Kedua pemimpin bertemu untuk ketiga kalinya pada tahun ini saat Amerika Serikat berupaya menjadi penengah dalam kesepakatan sandera dan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
EtIndonesia. WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada 7 Juli 2025. Mereka bertemu dalam jamuan makan malam yang berfokus pada pencapaian perdamaian permanen dengan Iran, mengamankan gencatan senjata di Gaza, dan memperluas Abraham Accords.
Di awal pertemuan, Netanyahu menyerahkan kepada Trump salinan surat yang ia kirimkan kepada Komite Nobel yang menominasikan Presiden AS untuk Hadiah Perdamaian, sambil mengatakan bahwa penghargaan tersebut “sangat layak” diterima Trump.
Sebagai tanggapan, Trump berkata, “Saya tidak tahu soal ini. Wow, terima kasih banyak. Terutama datang dari Anda, ini sangat berarti.”
Ini adalah pertemuan ketiga antara Trump dan Netanyahu tahun ini dan berlangsung saat Amerika Serikat berusaha menjadi perantara dalam kesepakatan pertukaran sandera sebagai bagian dari gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Diperkirakan lebih dari 50 sandera masih berada di Gaza. Sebelum bertolak ke Washington, Netanyahu mengatakan bahwa 20 dari mereka masih hidup.
“Prioritas utama presiden saat ini di Timur Tengah adalah mengakhiri perang di Gaza dan memulangkan semua sandera,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada 7 Juli sebelum pertemuan berlangsung.
Usulan gencatan senjata terbaru yang ditengahi AS dan didukung oleh Israel baru-baru ini telah disampaikan kepada Hamas melalui para mediator, namun kelompok teroris tersebut belum menerima tawaran itu.
“Saya pikir kita sudah dekat dengan kesepakatan soal Gaza. Bisa jadi tercapai minggu ini,” kata Trump kepada wartawan pada 6 Juli. “Saya pikir ada peluang besar kita mencapai kesepakatan dengan Hamas minggu ini terkait cukup banyak sandera.”
Dalam pertemuan tersebut, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyuarakan optimisme meskipun ada laporan terbaru mengenai tentara Israel yang tewas dalam penyergapan.
“Kita punya peluang untuk akhirnya mendapatkan kesepakatan damai, Tuan Perdana Menteri, seperti yang telah kita diskusikan, dan saya berharap itu bisa segera terwujud,” kata Witkoff.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan relokasi warga Palestina, Netanyahu menjawab, “Itu disebut pilihan bebas. Jika mereka ingin tetap tinggal, mereka boleh tinggal, tetapi jika mereka ingin pergi, mereka seharusnya bisa pergi. Ini tidak boleh menjadi penjara.”
Ia menambahkan bahwa Israel bekerja sama secara erat dengan Amerika Serikat untuk mencari negara-negara yang bersedia menawarkan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.
“Kami hampir menemukan beberapa negara,” katanya.
Trump menambahkan bahwa ia telah menerima “kerja sama yang luar biasa” dari sejumlah negara di kawasan tersebut, seraya mengatakan, “Sesuatu yang baik akan terjadi.”
Gencatan senjata terakhir runtuh pada 18 Maret karena ketidaksepakatan terkait implementasi fase kedua, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang dan membebaskan semua sandera yang tersisa.
“Kami sedang berupaya untuk mewujudkan kesepakatan yang sedang dibicarakan ini,” kata Netanyahu kepada wartawan sebelum berangkat dari Israel pada 6 Juli. Ia mengatakan bahwa Trump “pasti dapat membantu mendorong tercapainya hasil ini, yang kita semua harapkan.”
Kesepakatan Damai dengan Iran
Pertemuan ini berlangsung beberapa minggu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Setelah serangan tersebut, Amerika Serikat menjadi penengah dalam gencatan senjata antara Israel dan Iran.
Trump mengatakan kepada wartawan pada 6 Juli bahwa pemerintahannya sedang “mengupayakan banyak hal,” salah satunya adalah “kesepakatan permanen dengan Iran.”
Ia menyatakan bahwa perjanjian damai hanya bisa dicapai jika Iran meninggalkan ambisi nuklirnya. Ia mengatakan bahwa serangan AS terhadap situs nuklir Iran telah menyebabkan “penghancuran total” dan bahwa Iran harus “memulai dari awal lagi di lokasi yang berbeda.”
“Kami telah menjadwalkan pembicaraan dengan Iran, dan mereka ingin berbicara,” kata Trump saat pertemuan dengan Netanyahu, sambil menyinggung serangan AS terhadap tiga situs nuklir yang memicu gencatan senjata.
“Mereka ingin mencari solusi. Mereka sekarang sangat berbeda dibanding dua minggu lalu.”
Menurut Allison Minor, direktur Atlantic Council’s N7 Research Institute, Trump berupaya mengubah momentum gencatan senjata menjadi stabilitas yang lebih permanen di kawasan.
“Setelah gencatan senjata dengan Iran, Trump dan Netanyahu punya peluang untuk mengembalikan Abraham Accords ke jalurnya,” tulis Minor dalam sebuah laporan terbaru. “Jika Trump berhasil mengamankan gencatan senjata baru di Gaza, momentum ini hanya akan semakin besar.”
Abraham Accords, yang ditengahi oleh Trump pada 2020, menormalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.
Trump ingin agar Suriah menjadi salah satu negara berikutnya yang bergabung dalam perjanjian tersebut.
Minor menyatakan bahwa saat ini adalah momen bersejarah untuk membentuk kembali hubungan antara Suriah dan Israel, terutama setelah keputusan Trump untuk mencabut sanksi jangka panjang terhadap Suriah.
Pada 7 Juli, Trump juga mencabut penetapan organisasi teroris asing terhadap Hay’at Tahrir al-Sham. Kelompok yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa ini merebut kekuasaan pada bulan Desember setelah menggulingkan Presiden Suriah saat itu, Bashar al-Assad, setelah bertahun-tahun perang saudara. Al-Sharaa kini menjabat sebagai Presiden Suriah.
Upaya Netanyahu untuk menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi tampaknya masih tertahan, setidaknya hingga konflik Israel–Hamas terselesaikan.
Pihak Saudi menuntut adanya jalur yang jelas menuju pembentukan negara Palestina sebelum mereka bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel. Pemerintahan Trump dalam beberapa kesempatan menolak untuk memastikan apakah solusi dua negara masih menjadi kebijakan resmi luar negeri AS.
Ketika ditanya mengenai solusi dua negara dalam pertemuan tersebut, Trump menyerahkan pertanyaan itu kepada Netanyahu.
“Anda punya orang terbaik di dunia untuk menjawab pertanyaan klasik itu,” ujar Trump sambil bergurau.
Netanyahu menjawab, “Saya pikir rakyat Palestina seharusnya memiliki semua kewenangan untuk mengatur diri mereka sendiri, tetapi tidak satu pun kekuasaan untuk mengancam kami.
Itu berarti bahwa kekuasaan tertentu—seperti keamanan secara keseluruhan—akan selalu berada di tangan kami.”
Hubungan Trump–Bibi
Netanyahu menginap di Blair House, yang berfungsi sebagai rumah tamu resmi presiden.
Menurut kantor Perdana Menteri Israel, sebelum pertemuan dengan Trump, Netanyahu bertemu dengan Steve Witkoff, utusan khusus untuk Timur Tengah, diikuti dengan pertemuan lain bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Netanyahu juga dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Ketua DPR AS Mike Johnson pada 8 Juli.
Trump secara umum telah menyuarakan dukungan kuat terhadap Netanyahu, termasuk menanggapi kasus korupsi yang dihadapinya.
“Sangat mengerikan apa yang mereka lakukan di Israel terhadap Bibi Netanyahu. Dia adalah Pahlawan Perang, dan seorang Perdana Menteri yang telah bekerja luar biasa bersama Amerika Serikat untuk mencapai keberhasilan besar dalam menyingkirkan ancaman Nuklir berbahaya dari Iran. Yang terpenting, saat ini dia sedang dalam proses merundingkan Kesepakatan dengan Hamas, yang akan mencakup pembebasan para Sandera,” tulis Trump di Truth Social pada 28 Juni.
“Ini adalah PERBURUAN PENYIHIR POLITIK, sangat mirip dengan Perburuan Penyihir yang saya sendiri pernah alami. Tragedi ‘Keadilan’ ini akan mengganggu proses negosiasi dengan Iran dan Hamas.”
Netanyahu menyampaikan rasa terima kasih atas pernyataan Trump tersebut.
“Terima kasih sekali lagi, @realDonaldTrump. Bersama-sama, kita akan Membuat Timur Tengah Hebat Lagi!” tulis Netanyahu dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada 29 Juni.
Jackson Richman turut berkontribusi dalam laporan ini.
Sumber : Theepochtimes.com


