Jangan Hidup demi Ditunjukkan ke Orang Lain

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang teman membeli mobil baru seharga dua juta dolar Taiwan. Dia mengendarainya dari Ningbo ke Hangzhou untuk menemuiku. 

“Kirimkan alamatmu, aku akan jemput. Kita naik ke pegunungan dan bersenang-senang sedikit,” katanya.

Ketika aku menunggu di gerbang kompleks, aku baru sadar dia mengganti mobilnya setelah melihat BMW yang mengilap itu. Tahun lalu saat aku ke Ningbo, dia masih mengendarai VW Polo.

“Wah, kamu kaya mendadak ya! Sekarang pakai BMW,” godaku. 

Dia tertawa.

Dalam perjalanan, dia memperkenalkan fitur-fitur mobil barunya: transmisi otomatis 8-percepatan, tombol start otomatis, sistem audio Harman Kardon—semuanya dijelaskan satu per satu sambil mendemonstrasikannya. Rasanya seperti sedang naik mobil promosi dari sales BMW. 

Aku tersenyum dan berkata: “Aku tahu kamu beli BMW, tapi ayo kita bicarakan topik lain.”

Dia tertawa canggung dan akhirnya mengaku, sebenarnya dia tidak terlalu ingin membeli mobil itu. Dia lebih suka kendaraan off-road, lebih menyukai petualangan dan perjalanan darat. Menurutnya, SUV tangguh seperti itu adalah cinta sejatinya.

Sambil bercerita tentang pengalaman menyetir ke padang rumput dan gurun bersama teman-temannya, matanya berbinar penuh semangat. 

Dia berseru: “Kalau suatu hari nanti aku punya cukup uang, aku pasti akan beli Toyota Land Cruiser!” 

Melihat antusiasmenya, aku pun berkata pelan: “Kalau aku jadi kamu, mungkin aku akan beli Mitsubishi Pajero, atau Toyota Prado.”

Dia menghela napas dan berkata bahwa dia sebenarnya sudah lama bimbang, namun akhirnya tetap membeli BMW. Alasannya? “Kamu pasti paham.” Saat itu aku langsung teringat kisah Kitano Takeshi (sutradara dan aktor Jepang).

Terlalu Peduli Pandangan Orang, Kita Jadi Lupa Tujuan Awal

Sebelum terkenal, Kitano Takeshi pernah bermimpi, suatu hari kalau sudah punya uang, dia akan mengendarai mobil sport dan makan di restoran mewah. Tapi setelah sukses dan benar-benar bisa membeli Porsche, dia mendapati kenyataan bahwa mengendarai Porsche tidak seseru yang dibayangkan—karenad ia tidak bisa melihat dirinya sendiri sedang menyetir Porsche! Maka dia menyuruh temannya yang mengendarai mobil itu, sementara dia sendiri naik taksi dari belakang dan berkata kepada sopirnya: “Lihat itu, itu mobil saya.”

Pernahkah kamu merasa bahwa hidup banyak orang seolah dijalani untuk diperlihatkan kepada orang lain? Kita terlalu menginginkan validasi dari luar, sampai kadang menekan dan memutarbalikkan keinginan terdalam kita sendiri.

Saat tinggal di Beijing, aku pernah punya seorang teman sekamar. Semua uang yang dia miliki harus dihabiskan untuk hal-hal yang bisa “dilihat orang”.

Pakaian yang dibelinya hampir semua bermerek terkenal, dan harus yang memiliki logo besar di bagian dada atau punggung, agar terlihat dari jarak satu kilometer, bahkan di tengah kabut asap pun tetap menyala terang.

Dia juga gemar membeli gadget. Begitu ada produk teknologi baru, entah perlu atau tidak, dia harus menjadi yang pertama memiliki, lalu buru-buru mengunggahnya ke media sosial.

Dia doyan pesta dan makan di restoran mewah, meski uang bulanannya sudah nyaris habis. Bahkan untuk memberi hadiah pun, meski harus memaksakan diri, dia tetap harus tampak “wah”.

Aku pernah bercanda padanya: “Kamu itu kayak orang yang kalau minum kopi di Starbucks, harus difoto dulu dan diposting. Kalau nggak, rasanya kayak kopi itu nggak pernah diminum.”

Hidup yang Diukur Lewat “Skor Sosial” Itu Menyesakkan

Dalam serial Inggris Black Mirror, episode pertama musim ketiga, digambarkan secara gamblang dan menyeramkan bagaimana hidup bisa dikendalikan oleh sistem penilaian sosial.

Dalam dunia itu, bahkan hal-hal kecil atau interaksi dengan orang yang tidak disukai pun harus dijaga dengan sangat hati-hati. Semua itu demi menjaga skor sosial dan “kesan” dari orang lain—takut jika sekali saja bertindak salah, nilai akan turun dan hidup menjadi sulit.

Ada satu adegan kecil tapi membekas: tokoh utama, Lacie, membeli kopi dan mencicipi sepotong biskuit. Ekspresinya menunjukkan bahwa rasanya sangat tidak enak. Tapi, dia tetap menaruh biskuit di pinggir cangkir kopi, memotret, dan mengunggahnya ke media sosial dengan caption yang menampilkan suasana “hidup yang sempurna.”

Bagi Lacie, pandangan orang lain jauh lebih penting dibanding rasa kopi atau biskuit itu sendiri. Dalam dunia yang penuh penilaian, semua orang sibuk mempercantik hidup mereka secara artifisial. Seolah-olah dengan itu, bisa menutupi kekurangan yang mereka rasakan dalam diri sendiri.

Orang yang Dewasa Tidak Hidup dalam Bayang-bayang Pandangan Orang

Menjalani hidup demi diperlihatkan pada orang lain akan membuat kita mudah merasa iri, selalu membandingkan diri, dan akhirnya kehilangan arah.

Pernah ada seorang pembaca datang padaku sambil menangis. Dia berkata pacarnya ingin putus karena dia terlalu miskin. Dia bertanya padaku, apa yang harus dilakukan? 

Aku menjawab: “Kalau begitu, berpisahlah dengan damai. Semoga kalian masing-masing bisa menemukan kebahagiaan.”

Tapi dia tidak terima. Dia menggertakkan gigi dan berkata: “Tidak! Aku harus buktikan ke dia, bahwa meninggalkanku adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Aku akan sukses dan menikahi perempuan yang jauh lebih baik, lalu biar dia menyesal.”

Lalu aku menceritakan satu kisah lama padanya.

Dulu ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria ingin pergi ke kota besar untuk mengejar karier, dan ingin sang wanita ikut bersamanya. Tapi sang wanita lebih memilih hidup tenang di kota kecil. Mereka akhirnya berpisah. Bertahun-tahun kemudian, si pria sukses besar dan kembali ke kota asal sang wanita, ingin membuat mantan kekasihnya menyesal. Tapi yang dia temukan justru sebaliknya—sang wanita hidup bahagia dan damai.

Kadang kita terlalu melebih-lebihkan nilai kita di mata orang lain, sehingga begitu terobsesi dengan bagaimana mereka melihat kita.

Seperti curhatan seseorang di media sosial: “Aku paling takut difoto. Sering kali setelah difoto secara tidak sengaja, aku melihat hasilnya dan menjerit, ‘Astaga, kok jelek banget?!’ Tapi saat ditunjukkan ke orang lain, mereka hanya berkata santai, ‘Biasa aja kok, kamu memang kayak gitu.’ Rasanya seperti dunia runtuh.”

Aku sendiri pernah mengunggah foto selfie konyol di media sosial. Dua tali hoodie sengaja aku masukkan ke lubang hidung, lalu aku tulis caption: “Akhirnya tahu juga kegunaan dua tali ini.”

Banyak teman komen: “Kamu ini kan punya fans, jaga dong citra diri.” 

Ada juga yang bilang: “Lihat postingan kamu ini, aku putuskan untuk unfollow.”

Tapi selama tidak melanggar norma dan etika, aku tidak peduli orang bilang apa. 

Ada ungkapan bijak: “Semakin dewasa seseorang, semakin dia tidak hidup dalam penilaian orang lain.”

Seperti lirik lagu rakyat Skotlandia yang terkenal: 

 “Cintailah, seolah kamu tak pernah tersakiti.

 Menarilah, seolah tak ada yang menonton.

Bernyanyilah, seolah tak ada yang mendengarkan.”

Jangan pernah menukar kejujuran hati sendiri dengan pengakuan dari orang lain. Itu tidak layak, dan tidak akan pernah membawa kebahagiaan sejati.

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sendiri adalah jalan.

Di zaman sekarang, ketika media sosial begitu melekat dalam hidup kita, pola pikir manusia makin ego-sentris. Percayalah, tidak ada yang sungguh-sungguh memperhatikanmu. Bukan karena kamu diremehkan, tapi karena semua orang terlalu sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Tak seorang pun melirikmu—karena tak seorang pun punya waktu untuk itu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine