EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah rangkaian peristiwa dramatis mengguncang Suriah dan Israel. Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan dunia internasional, pemimpin agama Druze di Suriah, Syaikh Hikmat al‑Hijri, ditemukan tewas akibat aksi pembunuhan yang hingga kini pelakunya masih misterius. Kejadian ini memicu gelombang kekerasan baru di Provinsi Sweida, wilayah di selatan Suriah yang didominasi oleh komunitas Druze.
Tidak lama berselang, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke jantung pertahanan Suriah di ibu kota Damaskus, menghantam langsung gedung Kementerian Pertahanan dan sedikitnya 160 target pemerintah di wilayah selatan. Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik saat rudal-rudal Israel mengenai markas militer Suriah, disusul ledakan dahsyat dan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari kompleks Kementerian Pertahanan. Serangan ini juga menyebabkan kepanikan luar biasa di stasiun siaran berita nasional Suriah, bahkan memaksa para presenter dievakuasi secara mendadak demi alasan keamanan.
Kerusuhan Sektarian Mematikan
Sementara itu, Provinsi Sweida dilanda kerusuhan sektarian parah sejak kematian Syaikh Hikmat al‑Hijri. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan yang terjadi antara kelompok Druze dengan aparat Pemerintah Suriah serta kmilisi Badui pro-pemerinah. Suasana di kota-kota utama di Sweida pun sangat mencekam—bendera Israel bahkan dikibarkan secara terbuka oleh sebagian warga Druze sebagai bentuk protes dan simbol perlawanan terhadap pemerintahan yang baru. Fenomena langka ini menandakan perubahan sikap politik komunitas Druze yang selama ini cenderung menjaga jarak dari Israel.
Pernyataan Tegas Israel dan Suriah
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam konferensi persnya menegaskan bahwa tindakan militer Israel adalah upaya untuk melindungi “saudara-saudara Druze” yang menurutnya telah menjadi korban kekejaman Pemerintah Suriah. Netanyahu menyebut operasi militer ini sekaligus sebagai langkah tegas memberantas geng-geng bersenjata yang diduga berafiliasi dengan pemerintah Suriah di wilayah selatan.
Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Suriah secara resmi mengutuk keras aksi militer Israel, menyebutnya sebagai bentuk agresi brutal dan pengkhianatan terhadap kedaulatan Suriah. Pemerintah Suriah menuding Israel sengaja memperkeruh situasi demi kepentingan politik regional.
Respons Internasional dan Kekhawatiran Amerika Serikat
Amerika Serikat melalui pernyataan resmi Departemen Luar Negeri mengaku sangat prihatin terhadap meningkatnya kekerasan di selatan Suriah. Menteri Luar Negeri AS, Rubio, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai negara terkait, dan optimis situasi akan mereda dalam waktu dekat.
“Kami telah mencapai kesepakatan bersama untuk segera mengambil langkah-langkah deeskalasi dan mendorong proses penyelesaian damai atas krisis Suriah,” ujar Rubio di Washington DC.
Di sisi lain, sejumlah pengamat politik menilai Israel sebenarnya tidak menginginkan konflik berkepanjangan di wilayah Suriah. Namun, tekanan politik domestik dan kebutuhan untuk menunjukkan solidaritas terhadap komunitas Druze telah mendorong Israel mengambil tindakan militer yang sangat berani.
Kesimpulan
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di kawasan Timur Tengah. Pembunuhan terhadap tokoh agama, aksi militer lintas batas, serta kerusuhan sektarian yang menelan ratusan korban jiwa, semakin memperumit upaya perdamaian yang sudah rapuh. Dunia internasional kini menyoroti setiap langkah yang diambil oleh para aktor utama, sebab satu kesalahan saja bisa memicu eskalasi konflik yang jauh lebih besar.


