Tingkat Kelahiran di Shanghai Mencapai Titik Rerendah,  Tren Tidak Menikah dan Memiliki Anak Menyebabkan “Krisis Generasi”

Jumlah kelahiran di Tiongkok terus menurun selama beberapa tahun berturut-turut. Tingkat kelahiran di Shanghai kini anjlok menjadi salah satu yang terendah di dunia, sementara masalah penuaan penduduk semakin parah. Para ahli menilai, berbagai faktor yang saling bertumpuk telah meningkatkan risiko krisis “putus generasi” di kota tersebut.

EtIndonesia. Pada  2023 saja, angka fertilitas total di Shanghai hanya 0,6, menjadikannya salah satu yang terendah secara global. Ini berarti tingkat kelahiran di Shanghai bahkan tidak mencapai sepertiga dari tingkat minimum yang dibutuhkan untuk mempertahankan regenerasi populasi.

Meskipun pada tahun 2024 sedikit meningkat menjadi 0,72, angka ini tetap jauh di bawah ambang batas internasional 2,1 yang dianggap perlu untuk mempertahankan tingkat populasi. Dengan demikian, Shanghai tetap berada di level terendah secara global.

Para ahli menyebut bahwa tingkat kelahiran di Shanghai telah memasuki tahap krisis generasi.

: “Pendorong utama dari rendahnya tingkat kelahiran di Shanghai adalah tekanan ekonomi. Perubahan pandangan generasi muda terhadap pernikahan dan memiliki anak, ditambah dengan perubahan struktur sosial yang mendalam serta tingkat penuaan yang tinggi—semua faktor ini saling berpengaruh dan memperparah risiko krisis putus generasi,” ujar Sun Guoxiang, profesor di Departemen Urusan Internasional dan Bisnis Universitas Nanhua, Taiwan. 

Kondisi kependudukan di Shanghai hanyalah cerminan dari situasi yang lebih luas di Tiongkok. Sejak tahun 2020, tingkat kelahiran nasional terus berada di bawah ambang batas waspada internasional 1,5, dan diperkirakan telah jatuh ke dalam perangkap fertilitas rendah.

 “Singkatnya, tingkat kelahiran yang rendah dalam jangka panjang di Tiongkok akan mempercepat penuaan populasi, menyebabkan kekurangan tenaga kerja, memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan tekanan sistem pensiun, mengecilkan pasar, serta menyebabkan perubahan mendalam pada struktur sosial dan budaya lokal,” tambah Sun Guoxiang. 

Menurut Statistik Tiongkok Tahun 2024, hingga akhir tahun 2023, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas di Tiongkok telah melebihi 216 juta orang, atau 15,4% dari total populasi. Rasio ketergantungan lansia mencapai 22,5%, yang berarti setiap 4,4 pekerja harus menopang 1 lansia.

 “Menurut saya, salah satu faktor utama adalah kebijakan satu anak yang dijalankan secara represif oleh Partai Komunis Tiongkok selama lebih dari 30 tahun. Ini mempercepat penuaan penduduk, bahkan menyebabkan penuaan ekstrem,” ujar Ai Shicheng, mantan pendiri NPO di Shenzhen dan redaktur media.

“Bila proporsi lansia mencapai 40–50% atau lebih, siapa yang akan menanggung biaya pensiun? Terlebih lagi, dalam kondisi penuaan ekstrem, banyak lansia kehilangan kemampuan merawat diri dan tidak bisa bergerak. Siapa yang akan merawat mereka? Ini adalah masalah yang sangat serius,” pungkasnya. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Li Yun dan Qiu Yue

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine