Sejumlah Hotel Mewah Tiongkok Berjualan di Jalanan Demi Agar Tetap Bertahan

Berbagai hotel mewah dan restoran berkelas turun ke jalanan bersaing dengan pedagang kaki lima di tengah perlambatan ekonomi

EtIndonesia. Sejumlah hotel mewah di Tiongkok semakin gencar membawa bisnis katering mereka ke jalanan sebagai upaya bertahan dari gelombang “penurunan daya beli konsumen.” Pasalnya, konsumen di seluruh negeri mulai beralih ke produk yang terjangkau dan berorientasi pada nilai dibandingkan barang-barang premium.

Pemandangan para koki hotel berbintang yang bekerja di balik stan makanan darurat di jalanan menjadi viral di media sosial Tiongkok sejak akhir Juni, ketika sejumlah hotel dan restoran kelas atas di provinsi Henan dan Anhui mulai menjual makanan berkualitas hotel dengan harga murah di luar tempat mereka, sementara ruang makan mereka sebagian besar kosong tanpa pengunjung.

“Pasar sedang sulit saat ini—bahkan restoran besar seperti ini terpaksa membuka stan makanan di jalan,” ujar seorang influencer dalam video yang dibagikan lebih dari 30.000 kali di Douyin (versi TikTok di daratan Tiongkok), sambil merekam stan makanan milik jaringan restoran mewah di Xinyang, Henan.

Pada Juli, Hotel Meixi Lake bintang lima di Changsha—ibu kota provinsi Hunan dan salah satu kota terbesar di Tiongkok Selatan—mengejutkan warga lokal dengan meluncurkan layanan ala pedagang kaki lima. Hotel yang termasuk dalam 10 besar hotel mewah di Trip.com itu mulai menjual roti lapis sarapan dan kopi dengan harga terjangkau di pagi hari, lalu berubah menjadi stan barbecue pada malam hari.

Hotel bintang lima lainnya di Changsha, Xiaoxiang Huatian Hotel, juga ikut tren tersebut, memindahkan tim katering mereka ke luar untuk menyajikan makanan kaki lima populer. Dalam wawancara dengan Xiaoxiang Morning Herald pada 9 Juli, staf hotel mengatakan mereka menyesuaikan menu khusus untuk konsumsi cepat saji dan terjangkau di jalan, termasuk daging rebus dan dim sum, dengan tujuan menarik pelanggan yang biasanya tidak makan di hotel bintang lima.

Menurut laporan tersebut, harga makanan berkisar dari 8 yuan (±Rp18.000) untuk mi dingin hingga 60 yuan (±Rp138.000) untuk sekitar setengah kilogram usus bebek rebus—jauh lebih murah dibandingkan ratusan hingga ribuan yuan yang biasanya dikenakan untuk jamuan makan formal.

“Kalau tamu tidak datang ke dalam, ya kami yang keluar menemui mereka,” ujar salah satu staf hotel kepada surat kabar itu.

Sejauh ini, seberapa menguntungkan usaha ini masih belum jelas. Belum ada hotel bintang lima yang mengungkapkan apakah stan makanan mereka mampu menutupi biaya tenaga kerja dan operasional. Namun, Xiaoxiang Huatian melaporkan bahwa dalam dua jam saja, stan mereka pernah menjual makanan senilai 10.000 yuan (±Rp 22,6 juta rupiah).

Respons netizen Tiongkok pun beragam. Banyak yang antusias mencoba makanan hotel dengan harga kaki lima, namun sebagian mengkhawatirkan dampak negatifnya. Beberapa khawatir tren ini dapat berubah menjadi perang harga yang dapat menyingkirkan pedagang kaki lima tradisional dan menurunkan kualitas makanan.

“Jenis usaha seperti ini akan berdampak pada orang-orang yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari berjualan di jalan,” ujar seorang Food vlogger asal Xinyang dalam video yang dibagikan lebih dari 10.000 kali di akun medsos Douyin (TikTok versi Tiongkok). “Kalau restoran ikut jualan di jalanan, bagaimana para pedagang kaki lima ‘asli’ bisa bersaing?”

“Kalau tujuannya sekadar untung, kualitas pasti akan dikorbankan,” lanjutnya. “Saat persaingan makin ketat, ini akan berubah jadi adu murah. Yang bertahan nanti cuma yang paling murah dan kualitas paling rendah.”

Perubahan arah ini mencerminkan industri perhotelan masih tertekan setelah bertahun-tahun berjuang pulih dari lockdown COVID-19. Saat pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat, pasar kerja yang sempit dan pengangguran pemuda meroket memaksa banyak konsumen memangkas pengeluaran yang tidak penting.

Di saat yang sama, populasi yang menua dan penurunan angka pernikahan menyebabkan menurunnya permintaan akan pesta pernikahan—yang selama ini menjadi sumber pendapatan besar bagi sejumlah hotel mewah.

Menambah tekanan adalah aturan baru yang lebih ketat yang membatasi pejabat pemerintah dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk makan bersama di luar. Padahal, para pejabat ini selama ini adalah pelanggan utama restoran mewah.

Pada  Mei, PKT merevisi pedoman anti-kemewahan—yang awalnya diperkenalkan pada 2013 sebagai bagian dari kampanye antikorupsi besar-besaran oleh Sekretaris Jenderal Xi Jinping—dengan melarang total alkohol dan rokok dalam acara jamuan resmi.

Menurut kantor berita milik negara, Xinhua, perubahan kebijakan itu muncul setelah seorang pejabat tingkat kabupaten di Xinyang tewas akibat keracunan alkohol setelah minum bersama sembilan pejabat lain saat jamuan makan siang dalam pelatihan. Insiden itu juga menjadikan Xinyang sebagai pusat gelombang hotel mewah yang turun ke jalan.

Seorang manajer restoran di provinsi Liaoning di timur laut Tiongkok  kepada Epoch Times edisi bahasa Tionghoa mengatakan  bahwa larangan alkohol lebih memukul kalangan industri dibandingkan lockdown COVID-19 dari 2020 hingga 2023.

 “Rakyat biasa tidak punya uang untuk makan di luar, dan para pejabat yang punya uang tidak diizinkan makan di luar,” katanya.

Sementara itu, Guangming Daily, media corong PKT, memuji tren ini sebagai respons kreatif terhadap situasi yang menantang, menyebutnya sebagai “upaya para pelaku usaha untuk meluncurkan lini produk yang lebih terjangkau.”

“Hanya dengan kepekaan dan kesiapan beradaptasi, seseorang bisa bertahan di tengah persaingan sengit dan membuka ruang yang lebih luas untuk dirinya,” tulis media itu. (asr)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine