Pedagang Digantung di Bangladesh, Para Pembunuh Menari di Atas Tubuhnya

EtIndonesia. Setidaknya tujuh orang telah ditangkap sejauh ini, dan operasi penyisiran nasional diluncurkan di Bangladesh pada hari Minggu (14/7) terkait pembunuhan seorang pedagang barang bekas di sini, kata Penasihat Dalam Negeri Letnan Jenderal (Purn.) Jahangir Alam Chowdhury.

Chowdhury mengatakan operasi tersebut diluncurkan untuk menjaga hukum dan ketertiban serta memastikan stabilitas pra-pemilu menyusul pembunuhan mengerikan Lal Chand alias Sohag di dekat Rumah Sakit Mitford pada 9 Juli, Prothom Alo melaporkan.

“Pembunuhan yang terjadi di Mitford, ibu kota, sangat tragis dan biadab. Insiden semacam itu tidak memiliki tempat dalam masyarakat beradab,” katanya, seraya menambahkan bahwa Cabang Detektif (DB) kepolisian telah menangkap dua tersangka lagi dalam kasus tersebut pada Sabtu malam.

Dia mengatakan badan intelijen bekerja tanpa lelah untuk menangkap para tersangka lainnya dan tidak ada yang akan dibiarkan begitu saja, terlepas dari identitas politik mereka.

“Pemerintah percaya penjahat adalah penjahat. Tidak ada penjahat yang akan dibiarkan bebas, terlepas dari afiliasi politik mereka. Tidak ada penjahat yang akan mendapatkan perlindungan,” ujarnya.

Chowdhury mengatakan langkah-langkah telah diambil untuk memindahkan kasus pembunuhan Mitford ke Pengadilan Speedy Trial.

Sebuah video insiden yang viral pada hari Kamis (10/7) menunjukkan penjual barang bekas tersebut dihakimi massa dengan bongkahan beton di Rojoni Ghosh Lane dekat Rumah Sakit Mitford setelah perseteruan bisnis.

Setelah memastikan kematiannya, para penyerang menari-nari di atas tubuhnya.

Polisi sebelumnya telah menangkap lima orang atas dugaan keterlibatan mereka dalam pembunuhan massal tersebut.

Titon Gazi, yang terlibat langsung dalam pembunuhan tersebut, sedang menjalani penahanan polisi selama lima hari.

Pembunuhan massal tersebut memicu kemarahan di seluruh Bangladesh, bahkan ketika ratusan mahasiswa turun ke jalan di sini pada hari Sabtu, menuduh pemerintah sementara gagal mengendalikan kekerasan massa.

Dalam insiden serupa lainnya awal bulan ini, seorang perempuan beserta putra dan putrinya dipukuli hingga tewas di daerah Muradnagar, Cumilla, pusat, karena dugaan keterlibatan mereka dalam perdagangan narkoba.

Bangladesh telah mengalami lonjakan pembunuhan massal sejak Agustus 2024, ketika rezim Liga Awami yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina yang berkuasa selama 16 tahun digulingkan dalam gerakan kekerasan yang dipelopori oleh Students Against Discrimination (SAD). (yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine