Kasus keracunan timbal anak-anak di Tianshui, Gansu, Tiongkok belum tuntas, kini muncul kasus baru di Hangzhou, Zhejiang. Siswa-siswa di sebuah sekolah dasar mengalami gejala mimisan, batuk kering, dan keluhan kesehatan lainnya. Para orangtua mencurigai lokasi sekolah yang berdampingan dengan pabrik ban sebagai penyebabnya, menuding bahwa pemilihan lokasi sekolah tidak layak.
EtIndonesia. Pada 13 Juli, menurut laporan media Tiongkok Jimu News, seorang warganet mengunggah postingan di media sosial yang mengungkap bahwa siswa di Sekolah Eksperimen Kedua Wenhai, Hangzhou, mengalami gejala seperti mimisan.
Setelah sekolah pindah ke gedung baru sekitar September 2024, banyak siswa mulai mengalami mimisan. Seorang orang tua menyatakan bahwa dalam satu tahun terakhir, banyak anak mengalami mimisan, radang hidung, rasa tidak nyaman di tenggorokan secara berulang, dan batuk kering.
Para orang tua menyebutkan: “Anak-anak sering mencium bau menyengat di lapangan.”
“Pusing makin parah setelah olahraga.”
Seorang orang tua menulis: “Saya orang tua murid dari Sekolah Wenhai Kedua. Kami membuat daftar di kelas, dan hampir separuh anak mengalami mimisan. Jumlahnya pasti ratusan.”
“Bau menyengat sangat terasa di sekolah. Setelah hanya sebentar berada di sana, saya sudah merasa pusing dan tenggorokan sakit.”
“Awalnya saya kira anak saya saja yang kondisinya lemah, tapi setelah saya tanya-tanya, hampir semua orang tua bilang anaknya juga begitu. Benar-benar mencemaskan. Enam bulan ini, anak saya sering mimisan, bahkan bisa beberapa hari berturut-turut, dan jumlah darahnya cukup banyak. Sebagai orang tua, kami benar-benar merasa tidak berdaya dan sedih.”
Orangtua siswa mengatakan bahwa sekolah tersebut bersebelahan langsung dengan pabrik ban, tanpa tembok pembatas, hanya dipisahkan pagar besi. Mereka menduga polusi udara dari pabrik tersebut menjadi penyebab utama masalah kesehatan anak-anak.
Banyak warga sekitar mengungkapkan pengalaman serupa di media sosial:
- “Pabrik ban di Xiasha sangat mencemari. Apalagi sering buang limbah diam-diam di malam hari. Anak saya juga sering mimisan, tapi kalau pulang ke kampung, langsung sembuh.”
- “Saya tinggal di Xiasha University Town North. Sering kali tengah malam tercium bau kimia menyengat. Tenggorokan selalu terasa tidak nyaman. Saya pernah lapor ke 12345 (layanan pengaduan pemerintah), tapi tidak ada tanggapan.”
- “Anak saya sekolah di situ, kelas satu. Katanya ada lebih dari lima teman sekelas yang mimisan. Saya sudah tidak berani biarkan dia masuk sekolah lagi, terlalu menakutkan. Lebih baik saya ajari sendiri di rumah.”
Ada orang dalam yang membocorkan bahwa lokasi sekolah ini seharusnya bukan di situ. Awalnya, rencananya sekolah dibangun di seberang kawasan perumahan Daduwen Garden, tapi tidak diketahui siapa yang akhirnya memutuskan memindahkannya ke lokasi saat ini. Keluhan orang tua sudah muncul sejak lama, tetapi tidak pernah ditindaklanjuti.
Warganet juga menunjukkan bahwa menurut “Panduan Evaluasi Perencanaan Tata Letak Sekolah Wajib Belajar di Provinsi Zhejiang (Percobaan)” (No. 42 Tahun 2019), prinsip pemilihan lokasi sekolah harus jauh dari sumber pencemaran dan tempat penyimpanan bahan mudah terbakar atau meledak, serta tidak boleh bersebelahan dengan tempat seperti TPA atau fasilitas pengolahan limbah yang berbahaya bagi keselamatan siswa. Lokasi Sekolah Eksperimen Kedua Wenhai secara jelas melanggar aturan keselamatan ini.
Komentar lainnya menyebutkan : “Pabriknya sudah ada sejak lama, yang harus diperiksa adalah siapa yang memberi izin mendirikan sekolah di sebelah pabrik. Aneh juga, kenapa tidak dipilih lahan kosong di kawasan perumahan padat, malah dibangun di sini.”
Mereka mempertanyakan: “Bagaimana mungkin dinas tata ruang menyetujui lokasi ini?!”
Pada 14 Juli, perwakilan dari Dinas Pendidikan Distrik Qiantang dan instansi terkait menyatakan kepada media bahwa “tim kerja khusus telah dibentuk untuk menyelidiki kasus ini, dan pihak berwenang sedang melakukan uji menyeluruh terhadap emisi pabrik yang dimaksud.”
Warganet menyatakan bahwa di banyak daerah, sekolah sengaja dipindahkan ke lahan murah yang tak laku tanpa mempertimbangkan faktor keselamatan. Kasus keracunan timbal anak-anak di Tianshui, Gansu, yang terjadi awal Juli, juga memiliki pola yang serupa. Biasanya, lahan di dekat pabrik kimia yang tidak laku pakai dipaksakan untuk dibangun sekolah baru. Kasus seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Kasus serupa di Baiyin juga demikian.
Awal Juli, sebuah taman kanak-kanak di Tianshui, Gansu, dilaporkan mengalami kasus keracunan timbal massal. Pemerintah setempat menyatakan bahwa penyebabnya adalah cat berwarna yang digunakan di dapur sekolah, namun klaim ini mendapat banyak keraguan. Hasil tes darah anak-anak dari rumah sakit di Tianshui dan di Xi’an juga sangat berbeda — selisih hingga puluhan kali lipat. Netizen ramai-ramai menuntut kejelasan. Setelah tekanan publik meningkat, pada 12 Juli, pemerintah provinsi Gansu menyatakan bahwa tim investigasi telah dibentuk untuk menyelidiki kasus ini. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan Li Li – NTDTV.com, diterjemahkan dan disunting oleh Xu Gengwen


