Sistem Saluran Distribusi Konsumen Lumpuh, Kartu Kredit Tiongkok, Zhongxin Terhenti Hingga Lebih dari 1,5 Juta Pengguna Kesulitan Menarik Dana

Baru-baru ini Kartu prabayar Zhongxin (Zhongxin Card) di Tiongkok  secara tiba-tiba mengumumkan penghentian seluruh operasional, memicu kekhawatiran besar di kalangan pengguna. 

Saat ini, semua saluran konsumsi online dan offline telah lumpuh total, tanpa kepastian kapan akan pulih. Dana prabayar yang sudah dimasukkan oleh pemegang kartu terancam dibekukan, dan proses pengembalian dana sangat tidak pasti, bahkan kartu harus diserahkan jika ingin melakukan klaim pengembalian. 

Di internet, publik ramai-ramai menyuarakan kekhawatiran: apakah perusahaan penerbit kartu mengalami krisis likuiditas besar-besaran, atau petinggi perusahaan kabur membawa dana?

EtIndonesia. Zhongxin Card, platform pembayaran pihak ketiga milik Zhongxin Antai Group, tiba-tiba mengumumkan bahwa semua kerja sama dengan mitra toko dihentikan dengan dalih “penyesuaian bisnis.” Di akun resminya, mereka menggunakan frasa seperti “peningkatan layanan” dan “menantikan tampilan baru” untuk menenangkan para pemegang kartu.

Tak lama setelah itu, seluruh daftar merchant di situs resmi Zhongxin Card dihapus, saluran penukaran online ditutup, dan semua jalur konsumsi tidak lagi bisa digunakan. Pengguna yang telah memasukkan dana ke kartu tidak bisa menggunakan kartu untuk belanja, maupun menarik kembali dana mereka.

Dua bulan sebelumnya, sejumlah merchant mitra sudah mulai berhenti menerima Zhongxin Card tanpa penjelasan yang jelas. 

Pada Mei 2025, Zhongxin Card sempat menghentikan sementara operasional dan menyalahkan “calo” yang disebut menyebarkan rumor, membeli kartu dengan harga murah, melakukan pembelian massal di luar jam operasional. Bahkan, melakukan arbitrase ilegal, dan lain sebagainya.

Karena kondisi mencurigakan ini, banyak pemegang kartu menduga bahwa penghentian operasional kali ini, bukanlah sekadar penyesuaian bisnis atau peningkatan layanan, melainkan indikasi bahwa perusahaan tengah mengalami kebangkrutan (istilah populer: “meledak”), bahkan mungkin pihak internal sudah membawa kabur uang pengguna.

Menurut laporan media Tiongkok, seorang staf dari kantor layanan Zhongxin Card di distrik Dongcheng, Beijing, menyatakan bahwa “pihak berwenang telah turun tangan menyelidiki kasus ini.”

Staf tersebut menjelaskan bahwa tidak ada kepastian kapan layanan Zhongxin Card akan kembali normal, dan saat ini pemegang kartu hanya punya dua pilihan:

  1. Mendaftar ke dalam “daftar putih”, dengan mengunggah data pribadi seperti KTP dan nomor telepon, dan menunggu hingga layanan kembali normal untuk dapat menggunakan kartu lagi;
  2. Mengajukan pengembalian dana, tapi tidak bisa langsung mendapatkan uangnya kembali. Proses pengembalian diperkirakan membutuhkan waktu minimal enam bulan, tanpa batas waktu maksimum. Jika memilih opsi ini, pengguna harus menyerahkan bukti pembelian, informasi rekening bank, dan menyerahkan kartu fisik sebagai syarat klaim.

Sebuah pengumuman yang ditempel di kantor layanan Zhongxin Card di distrik Dongcheng, Beijing menyatakan bahwa pengajuan pengembalian dana untuk kartu yang dibeli pada Maret dan April 2025 akan tertunda. Diumumkan juga proses pengembalian akan memakan waktu minimal enam bulan.

Berdasarkan informasi publik, Zhongxin Group didirikan pada tahun 1999, merupakan perusahaan swasta komprehensif yang berfokus pada pengembangan properti, serta mencakup konstruksi, investasi dan perdagangan, pengelolaan kota baru, infrastruktur, manajemen properti, dan layanan keuangan.

 Zhongxin Card adalah platform pembayaran pihak ketiga di bawah Zhongxin Antai Group, yang pada tahun 2011 memperoleh lisensi dari Bank Sentral Tiongkok untuk menerbitkan dan menerima kartu prabayar. Saat ini, mereka mengklaim memiliki lebih dari 2.000 cabang dan lebih dari 1,5 juta pengguna kartu.

Di bawah laporan media tersebut, netizen Tiongkok ramai-ramai menyuarakan keraguan, menuding sistem kartu prabayar ini sebagai bentuk baru dari penipuan finansial:

  • “Modus lama, trik lama, bau yang sudah tidak asing lagi.”
  • “Cuma versi baru dari skema ‘pemotongan babi’ (penipuan kepercayaan).”
  • “Kalau rantai dana terus putus, pasti kabur juga. Tinggal tunggu dananya mencapai miliaran.”
  • “Sedikit iming-iming, pancing dengan janji besar. Tapi tetap saja yang tamak jadi korban.”

(Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine