EtIndonesia. Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih, pemerintah meningkatkan upaya untuk menjaga keamanan nasional dan perbatasan. Pada Jumat (18 Juli), Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengumumkan di Negara Bagian Tennessee bahwa pihak penegak hukum telah menangkap sejumlah pelaku kejahatan imigran ilegal paling berbahaya di daerah tersebut. Sementara itu, Departemen Kesehatan AS akan memberikan wewenang kepada Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) untuk mengakses data pribadi para peserta asuransi kesehatan.
“Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah menangkap hampir 300 ribu, bahkan lebih, pelaku kejahatan dan imigran ilegal di AS, menegakkan hukum terhadap mereka, dan mendeportasi mereka. Sekitar 70% dari mereka telah divonis bersalah atau sedang menghadapi dakwaan pidana,” katanya.

“Semua pelaku kejahatan ini adalah orang-orang jahat. Mereka adalah manusia yang mengerikan. Mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk. Amerika menjadi lebih aman karena mereka telah disingkirkan dari jalanan kita—berkat kerja keras orang-orang di belakang saya dan seluruh agen serta petugas di HSI dan ICE.”
Departemen Keamanan Dalam Negeri baru-baru ini mengumumkan bahwa dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, jumlah serangan terhadap petugas ICE dari 21 Januari hingga 14 Juli tahun ini meningkat sebesar 830%.
Pada Selasa (15 Juli), seorang prajurit cadangan Marinir AS keturunan Asia bernama Benjamin Hanil Song (nama terjemahan), yang dicari selama seminggu atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap petugas federal, berhasil ditangkap di Texas. Uang jaminannya ditetapkan sebesar 15 juta dolar AS.
Menurut dokumen pengadilan, pada 4 Juli malam, Song bersama beberapa orang lainnya menyerang petugas di Pusat Penahanan Prairieland. Berdasarkan dakwaan federal, Song didakwa dengan tiga tuduhan percobaan pembunuhan terhadap agen federal dan tiga tuduhan kejahatan senjata yang terkait dengan kekerasan.
Dalam kasus ini, 13 orang lainnya juga telah ditangkap. Selain dakwaan percobaan pembunuhan, mereka juga menghadapi dakwaan menghalangi proses peradilan serta konspirasi. Jika terbukti bersalah, sebagian besar terdakwa terancam hukuman penjara minimal 10 tahun hingga seumur hidup.
Sementara itu, pada 7 Juli, seorang pria ditembak mati setelah melepaskan tembakan di luar pos patroli perbatasan di Texas. Insiden tersebut melukai tiga petugas polisi.
Di sisi lain, untuk memperluas penegakan hukum, Departemen Kesehatan AS menyatakan bahwa mereka akan memberikan wewenang kepada ICE untuk mengakses informasi pribadi sekitar 79 juta peserta program Medicaid, termasuk alamat dan data identitas, guna membantu pelacakan kemungkinan imigran ilegal. Kebijakan ini juga bertujuan membantu mengidentifikasi serta memberantas praktik pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan sistem.
Pada hari yang sama (17 Juli), Departemen Kehakiman AS meminta sheriff dari wilayah seperti Los Angeles County dan San Francisco County di California untuk memberikan data tahanan imigran ilegal yang saat ini ditahan, termasuk catatan kriminal dan tanggal perkiraan pembebasan, guna membantu otoritas federal mempercepat proses deportasi imigran ilegal yang melakukan kejahatan setelah masuk ke AS.
Saat ini, ICE telah menangkap ratusan orang di wilayah Los Angeles berdasarkan kebijakan deportasi tersebut. Departemen Kehakiman juga telah menggugat kebijakan suaka pemerintah kota Los Angeles. (Hui/asr)
Laporan oleh Guo Yuexi, New Tang Dynasty Television – Amerika Serikat


