EtIndonesia. Dunia maya Tiongkok mendadak geger. Sebuah surat terbuka yang panjang dan kontroversial beredar luas, menyulut perdebatan publik dan membuka tabir spekulasi atas salah satu kematian paling misterius di Tiongkok modern.
Surat itu, yang intinya bisa dirangkum menjadi satu kalimat tajam: “Segera hentikan kremasi jenazah Li Keqiang dan lakukan penyelidikan menyeluruh atas penyebab kematiannya.”
Surat ini lahir di tengah gegap-gempita duka atas wafatnya Li Keqiang, mantan Perdana Menteri Tiongkok yang baru saja pensiun pada Maret 2023. Hanya tiga hari sebelumnya, pada 27 Oktober 2023, kantor berita resmi Xinhua merilis pengumuman mengejutkan: Li Keqiang wafat mendadak di Shanghai akibat serangan jantung. Dunia politik dan publik pun terguncang—tidak hanya karena kepergiannya yang tiba-tiba, tetapi juga oleh banyaknya kejanggalan yang mengiringi detik-detik terakhir hidupnya.
Siapa Penulis Surat Terbuka Ini?
Penulis surat tersebut adalah Gu Wanming, seorang jurnalis senior alumni Universitas Fudan, Shanghai, dan mantan Kepala Kantor Xinhua untuk wilayah Guangdong. Gu Wanming adalah figur pers kawakan yang reputasinya diakui bahkan oleh internal rezim, dengan masa kerja panjang di lembaga berita milik pemerintah pusat.
Tindakan Gu Wanming, yang berani mengajukan tuntutan penyelidikan penyebab kematian Li Keqiang secara terbuka, menjadi simbol keresahan para insan pers dan kelompok intelektual di Tiongkok. Tidak hanya Gu Wanming, sejumlah wartawan senior dan bahkan akademisi juga menyuarakan keraguan, meski dalam bisik-bisik tertutup.
Gelombang Keraguan dan Spekulasi Global
Bukan hanya di Tiongkok, keraguan akan penyebab kematian Li Keqiang seketika menyebar ke seluruh dunia. Banyak yang menduga Li Keqiang tidak meninggal secara wajar, melainkan menjadi korban rekayasa politik tingkat tinggi. Namun, segala diskusi terbuka di dalam negeri langsung disensor dan ditekan habis-habisan oleh aparat. Satu-satunya saluran adalah para “penyelundup berita” yang mengabarkan ke dunia luar dan sebaliknya.
Detik-detik Terakhir Li Keqiang
Apa yang sebenarnya terjadi pada jam-jam terakhir hidup Li Keqiang?
Berikut rangkumannya berdasarkan berbagai sumber media dan saksi:
- Akhir Oktober 2023, Li Keqiang berada di Shanghai untuk suatu acara resmi, menginap di Dongjiao State Guest Hotel—hotel bintang lima tempat para pemimpin negara biasa menginap.
- 26 Oktober 2023, dia berenang di kolam renang hotel sekitar tengah hari. Saat berenang, tiba-tiba dia kolaps diduga karena serangan jantung. Dia segera dievakuasi ke Rumah Sakit Shuguang (Shuguang Hospital East Branch).
- Pukul 00.10 dini hari 27 Oktober 2023, Li Keqiang dinyatakan meninggal dunia. Upaya medis disebutkan telah dilakukan secara maksimal, namun gagal menyelamatkannya.
Tiga Tanda Tanya Besar—Misteri yang Tak Terjawab
Kisah ini memunculkan tiga pertanyaan fundamental yang menjadi sumber utama kegelisahan publik dan bahan bakar bagi teori konspirasi:
1. Usia Kematian yang “Janggal”
Li Keqiang wafat di usia 68 tahun—secara statistik usia tersebut masih cukup muda, apalagi untuk seorang pejabat elite Tiongkok. Sebagai perbandingan, hampir semua pejabat tingkat nasional Tiongkok rata-rata berumur sangat panjang:
- Yang Shangkun: 91 tahun
- Hua Guofeng: 87 tahun
- Deng Xiaoping: 93 tahun
- Li Peng: 91 tahun
- Song Ping: bahkan masih hidup di usia 108 tahun pada 2025
Kuncinya adalah “sistem kesehatan istimewa” di bawah kendali Komite Sentral Partai, yang memberikan asupan nutrisi, pengawasan medis, dan penanganan darurat tingkat dunia kepada semua pejabat tinggi—termasuk Li Keqiang.
2. Mengapa Tim Medis Super-Elite Tidak Mendeteksi Gejala Jantung?
Seluruh pemimpin Tiongkok selalu diawasi tim dokter dan perawat terbaik, tersedia 24 jam, lengkap dengan akses ke peralatan medis termutakhir. Bahkan, penyakit jantung yang paling mematikan pun nyaris selalu meninggalkan gejala awal:
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Detak jantung tidak teratur
- Kelelahan ekstrem
Gejala-gejala ini, yang mungkin luput dari perhatian orang awam, mustahil tidak terdeteksi oleh tim medis khusus yang selalu mendampingi seorang mantan perdana menteri. Jika memang Li Keqiang memiliki risiko, seharusnya aktivitas seperti berenang sudah dilarang oleh tim medis.
3. Mengapa Dibawa ke Rumah Sakit Shuguang, Bukan ke Rumah Sakit Khusus Jantung?
Ada dua rumah sakit jantung terbaik di Shanghai: Zhongshan Hospital dan Ruijin Hospital. Keduanya memiliki reputasi nasional, terutama untuk kasus serangan jantung akut, dan dilengkapi helipad untuk penanganan tercepat.
Namun, Li Keqiang justru dibawa ke Shuguang Hospital yang lebih dikenal sebagai rumah sakit pengobatan tradisional Tiongkok. Jarak dari hotel ke Ruijin dan Shuguang nyaris sama, sehingga alasan “jarak terdekat” jadi lemah. Dalam kasus darurat seorang tokoh negara, transportasi bukan masalah.
Anehnya lagi, dokter spesialis jantung dari Zhongshan Hospital baru tiba berjam-jam setelah proses penanganan di Shuguang berjalan. Bahkan, disebutkan bahwa Li Keqiang sempat dipasangi alat ECMO (mesin pengganti paru dan jantung), menandakan situasi kritis yang tidak teratasi sejak awal.
Teori Konspirasi dan Spekulasi Kematian “Rekayasa”
Kejanggalan demi kejanggalan memantik berbagai teori konspirasi di kalangan netizen dan komunitas intelektual:
- Ambulans sengaja dibawa berputar-putar untuk memperlambat penanganan
- Dokter ahli datang terlambat
- Dibawa ke rumah sakit yang kurang kompeten
- Diberi obat atau zat tertentu yang memicu serangan jantung seolah alami
Semua skenario itu bermuara pada dugaan pembunuhan politik terselubung. Publik Tiongkok, yang hidup di bawah tirai sensor, seringkali menaruh curiga mendalam pada setiap peristiwa besar yang penuh misteri.
Motif, Konflik, dan Jejak Politik
Dari seluruh dugaan, motif “paling kuat” menurut para pengamat dan netizen, berasal dari sejarah konflik antara Xi Jinping (Sekjen Partai/Presiden Tiongkok) dan Li Keqiang.
- Li Keqiang: Doktor ekonomi, figur utama “kubu Tuan Muda Komunis” (kelompok teknokrat, moderat)
- Xi Jinping: Putra pejabat senior, mewakili “kelompok merah”, berupaya mengkonsolidasikan kekuasaan total
Selama menjabat, Li Keqiang beberapa kali memberi “tamparan” halus kepada narasi resmi Xi—misal, dengan mengungkapkan bahwa 600 juta warga Tiongkok berpenghasilan di bawah 1.000 yuan per bulan, bertentangan dengan klaim sukses “pengentasan kemiskinan” versi Xi.
Bahkan dalam pidato perpisahan sebelum pensiun, Li Keqiang menyisipkan pesan simbolis:
“Manusia berbuat, langit melihat.”
Sebuah kalimat yang dianggap banyak pihak sebagai ungkapan kecewa, sindiran terhadap tekanan yang dialaminya.
Sikap Keluarga, Sikap Rakyat
Enam hari setelah kematiannya, dalam upacara perpisahan di Pemakaman Babaoshan, gestur istri Li Keqiang—Chen Hong—yang menghindari kontak mata dan menolak bersalaman hangat dengan Xi Jinping dan istrinya, menjadi sorotan dunia. Putri Li Keqiang pun terlihat penuh amarah.
Sementara di Hefei, kampung halaman Li Keqiang, ribuan warga antre meletakkan bunga di depan rumah masa kecilnya. Seluruh media negara menutup rapat peristiwa ini, sementara diskusi di media sosial dibungkam total.
Membunuh dengan “Serangan Jantung”?
Metode pembunuhan politik melalui rekayasa “serangan jantung” bukan isapan jempol dalam sejarah dunia intelijen modern.
- 1959: KGB membunuh Stepan Andriyovych Bandera (pemimpin nasionalis Ukraina) dengan semprotan sianida, yang awalnya dikira serangan jantung
Tidak heran jika sebagian masyarakat Tiongkok percaya, dengan kemajuan teknologi dan sistem kontrol rezim, cara serupa bisa dilakukan pada siapa saja yang dianggap mengancam status quo kekuasaan.
Penolakan Teori Konspirasi dan Fakta Medis
Tentu saja, ada juga suara yang menolak teori konspirasi. Mereka beralasan, setelah pensiun, Li Keqiang sudah tidak punya pengaruh politik berarti. Risiko membunuh mantan pejabat sebesar Li Keqiang justru sangat besar bagi stabilitas politik Xi Jinping. Selain itu, beberapa laporan mengindikasikan Li Keqiang memang mengidap penyakit kronis, bahkan disebut-sebut pernah menjalani transplantasi hati dan harus mengonsumsi obat imunosupresan—yang meningkatkan risiko kematian mendadak akibat penyakit kardiovaskular.
Pakar politik dan jurnalis senior, Yaban Mingfu, menilai: “Jika sejak awal sudah banyak detail teknis yang beredar (ambulans berputar, dokter terlambat, dsb.), biasanya justru itu tanda hoaks, karena dalam politik Tiongkok tidak mungkin ada detail sebanyak itu bocor ke publik pada awal peristiwa.”
Namun, dia juga mengakui: kematian Li Keqiang terjadi di tengah operasi “bersih-bersih” oleh Xi Jinping dan itu memperkeruh spekulasi.
Pembungkaman dan Kriminalisasi Kritis
Setelah surat terbuka Gu Wanming viral, dia langsung ditangkap dan dipenjara selama setahun atas tuduhan “membuat keributan”. Semua hak pensiun dan fasilitasnya dicabut. Diskusi soal kematian Li Keqiang benar-benar dibungkam, baik di media resmi maupun dunia maya Tiongkok.
Misteri Abadi—Sampai Kapan?
Apakah kematian Li Keqiang benar-benar akibat serangan jantung alami, ataukah konspirasi pembunuhan politik “tanpa jejak”? Tak satu pun pihak, baik yang pro maupun kontra, memiliki akses ke data medis asli, rekam CCTV, atau dokumen otopsi yang sahih. Bahkan, jenazahnya langsung dikremasi sebelum ada investigasi independen.
Kasus ini akhirnya hanya meninggalkan teka-teki abadi—mirip kasus pembunuhan John F. Kennedy di AS, namun kali ini jauh lebih tertutup.
Pertanyaannya sekarang:
Kapan publik akan benar-benar mengetahui apa yang terjadi di malam 26 Oktober 2023 di Shanghai?
Kapan “arsip Li Keqiang” akan dibuka—atau akan tetap terkunci selamanya di balik tirai besi rezim Tiongkok?


