Kecewa dengan Putin, Trump Ancam Rusia dengan Tarif Hingga 100 Persen Jika Tak Ada Kesepakatan Tentang Ukraina dalam 50 Hari

Trump mengumumkan ancaman tarif terhadap Rusia saat ia bertemu Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih pada 14 Juli

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan memberlakukan konsekuensi ekonomi baru yang ketat terhadap Rusia jika Moskow tidak menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina dalam 50 hari ke depan.

“Saya kecewa pada [Presiden Rusia Vladimir Putin], karena saya pikir kami akan memiliki kesepakatan dua bulan lalu, tetapi tampaknya belum sampai ke sana,” kata Trump saat menjamu Rutte di Gedung Putih.

“Jadi berdasarkan hal itu, kami akan memberlakukan tarif sekunder. Jika kita tidak memiliki kesepakatan dalam 50 hari, itu sangat sederhana, dan tarif itu akan sebesar 100 persen. Begitulah adanya.”

Trump menyampaikan peringatannya ini terpisah dari rancangan undang-undang baru yang sedang dipersiapkan oleh anggota Kongres AS, yang akan memungkinkan tarif hingga 500 persen terhadap barang-barang dari negara-negara yang membeli energi dari Rusia.

“Kami bisa menerapkan tarif sekunder tanpa Senat, tanpa DPR, tetapi apa yang sedang mereka rancang juga bisa sangat baik,” ujar Trump.

Menteri Perdagangan Amerika Serikat Howard Lutnick mengatakan bahwa tindakan ekonomi baru yang ditujukan terhadap Rusia bisa berbentuk sanksi langsung atau “tarif sekunder” seperti yang dijelaskan Trump.

Tarif sekunder adalah bentuk tindakan ekonomi baru yang mengenakan bea terhadap barang-barang dari negara ketiga yang berdagang dengan negara-negara yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat.

Pada  Maret, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengizinkan tarif sebesar 25 persen atas barang-barang dari negara mana pun yang mengimpor minyak Venezuela, baik secara langsung maupun melalui perantara.

Lutnick menyinggung perintah eksekutif Trump tentang tarif terhadap negara-negara yang membeli minyak Venezuela saat ia menjelaskan berbagai tindakan ekonomi yang mungkin diberlakukan jika Rusia tidak mencapai kesepakatan.

“Anda bisa memberlakukan tarif atau sanksi,” kata Lutnick kepada wartawan. “Keduanya adalah alat yang tersedia bagi Presiden.”

Tindakan ekonomi baru ini bisa langsung berdampak pada Tiongkok dan India, yang terus melakukan perdagangan besar dengan Rusia sejak konflik dengan Ukraina pecah pada tahun 2022.

Menurut analisis terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air, Tiongkok telah membeli sekitar 47 persen dari ekspor minyak mentah Rusia sejak Desember 2022. India telah membeli sekitar 38 persen dalam periode yang sama.

Meski Trump menyatakan kekecewaannya terhadap penanganan proses perdamaian oleh Rusia, Kremlin menyalahkan pemerintah Ukraina atas kurangnya kemajuan.

“Kami masih menunggu usulan mengenai kerangka waktu,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada 14 Juli, menurut kantor berita milik negara Rusia, TASS. “Pihak Rusia bersedia melanjutkan dan mengadakan putaran ketiga [pembicaraan].”

Rutte tiba di Gedung Putih pada 14 Juli pagi sebagai bagian dari kunjungan dua hari ke Amerika Serikat. NATO menyatakan bahwa agenda Rutte mencakup pertemuan dengan Trump, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan beberapa anggota Kongres AS.

Selain ancaman tarif baru terhadap Rusia, Trump mengindikasikan bahwa ia telah menyiapkan kerangka kerja baru bagi sekutu Eropa untuk mengganti biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat dalam memasok dukungan militer ke Ukraina.

“Kami membuat kesepakatan hari ini di mana kami akan mengirimkan senjata kepada mereka dan mereka akan membayarnya,” kata Trump. “Amerika Serikat tidak akan mengeluarkan pembayaran. Kami tidak membelinya, tetapi kami akan memproduksinya, dan mereka yang akan membayar.”

Rutte mengatakan bahwa keinginan Trump untuk terus memasok peralatan militer ke Ukraina, tetapi dengan Eropa yang menanggung biayanya, adalah hal yang “sangat masuk akal.”

Sekjen NATO itu mengatakan beberapa anggota aliansi—terutama Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, dan Belanda—juga sedang menyiapkan paket senjata untuk Ukraina. Ia mengatakan hal ini akan memungkinkan militer AS untuk lebih mempersiapkan stok senjatanya sendiri, sembari memastikan Ukraina tetap menerima “jumlah besar perlengkapan militer.”

Pada 13 Juli, Trump mengindikasikan bahwa ia telah bekerja sama dengan para pemimpin Eropa dalam rencana untuk memasok sistem rudal Patriot tambahan ke Ukraina, yang mampu mempertahankan diri dari berbagai serangan udara.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengucapkan terima kasih kepada Trump karena bersedia meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Rusia.

“Pendanaan perang Rusia harus dihentikan,” kata Zelenskyy dalam pernyataan yang ia unggah di platform media sosial X. “Hubungan mereka dengan Iran dan Korea Utara harus diputus. Segala pasokan komponen dan peralatan untuk industri militer Rusia harus dihentikan.”

Zelenskyy juga menyambut baik pembicaraan tentang sistem Patriot baru.

“Saya berterima kasih kepada tim kami serta kepada Amerika Serikat, Jerman, dan Norwegia karena telah menyiapkan keputusan baru mengenai sistem Patriot untuk Ukraina,” ujar Presiden Ukraina tersebut. (asr)

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine