Sebelum mengakhiri kunjungan empat harinya ke Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan membebaskan setengah dari sisa sandera guna mencapai gencatan senjata 60 hari di Gaza. Sementara itu, menurut pejabat senior Israel, uranium yang telah diperkaya milik Iran tidak sempat dipindahkan sebelum lokasi penyimpanannya dibombardir.
EtIndonesia. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyelesaikan kunjungan empat hari ke Washington. Pada Kamis (10 Juli), ia memberikan pernyataan di sana, kembali menegaskan syarat minimum untuk mewujudkan gencatan senjata 60 hari di Gaza.
“Hamas harus meletakkan senjata, Gaza harus didemiliterisasi, dan Hamas tidak boleh memiliki kemampuan pemerintahan atau kekuatan militer apa pun. Itu adalah syarat dasar kami. Jika hal ini dapat dicapai melalui negosiasi, itu lebih baik. Namun jika tidak bisa tercapai dalam 60 hari, kami akan mencapainya melalui cara lain—yaitu dengan kekuatan militer,” kata Benjamin Netanyahu.
Netanyahu menjelaskan bahwa Israel sedang melakukan negosiasi melalui perantara dengan Hamas untuk mencapai gencatan senjata sementara selama 60 hari, yang bertujuan menyelamatkan separuh dari para sandera yang masih ditahan, baik yang masih hidup maupun yang telah gugur. Jika gencatan senjata sementara berhasil dicapai, Israel bersedia membuka negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.
Pada hari yang sama, Netanyahu dalam wawancara dengan media AS mengatakan bahwa Israel kemungkinan akan mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara di Gaza dalam beberapa hari mendatang, dan membawa pulang separuh dari sisa sandera.
Ia menyebut bahwa dari total 255 sandera yang pernah ditahan oleh Hamas, saat ini masih ada 50 orang yang ditahan di Gaza, dan diperkirakan 20 orang di antaranya masih hidup.
Sementara itu, operasi militer Israel di Gaza masih terus berlangsung. Pada Jumat (11 Juli) pagi, terdengar ledakan besar berturut-turut di wilayah utara Gaza, dengan asap tebal membumbung di udara.
Di hari yang sama, militer Israel merilis video yang menunjukkan Brigade Lapis Baja ke-188 sedang menjalankan misi di Jalur Gaza.
Di kota Khan Younis di Gaza bagian selatan, militer Israel menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah milik Hamas.
Terkait Iran, menurut seorang pejabat senior Israel pada Rabu (9 Juli), serangan udara AS bulan lalu terhadap tiga fasilitas nuklir Iran—Isfahan, Fordow, dan Natanz—menyebabkan kerusakan besar. Uranium yang diperkaya Iran disimpan di tiga lokasi tersebut dan tidak sempat dipindahkan sebelum serangan terjadi.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa hanya uranium yang disimpan di fasilitas nuklir Isfahan yang mungkin masih tersisa, karena lokasi tersebut berada sangat dalam di bawah tanah, namun pengambilan ulang material itu akan sangat sulit dilakukan.
Selain itu, setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tersebut, Iran melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar.
Citra satelit menunjukkan bahwa Iran kemungkinan menargetkan sistem kubah besar yang digunakan militer AS untuk komunikasi aman. Pihak militer AS kemudian menyatakan bahwa serangan Iran tidak menimbulkan korban jiwa. (Hui/asr)
Laporan oleh Zhao Fenghua, reporter NTDTV


