EtIndonesia. Suatu pagi, saya keluar rumah mengendarai mobil. Di tengah perjalanan, saya berhenti sebentar di pinggir jalan dekat sebuah gang untuk membeli sarapan.
Saat itu, sebuah taksi hendak berbelok ke dalam gang. Tapi karena mobil saya parkir cukup dekat dengan tikungan, bodi taksi itu tanpa sengaja menyenggol bagian depan mobil saya sebelah kiri.
Saya masih duduk di dalam mobil saat itu. Si sopir taksi segera turun dari kendaraannya, lalu dengan wajah penuh rasa bersalah menghampiri saya dan berkata gugup: “Maaf… ini… harus bagaimana ya?”
Saya tahu, ya sudah, mobil saya memang tersenggol. Kejadiannya sudah terjadi. Tapi saya lihat tidak terlalu parah—hanya goresan kecil.
Melihat wajahnya yang begitu cemas dan kebingungan, saya berkata: “Tidak apa-apa, tenang saja. Cepat lanjutkan pekerjaanmu. Ini bukan masalah besar, lanjutkan saja narik penumpang.”
Saya bahkan belum turun dari mobil, tidak menuntut apa-apa, dan hanya menyuruh dia pergi. Sopir taksi itu pun terlihat sangat lega. Dia terus-menerus mengangguk, minta maaf dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi dengan ekspresi sangat bersyukur.
Kenangan dari Masa Muda: Ketika Saya yang Salah
Saya jadi teringat kembali, saat saya masih muda—sekitar umur 28 tahun—saya bekerja sebagai reporter di stasiun televisi Huashi (CTS).
Suatu hari, ketika hendak pulang kerja, saya sedang mundur mobil di area parkir Huashi yang cukup gelap. Tanpa sengaja, saya menabrak sebuah mobil mewah yang sedang melintas perlahan. Mobil saya sendiri sangat tua, hanya senilai 50 ribu yuan.
Saya langsung panik.
“Waduh, bagaimana ini? Mobil tua saya menabrak mobil semewah itu? Apa yang harus saya lakukan?”
Sopir dari mobil mahal itu pun turun untuk melihat kerusakan. Sementara saya berdiri di samping mobil, sangat tegang, kepala menunduk, terus-menerus meminta maaf.
Tiba-tiba, kaca belakang mobil mewah itu diturunkan. Di dalamnya duduk seorang tokoh terkenal: Tuan Wu Jingguo, Ketua Komite Olimpiade Taiwan saat itu.
(Meski saya masih reporter pemula, saya langsung mengenali sosok beliau.)
Saya makin gugup. Saya tahu saya bersalah, dan siap menerima konsekuensinya.
Namun yang terjadi di luar dugaan.
Tuan Wu turun dari mobil, melihat kondisi mobilnya, lalu dengan suara tenang berkata: “Tak apa-apa. Lain kali hati-hati ya.”
Setelah itu, dia memberi isyarat pada sopirnya untuk jalan. Beliau pergi begitu saja—tanpa menuntut ganti rugi.
Saya pun berdiri di kegelapan dengan rasa haru dan syukur yang luar biasa.
Satu Prinsip, Dua Kejadian
Dari peristiwa itu saya belajar satu hal:
- “Memberi ruang untuk orang lain, berarti memberi ruang untuk diri sendiri.”
– “Memaafkan orang lain, berarti juga mencintai dan menyayangi diri sendiri.”
Itulah kebajikan yang saya pelajari bertahun-tahun lalu dari Tuan Wu Jingguo. Beliau tidak mengenal saya. Mungkin dia pun sudah lupa kejadian itu. Tapi saya tidak pernah melupakannya. Saya menyimpannya dalam hati, dan terus membawanya hingga hari ini.
Tiga puluh tahun kemudian, saya memilih melakukan hal yang sama kepada sopir taksi yang menyenggol mobil saya. Saya tahu, kehidupannya sebagai sopir taksi penuh kerja keras dan kelelahan. Mungkin, dia jauh lebih membutuhkan pengertian daripada saya membutuhkan kompensasi.
Dan walaupun mobil saya mengalami kerusakan ringan hari itu, hati saya justru dipenuhi kebahagiaan sepanjang hari.
Catatan sanubari
Air adalah lambang kelembutan. Dia bisa masuk ke dalam wadah apa pun dan mengambil bentuk apa pun.
Tak peduli sekeras apa pun dunia di luar sana, air tetap menjadi unsur yang paling lentur dan paling fleksibel di alam.
Dalam situasi sosial yang penuh konflik atau ketegangan, hati manusia pun bisa seperti air—lembut, tapi kuat. Air yang mengalir tenang mampu menghimpun sungai dan menjadi kekuatan besar.
Hati manusia adalah daging, bukan batu. Dan dia bisa menjadi lembut dan indah.
Ketika hati kita penuh kelembutan, kita menjadi seperti air—mampu menghimpun banyak sungai, menciptakan aliran besar yang tak terbendung.
Dalam komunikasi dan interaksi, jika kita saling memperlakukan dengan hati yang lapang dan lembut, maka kita akan:
· Lebih banyak memberikan pengakuan
· Lebih banyak memuji dengan tulus
· Lebih banyak berbaik sangka
· Lebih mudah memaafkan
Dan dengan itu, kita akan memenangkan lebih banyak persahabatan.
“Komunikasi yang penuh kebaikan, jawaban yang lembut—mampu meredakan amarah.”
“Dengarkan dulu, baru bicara. Berdialoglah, jangan berseberangan.” (jhn/yn)
Penulis: Dai Chenzhi


