Rekaman suara yang baru-baru ini terungkap menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pernah memperingatkan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, bahwa jika PKT menyerang Taiwan, ia akan mengebom Beijing. Para analis menilai, pernyataan Trump ini merupakan bentuk ancaman strategis terhadap Beijing yang membuat Xi Jinping merasa gentar.
EtIndonesia. Media Amerika Serikat CNN memperoleh sebuah rekaman audio yang mengungkapkan bahwa dalam sebuah acara penggalangan dana pribadi tahun lalu, Trump menceritakan bahwa ia pernah memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa jika Rusia menginvasi Ukraina, ia akan menghancurkan Moskow. Ia juga menyampaikan peringatan serupa kepada Xi Jinping.
Dalam rekaman tersebut, Trump berkata bahwa ia pernah mengatakan kepada Xi:
“Kalau kamu masuk ke Taiwan, aku akan bom Beijing sampai hancur lebur.”
Xi lalu terkejut dan bertanya:
“Beijing? Kamu mau bom Beijing?”
Trump menjawab:
“Saya tidak punya pilihan lain.”
Trump juga menambahkan bahwa Xi dan Putin tidak terlalu percaya dengan ancamannya, mungkin hanya percaya 10%, bahkan 5% pun tidak apa-apa.
Xing Tianxing, komentator politik Tiongkok di AS, mengatakan: “Trump adalah orang yang selalu menepati janji. Hal ini terlihat dari kebijakan tarif yang dijalankannya. Karena kepribadiannya itu, saat dia berbicara kepada Putin dan Xi, mereka harus mempertimbangkannya. Bukan berarti dia benar-benar akan mengebom dua kota itu, tapi ini adalah strategi pencegahan.”
Pada 6 Juli lalu, Beijing secara sepihak mengubah status quo dengan menambahkan jalur baru dari barat ke timur pada rute udara M503 yang melintasi Selat Taiwan.
Xing Tianxing menambahkan: “Secara militer, jika mereka benar-benar ingin menyerang Taiwan, itu mungkin saja. Tapi sekarang pemerintah AS belum mengambil langkah atau pernyataan yang tegas. Saat itulah CNN mengungkapkan rekaman ini — apakah ini sebagai sinyal dari Trump? Atau tekanan agar Trump menyatakan sikap? Ini sangat halus.”
Tim kampanye Trump menolak berkomentar mengenai isi rekaman tersebut.
Xing Tianxing berpendapat: “Trump tidak membantah laporan CNN dan juga tidak menjelaskan apa pun, itu berarti ia secara diam-diam mengakui. Dalam hal ini, baik pihak konservatif maupun liberal bersatu dalam menghadapi provokasi Beijing di Selat Taiwan. Meski Trump mengatakannya saat kampanye, sekarang dia sudah jadi Presiden, maka itu tetap berlaku.”
Pada 21 Juni lalu, serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran juga dipandang sebagai sinyal ancaman terhadap Beijing.
Xing Tianxing menyatakan: “Tiba-tiba Trump mengerahkan pasukan dan mengejutkan dunia, itu mengubah pandangan banyak orang. Setelah Iran dibom, semua orang jadi mengingat ucapan Trump dulu: ‘Kalau kamu menyentuh Taiwan, kamu akan menyesal.’ Ucapan itu membuat Xi Jinping — dan banyak orang lainnya — gemetar.”
Saat itu, di internet beredar kalimat: “Hari ini Iran, besok Tiongkok.”
Jiang Fuzhen, Sekretaris Jenderal Komite Luar Negeri Partai Demokrat Tiongkok mengatakan: “Dulu saat Trump mengeluarkan ancaman seperti itu, banyak orang menganggapnya cuma omong kosong. Tapi setelah kejadian di Iran, orang mulai percaya: Trump kalau sudah bicara, dia benar-benar akan lakukan. Kalau Iran saja dibom, maka kalau PKT serang Taiwan, Trump juga akan bom Beijing.”
Para ahli menunjukkan bahwa strategi besar Trump memang berfokus pada menghadapi Beijing.
Su Tzu-yun, Direktur Lembaga Penelitian Strategi Pertahanan Nasional Taiwan mengatakan:
“PKT (Partai Komunis Tiongkok) sekarang memiliki hampir 1.000 hulu ledak nuklir, serta sistem pertahanan udara yang lengkap. Maka, PKT memang sumber ancaman utama dunia saat ini.”
Lembaga think tank militer Swedia bulan Juni lalu melaporkan bahwa PKT menambah sekitar 100 hulu ledak nuklir setiap tahun, dengan tujuan mengubah daya gentar nuklir menjadi ancaman nuklir.
Su Tzu-yun menjelaskan: “Hal yang paling ditakuti PKT adalah kekuatan militer AS. Dalam kondisi perang, bisa saja ibukota mereka dalam bahaya. Misalnya serangan dari jet tempur AS yang lepas landas dari Korea Selatan, Jepang, atau pesawat pengebom siluman dari Alaska — semua itu bisa mengancam keamanan Beijing. Karena itu, wilayah antara Tianjin dan Beijing, atau disebut ‘garis pertahanan Jing-Jin’, menjadi fokus utama pertahanan udara mereka. Termasuk Laut Kuning, yaitu wilayah Komando Medan Perang Utara, bertanggung jawab atas pertahanan udara dan penguasaan wilayah tersebut.”
Para analis menilai, dalam kondisi ini, Beijing akan sadar bahwa kekuatan militernya masih terbatas.
Su Tzu-yun menyimpulkan: “Yang lebih penting lagi adalah bahwa Trump sekarang mungkin akan benar-benar menjalankan strategi besar yang dia canangkan sebelum terpilih. Yaitu, mengakhiri perang Rusia-Ukraina secepat mungkin di Eropa, membuat negara-negara Arab di Timur Tengah kembali ke blok Barat, menjadikan Israel sekutu utama AS di kawasan, dan mencegah Iran semakin dekat ke Beijing. Semua ini akan menciptakan situasi pengepungan geopolitik terhadap Beijing — inilah tantangan nyata yang harus dihadapi oleh Xi Jinping.” (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


