EtIndonesia. Platform investasi “stable coin” (mata uang stabil) asal Tiongkok yang pernah sangat populer, Xinkangjia, baru-baru ini tiba-tiba kolaps dan ditinggalkan. Media melaporkan bahwa sekitar 2 juta orang tertipu, dengan kerugian mencapai RMB.13 miliar (Rp29,9 triliun). Pendiri platform, Huang Xin, sempat meninggalkan pesan di grup anggota bahwa ia sudah berada di luar negeri, dan mengklaim telah mengambil “kekayaan yang tidak sebanding dengan IQ” para investor.
Media mengomentari bahwa penipuan semacam ini bukanlah hal baru, tetapi masih banyak orang yang terjebak karena mentalitas untung-untungan. Sampai kapan “permainan bodoh” semacam ini akan terus berlangsung?
Modus Penipuan Xinkangjia Terungkap
Platform yang mengklaim diri sebagai layanan investasi stable coin DGCX Xinkangjia tiba-tiba tidak bisa lagi mencairkan dana milik investor. Media daratan Tiongkok melaporkan, sekitar 2 juta anggota dengan total investasi sekitar RMB.13 miliar mendadak tidak bisa menarik dana.
Ketika para investor panik saling bertanya kabar di grup obrolan, pendiri platform Huang Xin muncul dan meninggalkan pesan mengejutkan bahwa dirinya sudah berada di luar negeri, dengan nada sombong dan menghina para korban.
Pesan Huang Xin di grup: “Setiap orang punya kekayaan yang sesuai dengan IQ-nya. Karena kekayaan kalian tidak cocok dengan IQ kalian, saya hanya membantu menyamakan keduanya. Saya hanya mengambil kekayaan yang tak sesuai dengan kecerdasan kalian. Semoga kalian bersyukur pada saya dan mengingat pelajaran yang saya berikan kali ini.”

Janji Keuntungan Fantastis dan Klaim Palsu
Berdasarkan informasi yang tersedia, Xinkangjia didirikan pada tahun 2021, dan mengklaim menggunakan teknologi big data eksklusif untuk melakukan perdagangan berjangka komoditas seperti emas, minyak, dan valas menggunakan USDT di Timur Tengah. Mereka menjanjikan keuntungan minimal 1% dari modal setiap hari kepada investor.
Slogan pemasaran mereka adalah: “Terhubung dengan modal Dubai, membangun platform kekayaan global.”
Selama masa operasinya, Xinkangjia sempat memanfaatkan istilah seperti “yuan digital” dan “stable coin” untuk menarik perhatian publik. Mereka juga pernah mengklaim menjalin “kerja sama strategis lima tahun” dengan perusahaan milik negara China National Petroleum Corporation (CNPC). Namun setelah platform kolaps, media Tiongkok mengklarifikasi bahwa kerja sama itu hanya sebatas pembelian peralatan minyak dan tidak ada hubungan kemitraan resmi.
Intinya, platform ini hanyalah skema Ponzi berkedok investasi mata uang kripto, yang memikat konsumen dengan janji keuntungan tinggi.
Sistem Perekrutan Berjenjang & Iming-Iming Hadiah
Menurut laporan Beijing Business Today, metode utama Xinkangjia untuk menarik investor adalah dengan menawarkan bonus rekrut langsung, komisi tim, serta sistem pangkat dan bagi hasil berdasarkan jumlah orang yang direkrut. Mereka juga kerap mengadakan pertemuan langsung dan membentuk grup WeChat untuk mempromosikan program ini.
Salah satu dokumen skema bonus Xinkangjia menunjukkan adanya 9 tingkatan pangkat.
- Pangkat tertinggi “Komandan” mendapat 150 USDT per orang yang direkrut langsung.
- Pangkat terendah “Komandan regu” mendapat 10 USDT per rekrut langsung.
- Setiap tingkat di atasnya mendapat tambahan bonus minimum.
- Semua bonus diambil dari dana yang disetor oleh anggota bawahan.
Kisah Korban: Iming-Iming & Penyesalan
Seorang mantan investor bernama Huang Zheng mengatakan kepada media bahwa pemimpin timnya bahkan membuka kantor kecil di depan kawasan perumahan untuk menarik penduduk lokal. Ia menyebutkan bahwa:
- Modal minimum untuk ikut serta adalah RMB.15.200
- Dari jumlah itu, hanya sekitar RMB.14.700 yang masuk ke akun USDT
- Sisanya sekitar RMb.500 menjadi keuntungan langsung bagi perekrut
- Setiap kali berhasil merekrut anggota baru, investor mendapat 200 USDT sebagai hadiah
Sejumlah orang yang masuk lebih awal sempat meraup keuntungan besar. Namun, sejak 25 Juni 2025, platform tidak bisa lagi mencairkan dana. Investor yang mencoba menarik uang diberi alasan bahwa “perusahaan dianggap melakukan penggelapan pajak oleh regulator dan semua dana dibekukan.” Setelah itu, platform tidak memberikan tanggapan apa pun lagi.
Sudah Masuk Daftar Hitam Sejak 2024
Menurut data dari platform Tianyancha, entitas operasional Xinkangjia—Guizhou Xinkangjia Big Data Services Co., Ltd.—sudah masuk daftar hitam karena “tidak dapat dihubungi di alamat terdaftar” pada Agustus dan Oktober 2024, serta 25 Juni 2025. Pada 18 Mei 2025, perusahaan ini juga telah mengajukan pembubaran resmi kepada otoritas terkait.
Warganet: Ada yang Masih Pamer Untung & Ajak Masuk Proyek Baru
Laporan juga menyebut bahwa setelah skandal ini mencuat, masih banyak orang di forum daring yang membahas cara bermain di skema ponzi seperti ini. Bahkan, ada pengguna yang membanggakan diri karena masuk lebih awal dan keluar tepat waktu sehingga meraup untung besar.
Ironisnya, ada juga yang malah memanfaatkan kolom komentar untuk mempromosikan skema ponzi baru dan mengajak pengguna lain bergabung sebagai “downline”.
Ahli: Ini Bukan Platform Kripto Nyata, Hanya Tipu Muslihat Lama
Yu Jianing, Direktur Asosiasi Analis Aset Digital Terdaftar di Hong Kong, menyatakan bahwa kasus Xinkangjia adalah contoh penggalangan dana ilegal dan penipuan murni. Platform ini tidak memenuhi syarat sebagai bursa aset digital yang sesungguhnya dan tidak memiliki sistem perdagangan yang didukung teknologi nyata.
Menurut Yu, struktur ponzi tradisional disisipkan ke dalam sistem sirkulasi stable coin seperti USDT, sehingga memungkinkan pengumpulan dana besar secara lintas negara dan menghindari pengawasan keuangan resmi.
Yu menambahkan, skema seperti ini bukan hal baru. Banyak peserta sebenarnya menyadari bahwa model bisnisnya adalah “gali lubang tutup lubang”, namun tetap berharap bukan mereka yang jadi korban terakhir. Mereka mengambil risiko dengan harapan untung cepat, padahal mengandalkan kerugian orang lain dan mengabaikan risiko serta kontrol penuh yang dimiliki pengelola platform. (Hui/asr)
Laporan disusun oleh wartawan Li Ming / Zheng Yu


