EtIndonesia. Pada Senin (7/7/2025), terjadi bentrokan antara polisi dan warga di pinggiran ibu kota Kenya, Nairobi. Menurut laporan dari organisasi HAM dan kepolisian, setidaknya 10 orang tewas dalam aksi unjuk rasa anti-pemerintah tersebut, dan ratusan orang ditangkap.
Laporan AFP menyebutkan bahwa bentrokan terjadi sejak sekitar tengah hari, ketika polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke arah kelompok kecil demonstran. Sebagian dari massa melempari batu dan melakukan penjarahan yang merusak.
Menurut pernyataan resmi dari Dinas Kepolisian Nasional Kenya (National Police Service) pada 7 Juli malam, tercatat 11 orang meninggal, 52 polisi dan 11 warga sipil terluka.




Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Kenya (KNCHR) menuduh polisi bekerja sama dengan kelompok kriminal untuk menekan unjuk rasa tahunan memperingati Hari Saba Saba, dengan pengerahan besar-besaran aparat keamanan. Akibatnya, sebagian besar pusat kota Nairobi menjadi lengang.
Hari Saba Saba (yang berarti “tujuh tujuh”) diperingati setiap 7 Juli untuk mengenang peristiwa 7 Juli 1990, ketika rakyat Kenya bangkit melawan pemerintahan otoriter Presiden Daniel Arap Moi, dan menuntut diberlakukannya kembali sistem demokrasi multi-partai.
Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda Kenya kembali turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan terhadap stagnasi ekonomi, korupsi, dan kekerasan oleh aparat.
Pada Juni lalu, demonstrasi juga berujung pada penjarahan dan aksi kekerasan yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan toko hancur. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


