Ketika AS Membom Kota Jepang Ini 12 Jam Sebelum Perang Dunia II Berakhir

EtIndonesia. Perang Dunia II tinggal menghitung jam lagi ketika langit di atas Kota Kumagaya, Jepang, berubah menjadi jingga. Di salah satu sudut kota, seorang wanita melahirkan. Pesawat-pesawat pengebom Amerika mendekat, perut mereka penuh napalm. Dia tak punya tempat berlindung dan waktu. Menjelang fajar, putrinya, Kazumi Yoneda, akan menjadi salah satu penyintas termuda dari serangan bom api terakhir Perang Dunia II.

Malam itu, 14 Agustus 1945, hampir 90 pesawat pengebom B-29 AS menjatuhkan lebih dari 6.000 ton bahan pembakar di Kumagaya. Setidaknya 260 orang tewas, ribuan lainnya luka-luka, dan tiga perempat kota berubah menjadi abu. Semua itu terjadi dalam 12 jam.

Perang berakhir dengan pengumuman penyerahan diri Jepang oleh Kaisar Hirohito.

Kazumi Yoneda kemudian menulis tentang kelahirannya dalam sebuah buku puisi berjudul ‘Hari Kelahiranku’:

“Pada hari kelahiranku, api melahap kota.

Ibuku melahirkan, memelukku erat –

Dan berdiri di antara reruntuhan rumahnya.

Tubuhnya tak mengeluarkan ASI

Dia menggendong anaknya yang terus menangis.”

Kumagaya, dengan populasi di bawah 50.000 jiwa, bukanlah pusat industri besar. Kota ini memiliki akademi udara kecil dan fasilitas suku cadang pesawat sederhana, tetapi banyak yang kemudian mempertanyakan pembenaran serangan tersebut. 

Menurut koresponden perang Homer Bigart, bahkan beberapa awak pesawat pengebom merasa gelisah, mempertanyakan perlunya menargetkan apa yang disebutnya “kota kecil yang menyedihkan dan kurang penting.”

Awak pesawat, yang menganggur sejak Nagasaki, diberi tahu bahwa Kumagaya memiliki stasiun kereta api dan pabrik, yang cukup untuk membenarkan satu serangan terakhir.

Mereka juga diperintahkan untuk mendengarkan kata sandi: ‘Utah’. Jika mereka mendengarnya, Jepang telah menyerah, dan mereka bisa kembali.

Kata sandi itu tak pernah datang.

Pilot Vivian Lock, yang terbang malam itu, kemudian menulis: “Saya selalu menyesali semua orang tak berdosa yang tewas, terluka, dan kehilangan rumah serta harta benda.”

Para kru B-29, katanya, terus bertanya di tengah penerbangan: “Sudah dengar kabar?” berharap ‘Utah’.

Kazue Hojo, 7 tahun, berlari bersama keluarganya melewati jalanan yang terbakar. Sebuah pecahan logam merobek leher ibunya. Adik laki-lakinya terbakar. 

“Terang seperti siang hari,” kenangnya. 

Menjelang pagi, kota itu rata dengan tanah. Para penyintas menangis di jalanan.

 “Itulah kenangan perang yang paling menyakitkan bagi saya,” ujar Hojo kepada CNN.

Di Kuil Sekijoji, sebuah patung biksu Kobodaishi berwajah hangus, diselamatkan oleh seorang pendeta saat kuil itu runtuh. Selama beberapa dekade, patung itu disembunyikan hingga sebuah museum perdamaian meminta untuk memamerkannya. 

Para siswa menangis ketika melihatnya. Mereka bertanya-tanya. 

“Jika orang-orang ingin belajar tentang perdamaian, mereka bisa melihat patung itu,” kata pendeta kepala berusia 79 tahun, Tetsuya Okayasu.

Serangan Kumagaya merupakan bagian dari serangan pembakar Jenderal Curtis LeMay, yang telah menghancurkan puluhan kota di Jepang, termasuk Tokyo, tempat pengeboman satu malam pada Maret 1945 menewaskan lebih dari 100.000 orang. (yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine