Kisah Nyata yang Menggugah Dunia: Cinta Ibu yang Tak Pernah Luntur

EtIndonesia. Cinta seorang ibu adalah cinta yang paling agung di dunia ini. Setelah membaca kisah nyata ini, semoga kita semua bisa lebih menghargai dan berbakti kepada orang tua kita.

Saat berusia 18 tahun, dia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena melakukan penganiayaan. Pada musim dingin di tahun pertama dia mendekam di balik jeruji, dia menerima sebuah sweater rajut wol, buatan tangan ibunya. Di bagian bawah sweater itu, terpahat bordiran bunga plum—bunga yang dikenal tahan terhadap dingin. Diselipkan di atasnya sebuah kertas kecil bertuliskan: “Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Ibu menggantungkan harapan agar kamu kelak bisa membahagiakan ibu di masa tua.”

Melihat tulisan itu, air matanya langsung jatuh, meskipun dia selama ini dikenal sebagai anak yang kuat dan keras kepala. Dia tahu, setiap jahitan benang pada sweter itu adalah cinta, cinta dari seorang ibu yang selalu ia kenali. Ibunya pernah berkata, “Menjadi manusia itu harus seperti bunga plum yang tumbuh di musim dingin—semakin keras cobaan hidup, semakin harus mekar indah.”

Sejak saat itu, setiap musim dingin, ibunya selalu mengirimkan sweater rajutan, dan setiap sweater selalu disertai dengan kertas kecil harapan yang sama.

Demi bisa bebas lebih cepat dan pulang menemui ibunya, dia bersungguh-sungguh berperilaku baik dalam penjara untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan. Benar saja, di tahun ke-5, dia dibebaskan lebih awal.

Dia pulang dengan membawa sebuah ransel sederhana, berisi semua miliknya—lima helai sweater rajutan ibu.

Saat tiba di rumah, dia tertegun. Pintu rumah tergembok, dan gemboknya sudah berkarat. Di atap rumah, rumput liar tumbuh menjulang hingga setinggi lutut. 

Ia mulai bingung, dan bertanya dalam hati:  “Ke mana ibuku pergi?”

Dia pun mencari tetangga. Tetangga itu terkejut, dan bertanya padanya : “Bukankah kamu baru pulang tahun depan?” 

Dia menggeleng, dan segera bertanya: “Ibuku ke mana?”

Tetangga itu menundukkan kepala dan menjawab pelan : “Ibumu… sudah pergi.”

Seolah petir menyambar di siang bolong, dia berdiri mematung, “Tidak mungkin! Ibu baru empat puluhan! Musim dingin kemarin aku masih menerima sweater dan pesan darinya!”

Di depan makam ibunya, dia menangis sejadi-jadinya, menyesal, dan menghujat diri sendiri: “Ini semua salahku! Akulah penyebab ibu pergi begitu cepat! Aku anak yang tak tahu balas budi! Aku pantas masuk neraka!”

Keesokan harinya, dia menjual rumah tua peninggalan ibunya. Dia pergi merantau dengan sebuah ransel berisi enam sweater rajutan ibu.

Empat tahun berlalu. Di kota rantauan, dia membuka warung makan sederhana dan menikahi seorang gadis baik hati. Usaha mereka berkembang pesat. Dia dan istrinya bekerja keras setiap hari. Dia bangun jam 3–4 pagi untuk belanja ke pasar, lalu membawa semua bahan segar ke warung. Mereka tak punya karyawan. Dua tangan untuk dua orang, bekerja seperti baling-baling.

Seringkali karena kelelahan dan kurang tidur, matanya memerah.

Suatu hari, datanglah seorang nenek tua dengan mendorong gerobak tiga roda. Dia bongkok, pincang, dan tidak bisa bicara (bisu). Dia menawarkan diri untuk mengantar sayur dan daging segar dengan harga lebih murah.

Istrinya tidak setuju : “Orang itu kelihatan kotor dan menyeramkan.”

Tapi entah mengapa, dia justru merasa nenek itu mengingatkannya pada ibunya.

Dia pun menerima tawaran sang nenek. Dan benar saja, setiap pagi pukul enam, sayur dan daging segar selalu datang tepat waktu. Dia kadang memberi nenek itu semangkuk mie. Sang nenek makan perlahan dan tampak sangat menikmati.

Di hatinya, ada rasa hangat bercampur pedih, setiap melihat nenek itu, dia selalu teringat pada almarhum ibunya.

Dua tahun berlalu. Warung kecilnya berubah menjadi restoran besar, dia membeli rumah. Tapi nenek itu masih tetap yang mengantarkan sayuran setiap hari.

Namun suatu pagi, nenek itu tak datang. Dia menunggu sangat lama. Karena tak tahu alamat atau nomor kontak sang nenek, dia akhirnya menyuruh karyawannya belanja sendiri.

Namun dia sadar—sayuran yang dibeli orang lain tak sebaik milik nenek. Sayur dari nenek selalu bersih, segar, tanpa daun layu.

Nenek itu tak pernah muncul lagi. Menjelang Tahun Baru, dia tiba-tiba berkata kepada istrinya, : “Aku ingin mencari nenek itu. Aku ingin memberinya semangkuk pangsit hangat.”

Istrinya setuju.

Setelah berkeliling bertanya, dia akhirnya menemukan alamat sang nenek di sebuah gang sempit, dua blok dari restorannya.

Dia mengetuk lama. Tak ada jawaban. Pintu tak terkunci, dan dia mendorong masuk.

Ruangan itu kecil dan remang, sang nenek terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya kurus kering seperti tulang hidup.

Nenek itu memandanginya kaget, mencoba duduk tapi gagal.

Dia meletakkan mangkuk pangsit di sisi ranjang dan bertanya: “Apakah nenek sakit?”

Sang nenek membuka mulut, seperti hendak bicara, tapi tak bisa mengeluarkan suara. 

Dia melihat sekeliling, dan tiba-tiba terkejut luar biasa: di dinding tergantung foto-foto dirinya bersama ibunya—saat dia berusia 5, 10, 17 tahun…

Di sudut ruangan, ada sebuah bungkusan kain lama bersulam bunga plum. 

Dia menatap nenek itu, terguncang, dan bertanya dengan suara gemetar: “Siapa nenek sebenarnya?”

Nenek itu memandangnya, lalu dengan suara parau, berucap perlahan: “Anakku…”

Dia terpaku. Nenek ini bukan bisu. Ia… adalah ibunya sendiri!

Nenek yang selama dua tahun mengantarkan sayur untuknya, yang selalu dia bayarkan murah, yang diam-diam tinggal hanya dua blok dari restorannya—adalah ibu kandungnya.

Dia langsung menggendong ibunya, membawa semua barang milik sang ibu dan pulang ke rumah.

Ibunya tinggal di rumahnya selama tiga hari.

Selama tiga hari itu, ibunya banyak bercerita. Dia berkata, saat anaknya masuk penjara dulu, dia hampir ingin menyusul ayahnya ke alam baka. Tapi kemudian berpikir: “Anakku belum bebas. Aku tidak bisa pergi.” 

Setelah anaknya keluar, dia kembali berpikir: “Anakku belum menikah. Aku masih belum bisa pergi.” 

Setelah anaknya menikah, ia berkata: “Aku belum melihat cucuku. Aku harus tetap bertahan.”

Dia mengucapkan semua itu dengan senyum tenang di wajah.

Dia pun menceritakan kepada ibunya, namun tidak mengungkapkan satu hal: alasan dia dipenjara adalah karena dia membunuh orang yang menghina ibunya dengan kata-kata paling keji.

“Dunia ini boleh menghina dan menyakitiku. Tapi tidak ada satu pun yang boleh menghina ibuku!”

Tiga hari kemudian, ibunya menghembuskan napas terakhir. Dokter berkata dengan lembut, “Kanker tulangnya sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Bisa bertahan sampai sekarang, itu sudah merupakan keajaiban. Jadi, kamu tidak perlu terlalu menyalahkan diri.”

Dia terguncang.

Ketika membuka bungkusan kain, dia menemukan sweater rajutan baru, rapi tersusun, ada untuk cucunya yang belum lahir, untuk istrinya, dan untuk dirinya. Semua dengan sulaman bunga plum merah terang.

Di dasar bungkusan, ada selembar surat diagnosis: kanker tulang, tertanggal tahun kedua dia dipenjara.

Tangannya gemetar. Dadanya terasa ditusuk ribuan jarum.

Cinta orangtua itu abadi.  Maka, bakti anak juga harus abadi. 

“Dari semua kebajikan, berbakti pada orangtua adalah yang utama.”

Semoga kisah ini menyentuh hatimu, dan mengingatkan kita semua untuk tidak pernah menunda membalas cinta orang tua. Karena waktu tidak pernah menunggu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine