Rusia Luncurkan Serangan Udara Terbesar, Trump Kecam Putin: Omong Kosong Belaka

Rusia pada Rabu (9 Juli) dini hari, kembali meluncurkan serangan terbesar terhadap Ukraina, dengan mengerahkan 728 drone dan 13 rudal yang menggempur berbagai wilayah di negara tersebut. Presiden AS Donald Trump secara terbuka dan jarang terjadi, mengecam keras Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai “pembunuh massal”, dan menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mendukung sanksi berat terhadap Tiongkok dan India. Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Paus dan Kanselir Jerman di Roma, membahas rencana bantuan dan rekonstruksi pasca-gencatan senjata.

EtIndonesia. Serangan udara Rusia terhadap Ukraina terus meningkat. Pada Rabu dini hari, sebanyak 728 drone dari berbagai jenis dan 13 rudal diarahkan ke lebih dari sepuluh wilayah di seluruh Ukraina. Kota Lutsk di bagian barat laut menjadi sasaran utama serangan ini, di mana sejumlah bangunan rusak dan terbakar, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Militer Ukraina menyatakan bahwa pasukan pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh hampir semua drone Rusia, berkat tim pemintas drone dan satuan tembak mobil yang berperan besar dalam pertahanan tersebut.

Serangan terbaru dari Moskow ini kembali mencetak rekor sebagai serangan udara terbesar. Sehari sebelumnya, Presiden Trump menyampaikan kritik yang tidak biasa terhadap Putin karena terus melancarkan perang dan mengabaikan nyawa manusia.

Presiden AS Donald Trump:  “Kami tidak senang dengan Putin. Saya tidak senang dengan Putin. Saya katakan sekarang juga, karena dia telah membunuh banyak orang, dan sebagian besar dari mereka adalah tentaranya sendiri. Saat ini, sekitar 7.000 orang tewas setiap minggu. Saya tidak senang dengan Putin.”

Trump menambahkan:  “Putin mengatakan banyak omong kosong kepada kami, kalau kamu mau tahu kebenarannya. Dia selalu bersikap ramah, tapi semua omong kosong itu ternyata tidak ada artinya.”

Menghadapi situasi perang yang terus memburuk, Trump mengatakan dirinya tengah mempertimbangkan secara serius apakah akan mendukung rancangan undang-undang sanksi berat terhadap Rusia yang sedang dibahas di Senat.

Senator AS Richard Blumenthal:  “Bagi Tiongkok (PKT) dan India yang membeli minyak Rusia dan memperkuat mesin perang Putin, sanksi ini akan sangat kuat, keras, dan menghancurkan. Ini akan menjadi pukulan telak bagi Putin.”

Trump sebelumnya enggan menjatuhkan sanksi semacam itu, karena berharap Putin akan bersedia berunding dan menyepakati gencatan senjata.

Pada Rabu, Presiden Ukraina Zelenskyy tiba di Roma, Italia, dan dalam beberapa hari ke depan akan mengadakan konferensi bersama sekutu Barat guna membahas rekonstruksi Ukraina serta bantuan pascaperang.

Kanselir Jerman Friedrich Merz:  “Kami akan bertemu di Roma besok untuk membahas secara rinci situasi pasca gencatan senjata. Selama konferensi ini, kami juga akan mengadakan pertemuan virtual dengan ‘Koalisi Relawan’ untuk mendiskusikan lebih lanjut bantuan dan pengiriman senjata ke Ukraina.”

Paus pada Rabu menyampaikan kepada Zelenskyy bahwa Vatikan bersedia menjadi tuan rumah perundingan damai antara Rusia dan Ukraina.

Di hari yang sama, Zelenskyy juga bertemu dengan utusan Trump untuk Ukraina, Jenderal Keith Kellogg. Sehari sebelumnya, Trump sudah menjanjikan pengiriman lebih banyak senjata pertahanan ke Kyiv. (Hui/asr)

Laporan gabungan wartawan NTD, Yi Jing

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine