Kasus 230 Lebih Anak TK Keracunan Timbal di Tianshui, Tiongkok  Picu Ledakan Opini Publik

Kasus keracunan timbal massal yang menimpa anak-anak di Taman Kanak-Kanak Heshih Peixin di Kota Tianshui, Provinsi Gansu,Tiongkok  terus memicu kemarahan publik. Menurut sejumlah orang tua, hasil tes darah timbal yang dilakukan secara kolektif oleh pihak TK setempat sangat berbeda jauh dengan hasil tes yang mereka lakukan sendiri di rumah sakit di Xi’an.  Selain itu, para orang tua juga mengalami intimidasi dan ancaman dari aparat pemerintah daerah. Pihak berwenang mengumumkan bahwa penyebab keracunan adalah karena adanya zat pewarna lukis yang ditambahkan ke dalam makanan di dapur sekolah. Namun, penjelasan ini dinilai penuh kejanggalan.

EtIndonesia. Pada 8 Juli, pemerintah Kota Tianshui mengumumkan bahwa dari 251 anak di TK tersebut, sebanyak 233 anak terdeteksi mengalami kelainan kadar timbal dalam darah. Penyebabnya, menurut mereka, adalah karena staf dapur TK membeli cat lukis yang tidak bisa dimakan, lalu mencairkannya dan mencampurkannya ke dalam makanan. Pernyataan resmi ini memicu kemarahan publik di dunia maya.

Seorang pegawai negeri bernama  Wang mengatakan:  “Mereka bilang itu karena cat, itu sungguh merendahkan akal sehat orang. Begitu dibuka saja sudah tercium baunya, siapa yang mau makan roti kukus seperti itu? Tukang roti dan juru masak itu bukan orang bodoh.”

Seorang blogger Tiongkok berkomentar:  “Kasus 233 anak yang terdeteksi mengalami kelainan kadar timbal di Tianshui, sejak pertama kali saya dengar sampai sekarang, saya benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ini jelas bukan sekadar insiden keamanan pangan biasa.”

Warganet pun mempertanyakan, mengapa dari empat TK yang didirikan oleh Kepala TK Li Huifang, hanya TK ini yang mengalami kejadian keracunan?

Pada hari yang sama, sebuah pabrik cat di Shenzhen mengeluarkan pernyataan resmi bahwa produk cat lukis mereka tidak mengandung timbal atau logam berat lainnya.

Selain itu, banyak orangtua anak korban mengeluhkan bahwa hasil tes kadar timbal anak mereka di rumah sakit di Gansu dan Xi’an bisa berbeda hingga puluhan kali lipat, bahkan ada yang selisihnya 20 kali lipat. 

Setelah kasus ini mencuat, pihak berwenang tidak hanya melarang mereka menyuarakan keadilan di internet, tapi bahkan pejabat dari Tianshui mendatangi rumah sakit di Xi’an untuk melakukan “stabilitas sosial” dengan cara membujuk dan mengancam: jika tidak pulang, tidak akan mendapat penggantian biaya asuransi kesehatan, namun jika pulang, akan diberi pengobatan gratis.

Orang tua korban, Zhao Qiang, mengatakan:  “Pemerintah menyebutnya kelebihan timbal, padahal diagnosisnya adalah keracunan timbal. Ini bukan cuma ‘kelebihan’, tapi memang keracunan. Dan dalam jumlah sebesar itu, pasti hasil dari paparan jangka panjang. Kami tidak mau kembali ke sana untuk berobat, karena sudah tidak ada kepercayaan.” 

“Perbedaan hasil tesnya sampai dua puluh kali lipat. Di Xi’an, sekitar 200 anak juga dirawat, tapi belum ada yang membaik. Pemerintah memang sudah mengeluarkan pernyataan, tapi ada hal-hal yang tidak bisa kami katakan, salah bicara satu kata saja bisa dipenjara,” lanjutnya. 

Dalam peta, terlihat bahwa tidak jauh dari lokasi TK tersebut terdapat pusat transit timbal-seng milik perusahaan milik negara Tiongkok, yakni Baiyin Nonferrous Group. Berdasarkan informasi publik, perusahaan ini berada di bawah pengawasan Komisi Pengelolaan Aset Negara Provinsi Gansu.

Menurut media Tiongkok, 20 tahun lalu di Distrik Maiji, Kota Tianshui, juga pernah terjadi kasus keracunan timbal massal pada anak-anak. Saat itu, pemerintah menyatakan penyebabnya adalah limbah beracun yang dibuang secara ilegal oleh sebuah pabrik setempat.

Pembawa acara program “Jingyuan Commentary”, Tang Jingyuan, mengatakan:  “Kasus keracunan timbal di TK Tianshui ini sangat mungkin disebabkan oleh pencemaran air tanah atau tanah akibat tambang timbal di daerah tersebut. Pemerintah daerah demi kepentingan ekonomi dan karier politiknya, sudah lama menutup-nutupi masalah ini.”

Dalam insiden kali ini, pihak berwenang mengumumkan bahwa kepala TK dan pemilik investasi, total 8 orang, telah ditahan secara pidana. Namun analisis menyebutkan, kemungkinan besar pemerintah daerah sedang mencari kambing hitam untuk melempar tanggung jawab.

Tang Jingyuan melanjutkan:  “Kalau bisa mengatur rumah sakit setempat untuk memanipulasi hasil tes darah dalam jumlah besar, dan berbohong tanpa rasa malu, jelas bahwa orang seperti itu bukan hanya sekadar kepala TK seperti Li Huifang. Satu-satunya penjelasan masuk akal adalah bahwa ada kekuatan dari level pemerintah yang ikut campur.” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Tang Rui dan Xiong Bin.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine