Kasus Keracunan Timbal Anak di Tianshui, Gansu, Tiongkok, Rumah Sakit di Xi’an dan Shanghai Ditekan oleh Otoritas

Kasus keracunan timbal pada anak-anak di Tianshui, Provinsi Gansu, Tiongkok yang terungkap pada 1 Juli 2025, kembali mendapat sorotan. Belakangan terungkap bahwa rumah sakit di Xi’an, Shanghai, dan kota-kota lain mendapat tekanan dari pihak berwenang agar tidak menerima pasien anak dari kasus tersebut. Suara para orang tua korban juga disensor di internet.

EtIndonesia. Kasus keracunan timbal pada anak-anak di Tianshui, Provinsi Gansu, Tiongkok meledak. Para orang tua menyebut bahwa hasil tes darah timbal di rumah sakit lokal Tianshui sangat berbeda jauh dibandingkan hasil tes di rumah sakit luar kota, seperti di Xi’an—selisihnya bisa 20 hingga 30 kali lipat. Karena itu, banyak orang tua membawa anak-anak mereka ke rumah sakit di Xi’an, Shanghai, Tianjin, Beijing, dan kota-kota besar lainnya untuk pemeriksaan dan pengobatan.

Pada 11 Juli, seorang dokter dari Shanghai diduga menulis di internet bahwa mereka telah menerima “peringatan” dari otoritas kesehatan masyarakat Shanghai:

  • Rumah sakit dilarang membuat pernyataan apapun terkait kasus keracunan timbal di Tianshui.
  • Rumah sakit tidak boleh menerima pasien dari taman kanak-kanak di Tianshui.

Dokter tersebut juga menyebutkan bahwa sudah ada rumah sakit di Shanghai yang telah dipanggil dan ditegur karena menerima pasien dari kasus ini.

Salah satu akun pengguna internet bernama “Xiaomi Mami” dari Shanghai memposting bahwa hingga 10 Juli, beberapa anak dari Tianshui telah tiba di Shanghai (RS Anak Shanghai Xinhua) dan Beijing (RS Chaoyang Beijing). Di RS Xinhua Shanghai, tercatat ada tiga anak yang datang:

  • Anak pertama telah menyelesaikan tahap pertama pengobatan dan bersiap keluar rumah sakit.
  • Dua anak lainnya belum mendapat tempat tidur dan disarankan untuk pulang.
  • Rumah sakit meminta Profesor Yan Chonghuai untuk membuat laporan pengobatan kepada Dinas Kesehatan Shanghai.

Sehari sebelumnya, akun yang sama menulis:  “Untuk saat ini, mohon para orang tua dari Tianshui tidak datang ke Shanghai. RS Xinhua Shanghai telah memberikan tekanan kepada Profesor Yan, dan tidak dapat menyediakan tempat tidur untuk pengobatan anak-anak.”
 

Komentar warganet:  “Kalau sampai bisa tekan Shanghai juga, itu kekuasaan luar biasa besar.”
“Sudah tidak masuk akal.”

Mantan jurnalis investigatif di Tiongkok, Deng Fei, pada 11 Juli mengkritik lewat media sosial:  “Dalam kasus keracunan timbal TK Tianshui, awalnya rumah sakit di sana tidak bisa mendeteksi apa pun. Para orang tua pergi ke Xi’an dan baru di sana ditemukan kadar timbal yang sangat tinggi. Setelah itu, pihak berwenang Tianshui bahkan mengirim orang ke rumah sakit di Xi’an untuk menghalangi pemeriksaan. Setelah terbongkar, mereka tetap bungkam. Akhirnya, para orang tua harus pergi ke Shanghai dan Tianjin.” 

“RS Xinhua Shanghai mengatakan bahwa anak-anak sudah mengalami keracunan lebih dari tiga bulan. Anehnya, entah bagaimana caranya, Tianshui bisa membuat RS Xinhua di Shanghai berada dalam tekanan besar. Para dokter pun tidak berani menerima pasien dari TK Tianshui dengan alasan resmi: tidak ada tempat tidur.”

(Tangkapan layar dari Internet)

Sementara itu, seorang staf dari RS Pusat Kota Xi’an mengunggah video dan mengatakan bahwa rumah sakit mereka juga mendapat tekanan, tetapi berhasil menahan tekanan tersebut dan tetap mengungkap kebenaran.

“Laporan hasil pemeriksaan dikawal petugas keamanan saat diserahkan kepada orang tua.”
 

Sebelumnya ada keluhan bahwa rumah sakit tersebut tidak memberikan hasil laporan kepada keluarga karena tekanan dari atas.

Tak hanya rumah sakit yang mendapat tekanan, para orang tua anak korban yang mencoba menyuarakan kebenaran juga mendapat represi.

Salah satu orang tua mengeluh:

 “Video tidak bisa diunggah.”
“Sudah kejadian begini pun tetap tidak boleh bicara.”
“Kami punya dua anak yang keracunan, tapi internet melarang kami bicara.”

Banyak orang tua memposting bukti hasil tes anak mereka di kolom komentar video laporan CCTV (media pemerintah) tentang kasus tersebut.

Ada yang menyertakan hasil lab, ada juga yang meminta wartawan menghubungi mereka. Namun semua komentar itu disensor.

Seorang warganet menulis: “Sangat memalukan, tidak bisa diposting lagi.”

Komentar lain:

“Haha, lihat komentar-komentar di CCTV. Mereka sudah tidak tahu malu. Masih pantaskah bicara soal kepercayaan rakyat?”

Kasus ini bermula dari laporan pada 1 Juli 2025 tentang anak-anak di TK Hexi Peixin, Tianshui, yang mengalami keracunan timbal, dan langsung viral di internet. Di bawah tekanan opini publik, pihak lokal membentuk “tim investigasi” dan mengeluarkan kesimpulan bahwa:

  • Staf dapur TK tersebut membeli cat warna dari internet dan mengencerkannya untuk digunakan dalam pembuatan makanan.

Namun, laporan tersebut dengan cepat dianggap tidak kredibel oleh publik.
Warganet menyatakan bahwa pewarna makanan justru lebih murah daripada cat warna.
Sementara itu, perusahaan produsen cat menyatakan bahwa produk mereka tidak mengandung logam berat.

(Tangkapan layar dari Internet)

Orang tua tidak percaya hasil tes dari rumah sakit di Tianshui dan memilih pergi ke kota lain untuk pemeriksaan.

Seorang orang tua berkata:  “Kami punya dua anak yang hasil darahnya menunjukkan keracunan timbal. Di RS Tianshui hasilnya 8 μg/L, tapi di Tianjin hasilnya lebih dari 300 μg/L. Itu 40 kali lipat! Kami hanya ingin hasil tes yang jujur dan pengobatan yang tepat waktu. Kenapa ini begitu sulit?”

Tangkapan layar dari Internet)

Orang tua lainnya menambahkan:  “Anak saya tidak menunjukkan gejala apa pun, tapi hasil tes darah menunjukkan 503 μg/L. Di daerah kami hanya disebutkan 61 μg/L. Perbedaan yang sangat besar. Saya tidak berani kembali ke sana untuk berobat.”

Komentar warganet:  “Sudah tidak ada kredibilitas lagi. Selain membungkam suara rakyat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.” (Hui/asr)

Laporan wartawan Li Li / Editor penanggung jawab: Xu Gengwen

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine