Pada Rabu (9 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif impor baru terhadap delapan negara. Di antara negara-negara tersebut, Brasil dikenakan tarif tertinggi sebesar 50%. Trump menyebut Brasil, anggota BRICS, selalu memperlakukan AS dengan buruk, dan menyinggung kasus hukum terhadap mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro sebagai sebuah bentuk penganiayaan politik.
Para pakar menilai, meskipun Brasil menjalin hubungan erat dengan Tiongkok, namun ketergantungannya terhadap perdagangan dengan AS sangat besar, dan kemungkinan besar akan mengalah. Sementara itu, Taiwan kembali tidak termasuk dalam daftar negara yang dikenai tarif baru, dan Pemerintah Taiwan menyatakan bahwa mereka sedang melakukan negosiasi dengan pihak AS.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara bertahap mengumumkan tarif untuk delapan negara, termasuk Filipina, Brunei, Irak, dan Sri Lanka. Tarifnya berkisar antara 20% hingga 50%.
Dari seluruh negara tersebut, Brasil mendapat tarif tertinggi, yakni 50%, jauh melampaui tarif 10% yang diumumkan pada 2 April 2025.
Presiden AS Donald Trump (9 Juli 2025): “Ambil contoh Brasil — mereka selalu memperlakukan kita dengan buruk, sangat buruk.”
Profesor Xie Tian dari Sekolah Bisnis Aiken, Universitas South Carolina, menjelaskan: “Brasil menjalin hubungan erat dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), dan pernah melakukan dumping besar-besaran baja ke pasar AS. Oleh karena itu, saat AS menentang praktik dumping baja beberapa tahun lalu, sasaran utamanya adalah Tiongkok dan Brasil.”
Dalam surat tarifnya, Trump menyebut langsung kasus Bolsonaro, mantan Presiden Brasil yang kini diadili karena dituduh berusaha membatalkan hasil pemilu 2022. Trump menganggap kasus tersebut adalah penganiayaan politik.
Xie Tian mengatakan: “Bolsonaro sebenarnya mewakili suara rakyat Brasil, kekuatan yang mendukung sistem kapitalis yang tradisional dan konservatif, serta menentang agenda sosialisme kiri. Dukungan Trump ditujukan pada kekuatan pro-kapitalis dan konservatif tradisional Brasil yang menentang sosialisme.”
Meskipun Brasil mengancam akan membalas dengan mengenakan tarif 50% terhadap produk AS, namun Trump dalam suratnya sudah menyatakan: jika Brasil membalas, maka AS akan menaikkan tarif lebih tinggi lagi, yakni dengan menambahkan tarif balasan Brasil ke tarif awal 50%.
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, pada Kamis, secara terbuka menanggapi tarif tersebut dengan sikap yang tetap keras.
“Tanpa ragu, kami akan berusaha bernegosiasi terlebih dahulu. Tapi jika gagal, kami akan menerapkan tindakan balasan yang setara. Jika dia mengenakan tarif 50% kepada kami, kami juga akan mengenakan tarif 50% kepadanya,” katanya.
Namun menurut laporan, sumber internal menyebutkan bahwa Lula kemungkinan tidak akan mengumumkan balasan konkret sebelum tarif resmi diberlakukan.
Xie Tian menambahkan: “Masih ada waktu hingga 1 Agustus. Seperti halnya Tiongkok yang akhirnya juga bernegosiasi dengan AS, karena pada akhirnya, lebih baik mendapat sedikit keuntungan daripada tidak mendapat sama sekali. Mereka tetap membutuhkan pasar AS. Jadi, Brasil mungkin akan berakhir dalam posisi yang mirip dengan Tiongkok — saya percaya mereka akhirnya akan tunduk.”
“Kemungkinan besar, produk AS akan masuk ke Brasil dengan tarif rendah atau bahkan nol, sedangkan produk Brasil akan dikenai tarif berbeda saat masuk ke pasar AS,” tambahnya.
Selain minyak, Brasil juga mengekspor jus jeruk, kopi, serta besi dan baja ke Amerika Serikat. Menurut perkiraan Goldman Sachs, jika tarif 50% tetap diberlakukan, maka PDB Brasil akan turun sebesar 0,3% hingga 0,4%.
Dalam surat tarif gelombang kedua dari Trump, Taiwan kembali tidak termasuk dalam daftar. Kantor Eksekutif Taiwan (Executive Yuan) pada Kamis (10 Juli) menyatakan optimis, dan menyebut bahwa perwakilan mereka telah melakukan pertemuan langsung dengan pihak AS pada Selasa (8/7) dan telah mencapai konsensus serta sedang menyusun negosiasi selanjutnya.
“Menurut saya, strategi terbaik Taiwan adalah dengan secara aktif mengurangi defisit perdagangan, sambil menjamin keamanan energi dan rantai pasokan, serta mendukung AS dalam menghadapi Tiongkok. Taiwan punya makna strategis dan keamanan nasional yang penting, jadi harus menjaga hubungan aliansi yang baik dengan AS,” kata Xie Tian. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan NTD, Wang Ziyi dari Amerika Serikat.


