Ribuan orang berkumpul di ibu kota Amerika Serikat untuk memperingati hari kelam saat rezim Tiongkok mulai menindas latihan spiritual Falun Gong pada 20 Juli 1999
EtIndonesia. WASHINGTON — Ribuan praktisi Falun Gong berkumpul di National Mall pada Kamis (17/7/2025) untuk menandai 26 tahun sejak Partai Komunis Tiongkok (PKT) memulai penindasan sistematis terhadap kelompok kepercayaan tersebut. Para pakar hak asasi manusia terkemuka yang berbicara dalam aksi tersebut menyatakan bahwa penindasan tidak hanya terjadi di dalam Tiongkok, tetapi juga di tanah Amerika, seiring dengan peningkatan kampanye penindasan lintas negara oleh PKT yang mengekspor upayanya ke luar negeri.
Anggota DPR Amerika Serikat, Pat Ryan (D-N.Y.) menyatakan merasa terhormat bisa bergabung dalam perjuangan berkelanjutan para praktisi Falun Gong untuk melawan penindasan PKT. Distrik Ryan mencakup markas Shen Yun Performing Arts, sebuah kelompok tari klasik Tiongkok yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong.

“Keteguhan Anda dalam memegang nilai-nilai yang kita saksikan hari ini—kejujuran, belas kasih, dan kesabaran—benar-benar menjadi cahaya penuntun bagi semua orang di negara kita tercinta, Amerika Serikat,” ujarnya.
Ryan adalah salah satu sponsor dari Falun Gong Protection Act, undang-undang yang bertujuan menjatuhkan sanksi terhadap rezim komunis atas praktik pembunuhan para praktisi Falun Gong yang ditahan untuk diambil organnya. RUU ini telah lolos di DPR AS, pada 17 Juli Ryan menyerukan agar Senat segera melanjutkan dan mengesahkan versi RUU tersebut.
Ia juga meminta aparat penegak hukum di tingkat federal, negara bagian, dan lokal untuk lebih memahami “cakupan dan luasnya tindakan ilegal dan tidak pantas” yang dilakukan rezim Tiongkok terhadap praktisi Falun Gong di tanah Amerika.
“Kita tidak boleh lengah,” kata Ryan kepada The Epoch Times setelah aksi. “Kita harus berbuat lebih.”
26 Tahun Penganiayaan
Falun Gong atau Falun Dafa adalah praktik spiritual damai yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, Sabar. Latihan ini sangat populer di Tiongkok pada 1990-an, dengan perkiraan resmi menyebutkan antara 70 juta hingga 100 juta orang telah mempraktikkannya di akhir dekade tersebut. Rezim komunis memandang popularitas ini sebagai ancaman terhadap kontrol absolut mereka.

Sejak 20 Juli 1999, PKT berupaya melenyapkan praktik ini dengan cara-cara kejam, termasuk penyiksaan di kamp konsentrasi dan pengambilan organ secara paksa, serta manipulasi opini publik melalui propaganda.
Pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin—arsitek penindasan ini—mengira dapat “melenyapkan” Falun Gong dalam waktu singkat. Namun, 26 tahun kemudian, Falun Gong tetap dipraktikkan, tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga di sekitar 100 negara di seluruh dunia, dan para praktisinya terus menyerukan perhatian atas pelanggaran HAM oleh PKT.
“Kita berkumpul di sini untuk menyaksikan tragedi yang masih berlangsung,” kata Alan Adler, Direktur Eksekutif Friends of Falun Gong.
“Tapi PKT gagal memahami bahwa semangat manusia tidak bisa dipadamkan. Selama 26 tahun, para praktisi Falun Gong tetap teguh, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, menginspirasi orang di seluruh dunia.
“Penindasan ini mengancam hak asasi setiap manusia untuk percaya dan hidup sesuai hati nuraninya. Saat kita membela para praktisi ini, kita membela martabat manusia itu sendiri.
“Pengaruh PKT telah melampaui batas-batas Tiongkok. Jika kita diam dan berpaling, kita berisiko kehilangan kebebasan yang menjadi ciri masyarakat beradab kita hari ini.”
Greg Scarlatoiu, Presiden Committee for Human Rights in North Korea, mengatakan para praktisi Falun Gong adalah sumber inspirasi bagi para pembela hak asasi, karena telah menghadapi salah satu rezim paling represif di dunia.
“Tidak ada kampanye penindasan yang diterima di tanah Amerika. Dan tidak akan pernah,” tegas Scarlatoiu. “Sejati, Baik, Sabar, dan hak asasi manusia akan selalu menang. Kita akan menang bersama dan segera merayakan runtuhnya para tiran.”

Kebijakan untuk Perubahan
Piero Tozzi, Direktur Staf di Congressional-Executive Commission on China (CECC)—sebuah panel bipartisan—mengatakan bahwa penindasan PKT terhadap Falun Gong menunjukkan sifat “keji” rezim tersebut yang tidak berubah.
“Selama lebih dari 25 tahun, Falun Gong telah menjadi seperti ‘burung kenari di tambang batu bara’, memberikan peringatan akan sifat represif rezim komunis,” ujar Tozzi, pendukung lama upaya praktisi Falun Gong untuk mengakhiri penindasan.

Tozzi pernah menjabat sebagai penasihat kebijakan senior bagi Anggota DPR AS, Chris Smith (R-N.J.), penulis Stop Forced Organ Harvesting Act of 2025 dan penyelenggara dengar pendapat kongres pertama tentang penindasan Falun Gong dua dekade lalu. Ia menyerukan Senat untuk mengesahkan RUU tersebut, yang akan memberikan sanksi kepada individu yang terlibat dalam operasi negara untuk mengambil organ dari tahanan hati nurani untuk dijual di pasar transplantasi.
“Penindasan lintas negara semakin terang-terangan,” ujar Tozzi kepada The Epoch Times, merujuk pada KTT APEC 2024 di San Francisco, di mana para demonstran damai yang mengkritik Xi Jinping diserang oleh pendukung PKT yang memiliki hubungan dengan konsulat Tiongkok.
Tozzi mengatakan PKT memanfaatkan sistem di masyarakat bebas seperti Amerika untuk memperluas penindasannya ke luar negeri, sementara aparat penegak hukum di tingkat lokal dan negara bagian belum tentu memahami sifat rezim komunis.
“Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah rezim predator, yang lengannya menjulur ke Amerika Serikat, bahkan menyasar warga Amerika,” katanya.
Smith dan Senator Jeff Merkley (D-Ore.) akan memperkenalkan kembali Transnational Repression Policy Act di DPR dan Senat. UU ini akan mewajibkan pelatihan untuk membantu penegak hukum mengenali dan melawan penindasan lintas negara.

Mohamed Elsanousi, Komisaris U.S. Commission on International Religious Freedom (USCIRF)mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sanksi adalah alat penting yang harus digunakan AS terhadap rezim yang melanggar kebebasan beragama.
“Kami sangat merekomendasikan agar pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok… atas tindakan mereka menindas kebebasan beragama minoritas, Falun Gong, Uyghur, dan lainnya,” ujarnya.
Serkan Tas, Direktur Asosiasi di Victims of Communism Memorial Foundation, juga menyerukan agar pemerintah melakukan lebih banyak tindakan terhadap penindasan yang bermula dari Falun Gong di Tiongkok, namun kini telah meluas.
“Pemerintah harus menekan badan internasional agar mengambil posisi yang lebih proaktif dan mengatasi sikap pasif mereka sendiri, serta memanfaatkan sanksi,” kata Tas.
Departemen Luar Negeri AS, dalam pernyataan memperingati ulang tahun penindasan, mengecam tindakan PKT.
“Selama lebih dari 26 tahun, PKT telah melancarkan kampanye represi terhadap praktisi Falun Gong dan keluarga mereka,” kata juru bicara departemen kepada The Epoch Times.
“Kami kembali menyerukan PKT untuk mengakhiri kampanye mereka untuk melenyapkan Falun Gong.”

Eskalasi
Nina Shea, Direktur Center for Religious Freedom di Hudson Institute, menyatakan penindasan luas terhadap Falun Gong oleh rezim komunis setara dengan genosida.
“Ancaman terhadap Falun Gong dan kelompok-kelompok yang dilarang lainnya kini datang ke sini,” kata Shea.
“Saya sendiri hadir di Kennedy Center awal tahun ini ketika ada ancaman bom,” ujarnya, mengacu pada ancaman bom palsu di hari pembukaan pertunjukan Shen Yun di Washington.

PKT berada di balik upaya untuk mengancam, menyerang secara fisik, dan menyebarkan propaganda terhadap penganut agama ini di Amerika Serikat, kata Shea.
“Ini tidak dapat diterima. Ini bertentangan dengan nilai-nilai Amerika, menolak kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat,” ujarnya.
Faith McDonnell, Direktur Advokasi di organisasi nirlaba Katartismos, mengatakan serangan PKT terhadap Shen Yun “merupakan eskalasi besar” dari infiltrasi dan upaya subversi PKT terhadap masyarakat dan kebebasan Amerika.
Rick Fisher, peneliti senior di International Assessment and Strategy Center, memuji keberanian para praktisi Falun Gong yang tidak hanya menghadapi penindasan kejam dari PKT, tetapi juga menawarkan kepada anggota PKT “kesempatan untuk meninggalkan rezim dan bergabung dengan dunia yang menghargai hak asasi manusia.”
Beberapa tahun setelah penindasan dimulai, The Epoch Times menerbitkan seri editorial berjudul Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis, yang membedah sifat dan sejarah kekerasan PKT. Publikasi ini menginspirasi gerakan yang telah membuat 449 juta orang keluar dari PKT dan organisasi afiliasinya.

Wendy Wright, Presiden Christian Freedom International, yang selama ini bekerja melindungi umat Kristen yang dianiaya, mengatakan bahwa respons Falun Gong terhadap penindasan PKT yang “sangat kejam” memberikan “harapan bagi kita semua.”
“Sebagai warga Washington D.C., saya melihat Falun Gong di mana-mana, dalam berbagai bentuk—menyebarkan kebenaran melalui berita, seni, demonstrasi—dan dengan begitu aktif dan waspada,” kata Wright kepada The Epoch Times.
“Itu benar-benar menjadi contoh bagaimana menyuarakan keadilan bagi mereka yang tertindas oleh [PKT].”
‘Masalah Dunia dan Amerika’
Teresa Zhang, 31, mengalami penindasan sejak kecil di Tiongkok.
Saat ia masih SD, ibu dari temannya—yang sering memasakkannya makanan dan memberinya mainan—ditangkap dan tewas dalam waktu satu minggu setelah ditahan.

Saat Zhang berusia 14 tahun, gurunya melaporkan ia karena membagikan materi Falun Gong kepada teman-temannya. Ia ditahan dan dibebaskan keesokan harinya, tetapi ibunya dipenjara selama dua tahun.
Sekarang, katanya, rezim tersebut mencoba menyebarkan penindasan ini ke seluruh dunia.
“Inilah saatnya masyarakat dunia untuk sadar: Partai Komunis Tiongkok adalah anti-kemanusiaan,” kata Zhang kepada The Epoch Times.
Kristina Feng lahir di Amerika Serikat sebulan setelah penindasan dimulai. Ayah dan ibunya termasuk praktisi Falun Gong yang ikut aksi unjuk rasa di Washington pada Juli 1999 saat berita tentang penindasan PKT mulai tersebar ke luar negeri.
“Saya di sini untuk mengenang orang-orang di Tiongkok yang telah dianiaya,” ujar Feng, yang merasa memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan mereka yang kehilangan kebebasan berkeyakinan di Tiongkok.
Ia mengatakan PKT kini mengekspor penindasannya ke Amerika, dan menambahkan bahwa “itu menakutkan, tapi tidak mengejutkan.” Ini menjadi pengingat bahwa dunia tak boleh diam saat PKT menindas orang karena keyakinan mereka.
Pasangan pengusaha Babak dan Julia Baniasadi mengenal Falun Gong kurang dari setahun sebelum penindasan dimulai—Babak di Colorado, Julia di Jerman. Mereka sama-sama tidak percaya praktik damai yang memberi begitu banyak manfaat itu bisa dijadikan musuh negara oleh pemerintahnya sendiri.
Pada 17 Juli, keluarga Baniasadi bersama putranya turut serta dalam unjuk rasa di Washington karena, menurut mereka, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan.
“Orang-orang disiksa, dibunuh, dibantai. Organ mereka diambil untuk dijual. Keluarga-keluarga dihancurkan,” kata Babak Baniasadi.
“Dan alih-alih menghentikan penindasan, Partai Komunis Tiongkok justru memperluasnya hingga ke Amerika Serikat.
“Kami hanya meminta semua orang berhati baik untuk menyadari, menyebarkan informasi, dan bangkit melawan Partai Komunis Tiongkok.”
Julia Baniasadi menambahkan bahwa terkadang orang kaget melihat non-Tionghoa seperti mereka juga mempraktikkan Falun Gong, dan ia berharap bisa menunjukkan bahwa ini adalah persoalan global yang menyangkut kemanusiaan secara keseluruhan.
“Ini bukan masalah Tiongkok saja. Ini juga masalah dunia. Ini adalah masalah Amerika,” ujarnya.










