Jangan Menunggu Kaya untuk Menjalani Hidup yang Kamu Inginkan

EtIndonesia. Setelah resign, beginilah rutinitas harian saya: tidur sampai jam 9 atau 10 pagi, bangun lalu baca buku sebentar, turun ke bawah untuk sarapan sekaligus makan siang. Sore harinya saya kembali membaca atau menulis, malam hari lari-lari, ke gym sekadar “nampak aktif”, lalu pulang nonton film atau serial, dan tidur.

Kedengarannya cukup santai dan menyenangkan, bukan? Tapi kenyataannya, hidup tanpa pekerjaan tetap kadang juga terasa canggung—misalnya ketika bertemu kenalan di jalan, atau diundang ke acara makan malam yang penuh orang asing. Tidak membawa kartu nama seolah-olah membuatmu terlihat “tidak normal”, karena pekerjaan seakan menjadi bukti keabsahan seseorang di masyarakat.

Namun, saya memang jarang mengikuti aturan umum.

Saya Sudah Tiga Kali Melewati Fase “Menganggur”

Pertama kali terjadi pada tahun 2013. Dulu saya pikir, saya bisa dengan mudah berbaur di kota mana pun. Tapi belakangan saya sadar, untuk bisa benar-benar hidup di suatu tempat, biayanya sangat mahal. Saya akhirnya meninggalkan Beijing—kota yang saya tinggali selama delapan tahun—dan kembali ke Hangzhou. Di sana, saya menganggur dan istirahat total selama dua bulan penuh.

Kedua kali terjadi pada musim gugur 2016, ketika saya resign dari Alibaba. Itu perusahaan yang luar biasa, fasilitas dan gajinya pun sangat baik. Tapi setiap hari di kantor, saya tidak merasa bahagia. Alarm di pagi hari rasanya seperti pengingat menyakitkan: “Ini bukan hidup yang saya inginkan. Saya tidak bisa menghabiskan sisa hidup seperti ini.”

Ketiga kali terjadi belum lama ini, awal tahun ini. Saya dan mantan rekan kerja mendirikan startup yang bergerak di bidang properti komersial. Timnya solid, prospeknya bagus. Namun, setelah beberapa bulan bekerja, saya mulai meragukan diri sendiri. Mungkin saya bukan orang yang cocok untuk dunia startup. Saya tidak pandai bersosialisasi, tidak suka jam kerja yang terlalu panjang, dan tak tahan dengan kehidupan pribadi yang begitu sempit.

Yang paling mengganggu adalah: saya mulai meragukan apakah semua kerja keras itu benar-benar akan membawa saya ke arah masa depan yang saya inginkan.

 “Nanti Kalau Sudah Kaya, Baru Hidup Tenang?” – Kapan Itu?

Seorang teman sempat berkata: “Mumpung masih muda, kerja keras saja dulu beberapa tahun. Nanti kalau sudah punya uang banyak, baru jalani hidup yang kamu mau.”

Tapi masalahnya, kapan uang itu cukup? Berapa banyak yang disebut cukup? Hidup bukan seperti kaset yang bisa dibalik sisi A ke sisi B kapan saja kita mau.

Semakin cepat kita berlari, semakin sulit kita melihat arah. Dan ketika kita tidak tahu ke mana tujuan, bagaimana bisa yakin bahwa kita sedang menuju ke arah yang benar?

Hidup yang Kita Inginkan, Harus Kita Dekati dari Sekarang

Penulis dan komentator Wu Yue San Ren pernah menulis: “Bagi mereka yang ingin menjalani hidup impian, justru saat kamu mengejar idealismemu, kamu punya peluang untuk mendapatkan uang. Bukan sebaliknya. Karena dalam proses mengejar tujuanmu, kamu akan masuk ke lingkungan yang di dalamnya ada peluang.”

Saya sangat setuju.

Meskipun saya belum bisa berbicara banyak soal “kesuksesan”, saya bisa mengatakan bahwa versi diri saya yang sekarang—yang tampaknya menganggur dan tidak jelas arah—justru punya lebih banyak peluang dibandingkan saat dulu saya menjalani hidup yang terlalu “serius”.

Contohnya ketika saya mulai mengelola akun media sosial. Awalnya, saya ini orang yang sangat introvert dan kurang percaya diri. Meski lama bekerja di perusahaan besar, dalam hati saya selalu ingin jadi pekerja lepas.

Saya bukan orang yang punya bakat istimewa. Tapi dengan konsistensi selama tiga tahun, secara amatir dan sendiri, saya berhasil membangun audiens. Sekarang, saya bisa bertahan hidup dari menulis konten dan beberapa iklan kecil.

Yang membuat saya bertahan bukan karena potensi uang. Kalau pada hari pertama saya membuat akun ada yang bilang: “Tulis sekarang juga! Tiga tahun ke depan kamu akan punya ratusan ribu followers dan banyak iklan masuk!”—mungkin saya langsung berhenti hari itu juga.

Justru karena saya menyukai apa yang saya lakukan, semua ini bisa berkembang. Dari situ saya kemudian dikenali, direkrut oleh Alibaba, diperkenalkan dengan banyak teman baru, mendapat berbagai peluang, bahkan bertemu orang-orang luar biasa yang dulunya hanya bisa saya kagumi dari jauh.

Dan saya sangat tahu, semua ini bukan hanya karena nama perusahaan tempat saya pernah bekerja. Ketika kamu mengerjakan sesuatu dengan cukup baik, uang memang tidak langsung datang, tapi hal-hal baik lainnya akan datang sebagai bonus.

Kisah Teman Saya: Hidup untuk Traveling

Saya punya teman di Beijing, pekerjaannya tak pernah bertahan lebih dari dua tahun. Tujuannya jelas: mengumpulkan uang untuk perjalanan berikutnya.

Dia empat tahun lebih tua dari saya. Traveling adalah bagian dari hidupnya.

Saat pertama bertemu, saya sempat merasa dia gila. Saking penasaran, saya ingin membelah kepalanya dan melihat—sebenarnya apa sih yang ada di dalam pikirannya?

Saya punya banyak pertanyaan:

·        Bukankah dia khawatir terjadi hal buruk saat traveling?

·        Kalau uangnya habis, bagaimana?

·        Kalau pulang, bagaimana dia bertahan hidup?

·        Apa yang akan menopang masa depannya?

Jawaban dia sederhana: “Traveling adalah bagian dari hidupku. Aku sudah tahu ini sejak lama.”

Baginya, semua destinasi—Tokyo, Paris, New York, Meksiko—bukan impian yang besar, karena terlalu mudah dicapai.

“Tempat yang bisa kau capai hanya dengan membeli tiket pesawat, tidak layak disebut impian. Impian seharusnya tidak semurah itu.”

Saya langsung teringat kisah burung tak berkaki dari film Days of Being Wild—burung itu hanya bisa terus terbang, dan ketika lelah, dia tidur di tengah angin.

Keberanian yang Tidak Semua Orang Miliki

Sejak saat itu, saya berhenti mempertanyakan pilihannya. Terlepas dari latar belakang hidup yang terus berubah, dia selalu hidup sebagai dirinya yang sejati.

Ada orang bilang: “Selama punya kemampuan, dalam kondisi apa pun, kamu tetap bisa hidup dengan baik.”

Masalahnya adalah—banyak orang bahkan belum sempat menunjukkan kemampuannya karena mereka terlalu takut untuk mencoba.

Ada juga yang berkata: “Orang sukses itu karena beruntung.” 

Ya, mungkin. Tapi kalau kamu menggunakan kata “beruntung” untuk menenangkan hatimu setiap kali melihat orang sukses, ya saya tidak bisa berkata apa-apa.

Tapi saya ingin tanya balik: kenapa kamu tidak percaya bahwa kamu juga bisa seberuntung itu?

 Kalau kamu tidak pernah keluar dari zona nyaman, kapan keberuntungan bisa datang?

Semakin Tua, Biaya Menjalani Hidup Impian Semakin Mahal

Hal paling menyedihkan dari manusia adalah:

·        Mengeluh tentang hidup yang membosankan,

·        Menertawakan keberanian orang lain,

·        Tapi tetap nyaman menjalani hidup sebagai pecundang.

Seiring waktu berjalan, kita akan makin sulit hidup dengan cara yang kita inginkan. Bahkan, hak untuk memilih cara hidup pun perlahan dirampas oleh keadaan.

Bayangkan ketika kamu sudah tua, kamu mungkin:

·        Tidak bisa tidur dan bangun sesukamu,

·        Tidak bisa memilih makanan yang ingin kamu makan,

·        Tidak bisa bebas bergerak,

·        Bahkan tidak bisa ke kamar mandi tanpa bantuan.

Hidup Apa yang Kamu Mau? Mulailah Sekarang

Saya menulis ini bukan untuk menyuruhmu ikut-ikutan resign atau pergi traveling tanpa arah.

Yang ingin saya katakan adalah:

Kalau kamu tahu gaya hidup yang kamu inginkan, maka semakin cepat kamu bergerak ke arahnya, semakin baik.

Tidak ada satu pun gaya hidup atau pekerjaan yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Tidak ada standar tunggal. Hanya kamu yang tahu apa yang membuatmu bahagia.

Waktu Lebih Berharga dari Uang

Dalam dunia yang serba material, berapa banyak harta yang kamu miliki memang penting. Tapi waktu jauh lebih penting dari uang.

Nilai waktu tergantung bagaimana kamu menggunakannya dan untuk apa kamu menukarnya.

 Semua orang punya waktu yang sama—tapi “nilai tukarnya” berbeda. Ada orang yang bisa mendapatkan banyak hal dalam waktu sedikit. Ada juga yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapat secuil kebahagiaan.

Ingat: Dinding Itu Ada untuk Menguji Seberapa Besar Keinginanmu

Keinginan adalah sesuatu yang sulit dipuaskan. Banyak orang tahu apa yang mereka inginkan, tapi ketika akhirnya mendapatkannya, mereka malah tidak menginginkannya lagi.

Jadi, pikirkan baik-baik: Apa yang benar-benar bisa memberimu rasa puas dan damai?

Penulis dan dosen Randy Pausch, dalam pidato terkenalnya The Last Lecture, pernah berkata:

“Dalam perjalanan mengejar impian, kamu pasti akan bertemu banyak tembok penghalang. Tapi tembok itu bukan untuk menghalangi jalanmu. Tembok itu ada untuk menghalangi mereka yang tidak cukup menginginkannya. Tembok itu ada agar kita bisa membuktikan seberapa besar keinginan kita untuk mewujudkan impian.”

Mungkin masa-masa tak menentu yang kamu alami saat ini—yang tampak suram dan hampa—adalah salah satu tembok itu.

Kalau begitu, mari kita bertemu di balik tembok itu. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine