“Orang Bodoh” yang Tak Perhitungan Soal Untung Rugi—Justru Dialah yang Paling Bijak

EtIndonesia. Di Tiongkok, ada sebuah kisah rakyat yang sarat makna. Cerita ini melibatkan tiga tokoh: seorang pria yang dianggap bodoh, seorang tuan tanah yang serakah, dan seorang biksu tua bijaksana.

Siapakah yang benar-benar bodoh? Dan siapa pula yang sesungguhnya cerdas?

Tuan Tanah Menipu Si “Bodoh”

Tuan tanah ini bermarga Wan. Dia dikenal kaya raya, namun sangat pelit dan suka mengambil keuntungan dari orang lain.

Dia mempekerjakan seorang buruh tani bermarga Zhang, seorang pria sederhana, jujur, dan tidak suka mempermasalahkan hal-hal kecil. Karena sikapnya yang terlalu polos, orang-orang menjulukinya Zhang Si Bodoh.

Suatu hari, Tuan Wan berkata padanya: “Jika kamu bekerja padaku selama setahun penuh, aku akan memberimu seekor sapi.”

Zhang setuju, dan selama satu tahun penuh, dia bekerja keras tanpa banyak bicara. Namun setelah waktu yang dijanjikan berlalu, alih-alih seekor sapi, yang diberikan Tuan Wan hanyalah sebotol minyak.

Zhang bertanya: “Bukankah dulu Anda bilang akan memberi saya ‘niu’ (sapi)?”

Tuan Wan menjawab tanpa rasa bersalah: “Benar, you (minyak) – itulah yang kumaksud.”

(Catatan: dalam Bahasa Mandarin, pengucapan kata “niu” [sapi] dan “you” [minyak] terdengar mirip, namun memiliki makna yang jauh berbeda.)

Bagi kebanyakan orang, ini adalah penghinaan besar dan pantas untuk diperdebatkan, bahkan dibawa ke pengadilan. Namun Zhang hanya menerima botol minyak itu tanpa protes, lalu pergi.

Yang mengejutkan, dia bahkan menyumbangkan minyak tersebut ke kuil sebagai donasi, lalu kembali ke rumah Tuan Wan dengan tangan kosong. Tak heran semua orang menyebutnya “bodoh”.

Tuan Wan Datangi Biksu, Minta Penjelasan

Saat Tuan Wan mendengar bahwa Zhang menyumbangkan minyak itu ke kuil, dia merasa tersinggung.

“Saya menyumbang satu gerobak penuh minyak setiap tahun ke kuil,” kata Tuan Wan geram, “dan Biksu tua hanya menyebutnya sumbangan kecil. Zhang hanya memberi sebotol minyak, kok bisa disebut sumbangan besar?!”

Dengan penuh amarah, dia pergi ke kuil untuk mengkonfrontasi sang Biksu. Namun sesampainya di sana, biksu tua itu sudah menyambutnya dengan senyum tenang.

Tanpa berkata banyak, sang Biksu mengangkat tangan dan menyentuh titik di antara kedua alis Tuan Wan. Seketika, sebuah penglihatan muncul di benaknya:

Penglihatan Masa Depan yang Mengguncang

Dia melihat sebuah keluarga kaya raya yang tinggal di rumah besar, dikelilingi sawah subur. Di tengah halaman, duduk seorang pria kaya berpakaian mewah—dan pria itu ternyata adalah Zhang si Bodoh.

Kemudian, terdengar suara cambukan. Tuan Wan menoleh dan melihat seekor keledai buta, kurus kering, dan renta, sedang menarik penggilingan. Di sampingnya, ada seorang buruh memukulinya dengan cambuk.

Ketika Tuan Wan melihat lebih dekat, dia terkejut bukan main—di tubuh keledai itu tertulis namanya sendiri: Wan.

Penjelasan Sang Biksu

Melihat Tuan Wan gemetar ketakutan, Biksu itu berkata: “Apa yang kamu lihat adalah kehidupanmu di masa depan. Karena sifatmu yang tamak, pelit, dan suka memanfaatkan orang lain, kamu akan lahir kembali sebagai keledai—menanggung derita dan membayar utang karma.”

“Sedangkan Zhang, yang ikhlas bekerja dan bahkan menyumbangkan seluruh jerih payahnya sebagai amal, itulah yang disebut sumbangan besar sejati. Meski kau memberi segerobak minyak, itu hanyalah harta yang kamu peroleh dari menipu orang lain. Jadi nilainya tak bisa dibandingkan.”

Titik Balik: Dari Serakah Menjadi Dermawan

Tuan Wan terdiam, hatinya luluh. Dia akhirnya sadar, dan bertanya kepada sang Biksu: “Apakah masih ada cara untuk mengubah takdir saya?”

Biksu menjawab: “Tentu. Mulailah dari sekarang: berbuat baik, tinggalkan keserakahan, dan lakukan amal tulus. Maka hidupmu kelak akan berubah.”

Sejak hari itu, Tuan Wan mengembalikan hak Zhang: seekor sapi dan sebotol minyak, sebagai permintaan maaf. Malam itu, dia bermimpi lagi tentang penglihatan tadi. Namun kali ini, tidak ada lagi cambuk yang menghantam keledai buta itu.

Tuan Wan pun bertekad untuk meninggalkan sifat lamanya. Dia berubah menjadi orang baik, dan akhirnya dikenal luas sebagai dermawan besar yang dihormati masyarakat.

Bodoh atau Bijak: Mana yang Sebenarnya?

Tokoh bernama Zhang ini mungkin disebut “si Bodoh”, tapi dia tidak benar-benar bodoh. Dia hanya menerima kenyataan, tidak mempermasalahkan kerugian, dan tetap melakukan kebaikan dengan tulus.

Ada pepatah lama di Tiongkok yang berbunyi: “Orang bodoh punya keberuntungan sendiri.”

Karma dan pembalasan adalah hukum alam. Kadang, menerima kerugian bukanlah musibah, melainkan tabungan kebajikan yang akan berbuah manis di masa depan.

Orang-orang seperti Zhang memiliki jiwa yang lapang dan hati yang damai. Ketika diperlakukan tidak adil, mereka memilih untuk melepaskan dan memaafkan. Sebaliknya, banyak orang yang terlalu memikirkan untung rugi, akhirnya hidup dalam kemarahan, kekecewaan, bahkan penyakit.

Lalu, siapa sebenarnya yang bodoh? Dan siapa yang sejatinya paling bijak?

Mungkin jawabannya adalah: mereka yang “bodoh” karena tidak selalu perhitungan dalam hal untung rugi—justru adalah orang paling cerdas dan paling bahagia.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine