EtIndonesia. Baik pria maupun wanita, ada batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar, ada kesalahan tertentu yang jangan pernah coba dilakukan. Sekali salah langkah, sangat sulit untuk kembali seperti semula.
Banyak Orang dalam Pernikahan Mudah Bosan dan Selingkuh
Tak peduli betapa dalam cinta itu dulu, seiring waktu, gairah perlahan pudar dan rasa bosan mulai tumbuh. Akibatnya, muncul pertengkaran, perselingkuhan, bahkan perceraian…
Jika seseorang tidak benar-benar mengenali dirinya sendiri—tidak tahu jenis hubungan yang sebenarnya dia butuhkan—dan hanya tahu melarikan diri lewat perceraian atau perselingkuhan, maka dia hanya akan terus terperangkap dalam hidup yang penuh penyesalan dan kesengsaraan.
Dan hingga hari ini, kenyataan itu tetap sama.
Perselingkuhan tidak akan membawa musim semi kedua dalam hidup, sebaliknya justru membawa kita masuk ke dalam lubang yang lebih dalam. Cepat atau lambat, semua akan menerima akibatnya—dan yang paling terasa adalah saat usia senja tiba.
01. Anak Menyimpan Dendam, Rezeki Terkikis
“Dalam cinta, orang bisa memaafkan kebodohan yang serius, tapi tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan.”
Kalimat dari Gustave Flaubert ini mengingatkan kita bahwa—orang yang mengkhianati pernikahan akan sangat mudah kehilangan segalanya: keluarga, teman, harga diri.
Entah hanya bermain-main, atau terbawa nafsu, sekali kesalahan terjadi, pengampunan sejati akan sangat sulit didapat.
Kalaupun bisa kembali ke rumah, luka yang pernah ditorehkan tetap akan seperti duri yang tertanam di hati pasangan—menyakitkan, mengganjal, dan tak pernah benar-benar terlupakan.
Karma dari saling menyakiti dalam hubungan bisa mengacaukan energi rezeki dalam hidup.
Ada pepatah yang berkata: “Manusia adalah makhluk fisik, mudah rusak, sulit dipulihkan.”
Sebuah hubungan yang pernah dilukai oleh perselingkuhan, bagaikan cermin yang retak—sekeras apa pun usaha memperbaikinya, tetap takkan sama.
Akhirnya hanya menyisakan kekecewaan, kebencian dari anak-anak, dan hancurnya keberuntungan.
Sebanyak apa pun permintaan maaf, semuanya sudah terlambat.
02. Reputasi Tercoreng, Keberkahan Menyusut
Ada wanita yang berharap hubungan gelapnya dengan pria lain bisa bertahan lama. Saat dia hamil, dia bertanya: “Haruskah aku melahirkan anak ini?”
Ada pula yang sudah memiliki anak dari hubungan terlarang, tapi sang pria enggan bertanggung jawab, tak memberi nafkah.
Ada juga yang baru menyadari setelah belasan tahun menikah bahwa suaminya ternyata sudah lama berselingkuh, bahkan punya anak di luar.
Semua kisah ini terdengar seperti drama, tapi semuanya nyata—terjadi di sekitar kita.
Anak dalam hubungan terlarang seharusnya tidak pernah ada. Memaksakan untuk melahirkan hanya akan menyakiti diri sendiri dan mempermainkan kehidupan. Tapi tetap saja, banyak wanita menabrak tembok ini karena merasa terlalu cinta atau ingin mempertahankan pria dengan cara “mengikatnya lewat anak.”
Tapi ingat baik-baik: Seks dan anak tidak akan bisa membuat pria bertahan.
Ada yang berkata bahwa dalam pernikahan masa kini, kesetiaan bukan lagi prinsip mutlak. Namun sekalipun angka perselingkuhan tinggi, perselingkuhan tetaplah perbuatan yang memalukan.
Begitu rahasia terbongkar, nama baik, kedudukan, dan karier akan hancur berkeping-keping.
Sudah terlalu banyak orang yang “terjebak dan karam” dalam hubungan di luar pernikahan.
Kebahagiaan yang sesaat itu selalu datang dengan harga yang harus dibayar.
03. Tua Tanpa Sandaran, Hari Senja Penuh Nestapa
“Pasangan muda, pendamping tua”—itu kalimat yang sudah sangat akrab di telinga.
Namun tidak banyak yang benar-benar menanamkannya dalam hati.
Saat muda, nafsu begitu kuat, mudah tergoda hal-hal baru, merasa bangga bisa bermain api di luar. Tapi sebagus apa pun kamu menyembunyikannya, pada akhirnya kebenaran akan terungkap—dan perceraian menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
Awalnya mungkin kamu tidak peduli. Tapi ketika usia sudah lanjut, tubuh mulai sakit-sakitan, dan tidak ada satu orang pun di sampingmu—saat itulah kamu akan merasakan kesepian yang paling menusuk.
Ada pepatah yang berkata:
“Pernikahan itu ibarat serigala. Kalau kamu memberinya makan sampai kenyang, dia akan loyal seperti anjing. Tapi kalau kamu tak sanggup memberinya makan, dia tak segan menerkammu sampai mati.”
Jika saat muda kamu tidak menghargai pernikahan, maka jangan berharap bisa diperlakukan baik oleh pernikahan saat tua.
Hidup tanpa sandaran, tua dalam kesepian—semuanya adalah hasil dari perbuatan sendiri, tak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Pernikahan Itu Mudah Dimulai, Sulit Dipertahankan
Justru karena mempertahankan lebih sulit, maka kita perlu menjaganya dengan sungguh-sungguh. Pernikahan itu seperti taman: kalau tidak dirawat, maka akan ditumbuhi duri.
Baik pria maupun wanita—ada batas-batas moral yang tidak boleh dilanggar, ada kesalahan yang tak bisa diulang. Sekali melangkah salah, akan sangat sulit kembali seperti semula.
Hanya dengan bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, barulah kita bisa meraih kebahagiaan dalam perjalanan panjang bernama pernikahan.(jhn/yn)


