oleh Li Muzi dan Janet Huang, Vision Times
Sebagai upaya terbaru membentuk kembali citra global Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok (PKT) meningkatkan usahanya dengan menggandeng influencer asing papan atas sebagai bagian dari strategi propaganda eksternal mereka. Setelah kunjungan viral streamer Amerika IShowSpeed awal tahun ini, Tiongkok kini bersiap menyambut dua bintang media sosial dengan pengikut terbanyak di dunia: MrBeast dari AS dan Khaby Lame dari Italia.
Menurut “Sing Tao Daily” yang mengutip “China Newsweek”, MrBeast — pemilik salah satu kanal YouTube dengan jumlah langganan terbanyak di dunia — dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada kuartal keempat 2025 untuk merekam sebuah program hiburan berskala besar. Sementara itu, Khaby Lame, yang terkenal dengan komedi tanpa kata dan pengikut TikTok yang sangat besar, dijadwalkan melakukan siaran langsung di platform Tiongkok pada bulan Juli sebelum memulai tur promosi keliling negara tersebut.
Dari Livestream Menuju Loyalitas
Inisiatif ini mengikuti kunjungan terkenal IShowSpeed, yang dijuluki netizen Tiongkok sebagai “Kakak Hipertiroid” karena gaya bicaranya yang energik. Selama 17 hari, influencer Amerika itu mengunjungi delapan kota di Tiongkok, mengadakan delapan siaran langsung, dan menarik rata-rata 8,2 juta penonton per siaran. Konten video terkait kunjungannya telah ditonton lebih dari 2 miliar kali.
Para analis mengatakan strategi media ini mencerminkan pergeseran dari narasi resmi negara menuju pemanfaatan otentisitas dan jangkauan masif para kreator konten Barat. “Alih-alih menceritakan kisah Tiongkok melalui saluran resmi, Beijing kini menyerahkan pesan itu ke pihak luar,” tulis Sing Tao.
“Dengan mengundang suara-suara asing yang berpengaruh — khususnya Key Opinion Leaders (KOL) dari Eropa dan Amerika Utara — untuk mengalami dan menggambarkan Tiongkok secara langsung, pemerintah bertujuan menjangkau kaum muda di luar negeri melalui narasi yang lebih mudah diterima dan meyakinkan.”
Menggaet MrBeast dan Khaby Lame
MrBeast, dikenal karena video-video rumit dan berbujet besar serta tantangan filantropisnya, memiliki audiens global sekitar 600 juta orang. Khaby Lame, bintang asal Italia kelahiran Senegal dengan 259 juta pengikut, menjadi sensasi melalui video reaksi diamnya — ditandai dengan ekspresi bahu terangkat dan kesederhanaan komedi.
Selain menggaet mega-influencer, otoritas Tiongkok juga meluncurkan inisiatif yang menyasar kreator konten kelas menengah. Sebagai bagian dari China–Global Youth Influencer Exchange Program, pemerintah menanggung sepenuhnya biaya perjalanan 10 hari bagi influencer muda asal Amerika dengan minimal 300.000 pengikut. Para peserta akan mengunjungi kota-kota seperti Beijing, Suzhou, Shanghai, Shenzhen, dan Handan.
Rangkaian perjalanan mencakup tur ke pusat e-commerce Tiongkok yang sedang berkembang dan kunjungan ke perusahaan seperti Xiaohongshu (RED) dan BYD. Para peserta juga akan mengikuti kegiatan budaya seperti pelajaran tai chi dan siaran langsung dari Tembok Besar Tiongkok. Konten dari perjalanan ini — yang diproduksi bersama oleh influencer Tiongkok dan Amerika — akan dipromosikan melalui saluran media resmi negara.
Jalur Influencer Kelas Menengah
Menurut “China Youth Daily” dan media pemerintah lainnya, kampanye ini bertujuan membentuk opini publik internasional dengan memungkinkan kreator asing untuk “mengalami Tiongkok yang sesungguhnya” dan membagikan kesan positif kepada audiens mereka.
Ini bukan pertama kalinya Tiongkok berusaha mempengaruhi pemuda Amerika melalui pengalaman yang dikurasi. Laporan Maret 2025 dari “Voice of America” mengungkapkan bahwa mahasiswa dari Universitas Duke, Universitas Columbia, dan Universitas Michigan telah mengikuti China Exchange Camp selama seminggu yang diselenggarakan oleh pemerintah Provinsi Jiangsu. Perjalanan tersebut sepenuhnya disubsidi, dan setiap mahasiswa menerima dana sebesar $2.000 untuk menutupi biaya tiket pesawat pulang-pergi.
Upaya bermodal besar ini mencerminkan strategi propaganda baru yang lebih mengandalkan influencer asing daripada juru bicara resmi dalam membentuk persepsi global — terutama di kalangan audiens muda luar negeri.
‘Kamp Pertukaran Tiongkok’
Kyle Abrahm, mahasiswa Universitas Duke yang ikut China Exchange Camp, mengatakan tujuan perjalanan itu segera terasa jelas. “Setelah menerima jadwal dan detail perjalanan lainnya,” katanya kepada Voice of America, “jelas bahwa ini lebih tentang propaganda ketimbang pengembangan diri kami.”
Abrahm menggambarkan pengalaman yang sangat dikurasi dan penampilan yang telah diskenario-kan dengan cermat. “Pemandu Tiongkok kami terus-menerus membandingkan Tiongkok dengan Amerika Serikat, sering kali untuk menonjolkan keunggulan Tiongkok,” katanya.
Mahasiswa Duke lainnya, Matthew Rodriguez, mengungkapkan kekhawatiran serupa. “Tiongkok adalah negara satu partai. Secara efektif, ini adalah masyarakat satu partai,” katanya. “Semua yang kami lihat dalam perjalanan ini dirancang dengan sangat hati-hati untuk melayani kepentingan Partai Komunis Tiongkok.”
Seiring dengan makin banyaknya mahasiswa Amerika yang bersiap mengunjungi Tiongkok melalui program-program sejenis yang didukung pemerintah, para kritikus mendesak universitas agar lebih transparan. Menurut mereka, sekolah punya tanggung jawab untuk memberi tahu mahasiswa bahwa “Anda pergi ke sana untuk membantu Partai Komunis Tiongkok memperbaiki citranya.”
Sementara itu, warganet dengan cepat menyoroti tur para influencer, termasuk milik IShowSpeed. Netizen mencatat berbagai hal penting yang tidak dimasukkan dalam jadwal perjalanannya:
“Tak ada kunjungan ke Xinjiang, Tibet, pusat tahanan, ‘shelter bantuan’, Mongolia Dalam, atau wanita berantai di Jiangsu. Tak ada pertemuan dengan pengacara HAM 709, tak ada kunjungan ke Hegang, tunawisma di kolong jembatan, atau pasar tenaga kerja dini hari. Dia tidak melihat budaya kerja 996, shift pabrik 997, iPhone bekas di Huaqiangbei, sate pinggir jalan, makanan siap saji, atau suasana muram di Lapangan Tiananmen…”
Kampanye ini mencerminkan pengakuan PKT yang semakin besar terhadap budaya influencer sebagai alat soft power yang kuat — dan menyoroti ambisi Beijing untuk memperbarui citranya di panggung global di tengah sorotan dan skeptisisme yang meningkat. (asr)


