang masih tinggal karena harus merawat hewan peliharaan, dan sebagainya.”
Kepala Desa Toshima, Genichiro Nagakubo, mengatakan: “Melihat warga sudah sangat kelelahan secara fisik dan mental, kami memprioritaskan pemindahan bagi mereka yang ingin mengungsi.”
Saat ini, sekitar 50 orang masih bertahan di pulau, dan kemungkinan gelombang kedua evakuasi akan dilakukan paling cepat pada 6 Juli.
Reaksi warganet Jepang terhadap “ramalan kiamat 5 Juli” bervariasi. Ada yang menimbun bahan makanan, bahkan membawa surat wasiat, namun banyak juga yang tetap menjalani hidup seperti biasa.
Masunori Takeuchi, warga Tokyo, mengatakan bahwa yang paling terpengaruh oleh ramalan ini justru adalah anak-anak muda:
“Di beberapa supermarket di Tokyo, memang ada peningkatan penjualan barang-barang darurat. Beberapa warga menimbun bahan makanan, bahkan ada siswa yang pergi ke sekolah memakai helm.”
Ibu Zhang, seorang warga Tionghoa yang bekerja di media Jepang, mengatakan kepada Red Star News bahwa ramalan “kiamat 5 Juli” cukup ramai dibicarakan di kalangan komunitas Tionghoa di Jepang, namun sejauh ini tidak ada orang di sekitarnya yang benar-benar terpengaruh. Supermarket di sekitar tempat tinggalnya juga tidak mengalami panic buying.
Seorang pemuda asal Henan yang telah tinggal di Jepang selama 11 tahun mengatakan bahwa di Tokyo sendiri tidak terasa ada gempa, toko dan supermarket tetap buka seperti biasa. Tidak ada penimbunan atau kepanikan, dan perusahaannya tetap bekerja seperti biasa. Hampir tidak ada orang di sekitarnya yang bepergian khusus karena ramalan itu.
Ramalan “5 Juli” dan kecemasan akibat frekuensi gempa yang meningkat telah berdampak pada sektor pariwisata Jepang. Banyak turis asing membatalkan perjalanan ke Jepang.
Badan Meteorologi Jepang menegaskan bahwa ramalan “kiamat” ini tidak memiliki dasar ilmiah, dan mengimbau masyarakat untuk menyikapinya secara rasional. (Hui/asr)
oleh Luo Tingting / Wen Hui


