Trump Kirim Surat Tarif ke Lebih dari 20 Negara, Senator AS Ajukan RUU Sanksi terhadap Rusia

Pada Minggu ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengirimkan surat kepada para pemimpin lebih dari 20 negara untuk menetapkan tarif baru yang akan berlaku mulai 1 Agustus. Saat ini, tarif untuk beberapa mitra dagang seperti Taiwan, India, dan Uni Eropa belum diumumkan.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 10 Juli menyatakan bahwa ia berencana menaikkan tarif untuk mitra dagang yang belum menerima pemberitahuan tarif menjadi 15% hingga 20%, menggantikan tarif dasar saat ini sebesar 10%.

Di antaranya, Uni Eropa kemungkinan akan segera menerima surat pemberitahuan tarif baru. Pejabat perdagangan tertinggi Uni Eropa, Maroš Šefčovič, menyatakan bahwa negosiasi antara kedua pihak berlangsung setiap hari.

Pada 10 Juli malam, Kanada menerima surat pemberitahuan. Trump mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus, AS akan memberlakukan tarif 35% terhadap beberapa produk impor dari Kanada, naik dari tarif sebelumnya sebesar 25%. 

Dalam surat tersebut, Trump menyoroti masalah arus masuk fentanyl dari Kanada dan hambatan perdagangan sebagai ancaman bagi keamanan nasional, ekonomi, dan sektor pertanian AS. Ia menambahkan bahwa jika Kanada bersedia bekerja sama dalam memberantas penyelundupan fentanyl, AS bisa mempertimbangkan untuk menyesuaikan tarif tersebut.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney melalui media sosial X menyatakan bahwa pemerintah akan terus bernegosiasi demi melindungi kepentingan pekerja dan pelaku usaha Kanada, serta berharap mencapai kesepakatan sebelum tenggat waktu.

Pada hari yang sama, Trump juga mengirim surat kepada Brasil, memberitahukan bahwa mulai 1 Agustus, AS akan mengenakan tarif hingga 50% terhadap produk impor dari Brasil. Trump menuduh Brasil merusak perdagangan digital dan kebebasan berbicara, serta menyebut hubungan dagang AS-Brasil sangat tidak adil.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva merespons bahwa pihaknya akan bernegosiasi untuk menghindari tarif, dan akan berdialog dengan mitra negara-negara BRICS.

Pada 9 Juli, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus, tarif 20% akan diberlakukan terhadap produk impor dari Filipina—lebih tinggi dari 17% yang diumumkan pada April tahun ini, namun masih merupakan yang terendah di antara negara-negara ASEAN.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. berencana mengunjungi Washington pada 22 Juli untuk mengadakan pertemuan resmi pertamanya dengan Trump, guna mendorong negosiasi tarif dan berharap dapat tercapai perjanjian dagang baru.

Pada 11 Juli, pemerintah Myanmar meminta Trump untuk menurunkan tarif atas ekspor Myanmar ke AS dari 40% menjadi antara 10% hingga 20%, dan menyatakan kesiapan mengirim tim negosiator ke Washington jika diperlukan.

Faktanya, dalam surat tertanggal 7 Juli, Trump memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menghindari tarif melalui negara ketiga akan dikenakan tarif lebih tinggi. Negara-negara Asia seperti Myanmar, Laos, dan Kamboja dikenakan tarif hukuman antara 36% hingga 40%.

Para analis menilai, langkah ini bertujuan mencegah Tiongkok mencuci asal barang melalui Asia Tenggara, sambil tetap menjaga ruang kerja sama ekonomi AS dengan negara-negara kawasan tersebut.

Kebijakan tarif Trump menimbulkan perhatian soal potensi inflasi. Menurut data Departemen Keuangan AS, pendapatan tarif pada  Mei mencapai sekitar 22,8 miliar dolar AS, empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, menurut data Biro Keamanan Industri, Indeks Harga Konsumen (CPI) pada  Mei—tanpa menghitung makanan dan energi—naik 0,1% dibanding bulan sebelumnya, didorong oleh turunnya harga tiket pesawat, mobil, dan pakaian.

Sementara itu, Senator AS dari Partai Republik Lindsey Graham dan Senator Demokrat Richard Blumenthal bersama-sama mengajukan rancangan undang-undang sanksi baru terhadap Rusia yang mendapat dukungan kuat dari kedua partai. 

RUU tersebut menyerukan pemberlakuan tarif 500% terhadap negara-negara seperti PKT dan India yang masih membeli minyak, gas alam, dan uranium dari Rusia. Tujuannya adalah untuk menekan pendapatan Rusia dan memaksa mereka kembali ke meja perundingan, serta secara tidak langsung mencegah ambisi PKT untuk menyerang Taiwan. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTDTV Guo Yuexi dari Amerika Serikat

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine