Tidak Ada Penyakit yang Datang Tanpa Sebab

EtIndonesia. “Jangan terlalu banyak berpikir, maka hidup akan bahagia. Dengan kata lain, kebahagiaan adalah ketika kita tidak terlalu banyak berpikir.”

Tabib besar zaman Dinasti Yuan, Luo Tianyi, pernah berkata:  “Ketika hati kacau, selaksa penyakit akan muncul; ketika hati tenang, segala penyakit akan mereda.”

Di dunia ini, tidak ada penyakit atau penderitaan yang datang tanpa sebab. Sering kali, penyakit itu tidak bersumber dari tubuh, melainkan dari hati.

Seseorang yang sering gelisah, cemas, berkata dan bertindak tanpa berpikir, sejatinya sedang menguras habis peruntungannya, dan perlahan-lahan menghancurkan tubuh dan pikirannya sendiri.

Kurangi beban pikiran yang tak perlu, jaga laku dan ucapan, jauhkan diri dari urusan benar-salah orang lain, maka hidup akan terasa lebih ringan dan jernih.

Kehidupan Baru Dimulai Saat Kekhawatiran Ditinggalkan

Pikiran manusia, jika terus dibiarkan tumbuh liar seperti sulur tanaman, pada akhirnya akan membelit diri sendiri.

Terlalu terpaku pada hal-hal kecil, terlalu peduli pada omongan orang lain, satu pikiran saja bisa berputar-putar menyiksa batin.

Akibatnya? Sulit tidur, makan pun tidak enak, emosi tak terkendali. Lambat laun, tubuh menjadi wadah dari emosi buruk, dan penyakit pun berdatangan.

Terlalu banyak khawatir adalah bentuk penghancuran diri sendiri. Namun ada kisah menarik:

Saat Kaisar Xuan dari Han berkuasa, seorang pejabat bernama Xiahou Sheng dijatuhi hukuman mati karena berani mengkritik kaisar. Sahabatnya, Huang Ba, yang menolak ikut menandatangani surat pemakzulan, juga ikut dipenjara.

Dalam tahanan, Huang Ba tetap mempelajari kitab-kitab, bahkan meminta Xiahou Sheng mengajarinya Shangshu (kitab klasik Tiongkok).

Xiahou Sheng heran: “Umur kita tinggal sebentar lagi, untuk apa belajar?”

Huang Ba menjawab: “Kata Konghucu: ‘Jika pagi ini aku mendengar jalan kebajikan, maka sore harinya aku bisa mati dengan tenang.'”

Perkataan itu menggugah Xiahou Sheng. Selama tiga tahun dalam tahanan, keduanya berdiskusi siang dan malam tanpa mempedulikan hidup-mati.

Akhirnya, mereka dibebaskan. Xiahou Sheng pun menjadi guru kaisar dan hidup bahagia hingga usia 90 tahun.

Penulis Feng Tang pernah berkata dalam Semua Makhluk Tumbuh: “Aku berhenti terlalu banyak berpikir, maka aku bahagia. Dengan kata lain, kebahagiaan adalah tidak terlalu banyak berpikir.”

Hati manusia seperti sumur: makin digali makin dalam, makin dipikirkan makin menyakitkan.

Terlalu banyak mempermasalahkan, membuat pikiran lelah; terlalu keras dalam segala hal, membuat tubuh pun kelelahan.

Orang yang benar-benar beruntung bukanlah mereka yang tak punya masalah, tapi mereka yang mampu menempatkan kecemasan di luar pintu hati.

Ketika hati menjadi lapang, hidup pun menjadi lebih ringan.

Paruh kedua kehidupan adalah tentang menyelamatkan diri sendiri: kendurkan beban, hentikan lamunan tak berujung, tenangkan hati dan pikiran, maka tubuh akan enteng, napas akan lancar, dan hari-hari akan jauh lebih cerah.

Mengendalikan Lidah dan Tangan, Hidup Akan Damai

Orang dahulu berkata: “Saat tubuh menganggur, pikiran jadi penuh kekacauan; saat hati kosong, segala hal kecil menjadi besar.”

Banyak penyakit bukan berasal dari diri sendiri, tapi dari terlalu ikut campur dalam urusan orang lain.

Hidup tidak pernah memberikan penghargaan kepada orang yang terlalu banyak bicara dan ikut campur.

Jika kamu mencampuri hal yang tak perlu dicampuri, ikut campur urusan yang bukan milikmu, maka ujungnya bukan hanya relasi yang rusak, tapi tubuh pun bisa tumbang.

Terlalu ikut campur dalam karma orang lain, sebenarnya sedang mengundang kesialan sendiri.

Contohnya, saat Dinasti Song Utara, pejabat tinggi Fan Zhongyan sangat dekat dengan temannya Zhang Yuan, yang telah bekerja di ibu kota selama 18 tahun namun belum pernah mendapatkan rumah dinas.

Ketika Fan menjadi Perdana Menteri, ia masih memikirkan sahabatnya itu. Saat Kaisar mengeluarkan perintah pembangunan rumah baru untuk para pejabat, Fan diam-diam memilihkan rumah terbaik untuk Zhang Yuan.

Rumah itu dekat jalan besar, nyaman untuk bepergian, aman dari pencurian karena dekat pos jaga, dan punya jendela besar di belakang untuk sirkulasi udara.

Namun saat melihat rumah itu, Zhang Yuan malah kecewa.  Dia mengeluh: rumah di pinggir jalan terlalu bising, dekat pos jaga terlalu berisik di malam hari, jendela besar membuat udara dingin di musim dingin, dan sebagainya.

Fan ingin memberi kejutan, tapi malah dianggap merugikan. Niat baik pun berubah menjadi usaha sia-sia.

Karma dalam hidup memiliki aturan tersendiri. Jika kamu ingin mengatur hidup orang lain, maka kamu juga harus siap menanggung konsekuensinya.

Penulis dan cendekiawan Yang Jiang pernah berkata: “Tak peduli siapa itu, aku akan memperlakukanmu sebagaimana kau memperlakukanku. Jika kebaikan tak dihargai, maka biarlah kebaikan itu tumbuh duri.”

Hati manusia tidak sama—tidak semua orang layak mendapatkan kebaikanmu.

Maka, lakukanlah segala sesuatu sesuai kemampuan. Berikan kebaikan hanya pada mereka yang hatinya sama baik.

Jika seseorang mampu menjaga batas:
– Tidak membicarakan hal yang tak perlu dibicarakan,
– Tidak mencampuri urusan yang bukan urusannya,
– Tidak berjalan ke jalan yang bukan jalannya.
Maka dia sedang menggenggam keberuntungan sejatinya.

Menyaring Ucapan Buruk Orang Lain, Maka Hidup Akan Merdeka

Kalimat “bakat Jiang Lang sudah habis” pernah menjadi luka sensitif bagi penulis Nanpai Sanshu.

Dulu, jika seseorang mengatakan itu, wajahnya langsung berubah muram dan dia akan membalas: “Kamu yang bakatnya habis!”

Namun kini, setelah melewati usia 40 tahun, dia hanya tertawa ringan dan berkata: “Memang saya tidak terlalu berbakat.”

Perjalanan dari marah hingga legawa, ia tempuh selama hampir satu dekade.

Tahun 2013, dia berhenti menulis karena depresi.

Sebelumnya, dia terlalu memikirkan komentar di media sosial, semakin dipikir semakin sakit hati, hingga akhirnya emosinya meledak.

Dia memaksa diri untuk ganti komputer, ganti software, bahkan ganti font tulisan, tapi tetap tidak bisa menulis.

Pikiran yang terus dikuras membuat hidupnya kacau. Hingga suatu hari, dia sadar: dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Dia memutus semua suara dari luar, tak lagi peduli komentar orang, dan hanya fokus menulis cerita yang ingin dia tulis.

Ketika tak lagi terobsesi dengan “bakat”, dan terbebas dari tekanan harus selalu bagus, dia justru menemukan kembali kebebasan dalam menulis.

Kini, karya-karyanya terasa lebih bebas, dan dia pun hidup dengan lebih ringan.

Dalam Zengguang Xianwen dikatakan: “Siapa yang tak dibicarakan di belakang? Siapa yang tak bicara tentang orang lain?”

Hidup ini penuh saat-saat di mana kita tidak akan dipahami orang lain.

Namun, banyak orang tak mampu melepaskan diri dari beberapa kata orang, makin dipikir makin sakit hati, akhirnya menghancurkan hati dan tubuh sendiri.

Jika kamu selalu menyimpan kata-kata buruk orang lain, itu seperti menimbun sampah dalam hati sendiri.

Penulis Zhou Guoping berkata: “Dimengerti orang lain adalah keberuntungan, tapi tidak dimengerti bukan berarti bencana.”

Sebagian besar ucapan buruk di dunia ini, sebenarnya tak pantas dipikirkan.

Orang yang bijak akan menganggap ucapan buruk itu hanya seperti suara latar belakang, dan tetap melangkah maju.

Ingatlah: yang keluar dari mulut orang lain adalah milik dunia mereka, bukan takdir hidupmu.

Seseorang yang tak terpengaruh oleh perkataan orang, tak terluka oleh cibiran, dan mampu terus memperbaiki diri dalam keheningan—ketika ia menjadi kuat, segala masalah pun akan teratasi.

Penyakit Besar Seringkali Datang dari Ketidakjujuran pada Diri Sendiri

Tokoh spiritual Tiongkok, Li Shutong, pernah berkata: “Seseorang jatuh sakit parah, biasanya karena terlalu banyak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya sendiri.”

Kelihatannya tubuh yang bermasalah, tapi sesungguhnya kepribadian telah menyimpang, dan hati tidak lagi tenang.

Terlalu banyak pikiran akan menyumbat jalan datangnya keberuntungan. Tak mampu menahan lisan dan perbuatan akan menjauhkan rezeki. Terlalu banyak mendengar omongan orang akan membuat kita kehilangan diri sendiri.

Seseorang hanya akan benar-benar sehat ketika hatinya sudah tenang. Ketika hati telah tenang, takdir pun akan menemukan keseimbangannya.

Mulai hari ini, kurangi kecemasan, perbanyak ketenangan. Jangan dengarkan omongan tak penting, jangan simpan niat buruk, jangan cari-cari masalah yang tak membawa berkah, dan jangan ucapkan kata-kata yang tak membawa manfaat. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine