Netanyahu Bertolak ke AS Temui Trump, Gencatan Senjata Gaza Berpeluang Terwujud Pekan Depan

Pada Minggu (6/7/2025), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertolak ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, dalam rangka mendorong tercapainya gencatan senjata di Gaza dan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

EtIndonesia. Perdana Menteri Netanyahu berangkat ke AS pada Minggu (6/7). Ia menyampaikan pernyataan di Bandara Ben Gurion sebelum terbang, menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Trump “pasti bisa mendorong proses gencatan senjata”.

 “Saat bertemu Presiden Trump, saya akan terlebih dahulu mengucapkan terima kasih atas dukungan besarnya terhadap Israel. Israel belum pernah memiliki sahabat seperti ini di Gedung Putih. Kita telah bekerja sama dan meraih kemenangan besar dalam melawan musuh bersama kita, yaitu Iran,” katanya. 

Kunjungan ini akan menjadi kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih yang ketiga sejak Trump menjabat kembali sebagai presiden hampir enam bulan lalu.

 “Undangan kepada Netanyahu untuk berkunjung ke Gedung Putih bukan hanya perayaan kemenangan militer terhadap Iran, tetapi juga bisa menjadi dorongan nyata bagi tercapainya gencatan senjata di Gaza. Ini penting bagi Presiden Trump, karena tidak hanya memperkuat basis dukungannya di dalam negeri, tetapi juga mendorong agenda kebijakan luar negerinya secara keseluruhan,” ujar Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS). 

Pada 1 Juli, Israel menerima proposal perjanjian gencatan senjata sementara yang diajukan Gedung Putih. Perjanjian tersebut mencakup 60 hari gencatan senjata awal, dengan Israel mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. 

Sebagai imbalannya, Hamas diminta membebaskan 10 sandera yang masih hidup dan menyerahkan 18 jenazah sandera, serta memulai “perundingan damai substantif” pada hari pertama gencatan senjata. Presiden Trump akan bertindak sebagai “penjamin” kesepakatan tersebut.

Presiden AS Donald Trump:  “Minggu depan, mungkin akan tercapai kesepakatan terkait Gaza.”

( Wartawan: “Seberapa optimis Anda?”)
“Saya sangat optimis. Tapi seperti yang Anda tahu, situasinya berubah setiap hari — dan telah berubah selama bertahun-tahun.”

Pada 4 Juli, Hamas mengembalikan versi yang telah direvisi dari perjanjian tersebut kepada Israel. Netanyahu keesokan harinya menyatakan bahwa meskipun Israel tidak dapat menerima semua revisi tersebut, mereka tetap akan mengirim delegasi perunding ke Doha untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir. Di hari yang sama, Presiden Trump menulis di media sosial “Truth Social” dan mendesak Hamas agar menerima perjanjian tersebut.

Pada 6 Juli, kelompok sekutu Hamas, yaitu Houthi di Yaman, menembakkan sebuah rudal balistik ke wilayah tengah Israel, tetapi berhasil dicegat oleh militer Israel. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Qin – NTDTV

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine