Serangan Udara di Biara Buddha di Myanmar Tewaskan 23 Orang, Termasuk Empat Anak-Anak

EtIndonesia. Serangan udara di sebuah biara Buddha di wilayah Sagaing, Myanmar, menewaskan sedikitnya 23 orang yang berlindung di kompleks tersebut, menurut sumber pada hari Jumat (11/7).Serangan udara yang terjadi semalam di biara di Desa Lin Ta Lu, Kotapraja Sagaing, melukai sekitar 30 orang lainnya, 10 di antaranya dalam kondisi kritis, menurut seorang anggota kelompok perlawanan.

Anggota kelompok perlawanan tersebut—yang berbicara dengan syarat anonim—mengatakan kepada awak media bahwa 23 warga sipil, termasuk empat anak-anak, tewas setelah sebuah jet tempur menjatuhkan bom sekitar pukul 01.00 dini hari di sebuah bangunan di biara desa tersebut, tempat lebih dari 150 orang dari desa-desa terdekat berlindung untuk menghindari pertempuran di wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Jumlah korban tewas bisa mencapai 30 orang, kata media daring independen Myanmar, Democratic Voice of Burma, tetapi belum dapat diverifikasi.

Militer tidak berkomentar mengenai insiden di biara tersebut, yang terletak sekitar 35 km di barat laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar. Militer sebelumnya menyatakan bahwa mereka hanya menyerang target perang yang sah, menuduh pasukan perlawanan sebagai teroris.

Myanmar telah dilanda kekacauan sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021, yang memicu perang saudara. Junta militer memadamkan demonstrasi damai dengan kekuatan mematikan, yang kemudian memicu banyak penentang pemerintahan militer angkat senjata, dan sebagian besar wilayah negara tersebut kini dilanda konflik.

‘Militer menggunakan serangan udara untuk melawan pasukan oposisi’

Militer semakin gencar menggunakan serangan udara untuk melawan pasukan oposisi, termasuk Pasukan Pertahanan Rakyat (Parlemen) yang bersenjata di wilayah Sagaing, basis perlawanan bersenjata, yang tidak memiliki pertahanan efektif terhadap serangan udara.

Serangan udara di biara tersebut terjadi beberapa minggu setelah ratusan tentara melancarkan serangan dengan tank dan berbagai pesawat di wilayah sekitar 5 km dari Lin Ta Lu untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok perlawanan.

Rezim militer di Myanmar telah berupaya merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok perlawanan menjelang pemilihan umum yang direncanakan akhir tahun ini. Pemilu ini secara luas dipandang sebagai upaya untuk menormalisasi perebutan kekuasaan oleh militer melalui kotak suara dan untuk memberikan hasil yang memastikan para jenderal tetap memegang kendali. (yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine