EtIndonesia. Seorang ibu di Los Angeles, Amerika Serikat, setiap hari bangun pukul 02:45 dini hari untuk memulai perjalanan panjang menuju tempat kerjanya. Dia bekerja selama 9 jam, namun waktu tempuh naik kendaraan umum bisa mencapai 6 jam sehari. Meski hanya tidur 4,5 jam per malam, ibu ini merasa sangat puas, karena ada alasan yang mengharukan dan kekuatan hangat di balik perjuangannya.
Kehidupan Sibuk Seorang Ibu Berusia 60 Tahun
Di kota besar, menghabiskan waktu 2 jam untuk perjalanan kerja sudah biasa, namun 6 jam perjalanan setiap hari adalah hal yang langka. Diketahui, ibu ini telah menjalani rutinitas ini selama lebih dari sepuluh tahun, dan tidak pernah mengeluh.
Carolyn Cherry, 60 tahun, adalah seorang pendeta yang bertugas di kantor pemerintah wilayah Los Angeles sebagai staf pelayanan untuk auditor daerah. Dia memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan.
Carolyn menyebut pekerjaan ini sebagai posisi yang banyak orang impikan. Dia telah bekerja selama 16 tahun, dengan jam kerja 9 jam per hari. Dia tidak merasa lelah karena penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarganya dengan layak.
Yang membedakan Carolyn dari rekan-rekannya adalah tempat tinggalnya yang sangat jauh, sekitar 169 km dari Los Angeles, tepatnya di kota kecil bernama Hemet. Karena itu, setiap hari dia harus bangun pukul 02:45 pagi, bersiap, sarapan, dan menyiapkan perlengkapan anak-anak. Sekitar pukul 03:45, dia sudah keluar rumah.
6 Jam Perjalanan Setiap Hari
Dia mengemudi untuk menjemput temannya, lalu mereka bersama-sama ke Stasiun South Perris, memarkir mobil, dan naik kereta menuju Los Angeles.
Kenapa tidak menyetir langsung ke kantor? Karena lalu lintas di Los Angeles sangat padat saat jam sibuk, dan biaya bensin untuk perjalanan pulang-pergi sekitar 338 km juga sangat mahal. Maka, naik kereta lebih hemat dan efisien bagi Carolyn.
Sekitar pukul 07:00 pagi, dia tiba di Los Angeles dan masih harus berganti moda transportasi untuk sampai ke kantornya.
Setelah bekerja selama 9 jam, Carolyn akan menempuh perjalanan yang sama untuk kembali ke rumah sejauh 169 km itu.
Motivasi Seorang Ibu yang Tak Kenal Lelah
Karena keluar rumah sangat pagi dan pulang malam, dia jarang bertemu anak-anaknya di hari kerja. Total waktu kerja dan perjalanan membuat waktu tidurnya hanya sekitar 4,5 jam per hari sepanjang tahun.
Namun Carolyn tidak pernah mengeluh. Dia bahkan tidak menggunakan alarm, karena sudah terbiasa bangun tepat waktu setiap hari.
“Aku memilih tinggal jauh karena ingin anak-anakku tumbuh di lingkungan yang lebih baik,” ujar Carolyn.
Dulu dia pernah tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan tinggi dan tidak ingin anak-anaknya terpengaruh.
Kini, dia tinggal di komunitas yang tenang, anak-anaknya bersekolah bersama teman-teman yang sopan dan baik, serta jauh dari pengaruh kriminalitas — dan itu membuat Carolyn merasa tenang.
Alasan penting lainnya adalah biaya sewa rumah. Di Hemet, dia menyewa apartemen dua kamar seharga 800 dolar per bulan. Sedangkan di Los Angeles, apartemen dengan kondisi yang sama, meski di lingkungan kurang bagus, bisa mencapai 1800 dolar atau lebih.
Uang yang dihemat dari sewa rumah digunakan untuk kebutuhan anak-anak dan menabung untuk biaya kuliah mereka kelak.
“Aku hanya ingin anak-anakku memiliki kehidupan yang lebih baik,” kata Carolyn.
Alasan yang sederhana namun tulus inilah yang menjadi semangat terbesarnya. Betapa pun berat hari-harinya, dia tak pernah merasa lelah.
Yang membuat Carolyn paling bahagia adalah, anak-anaknya memahami dan menghargai pengorbanan sang ibu.
Perjalanan Panjang yang Membahagiakan: “Aku Menikmatinya”
Meski harus menghabiskan waktu berjam-jam di kendaraan, Carolyn tidak pernah merasa bosan, bahkan ia menikmati setiap perjalanannya.
Dia selalu duduk di tempat yang sama, ditemani kopi dan camilan kecil. Tempat duduknya tidak terkena angin dan memiliki pandangan luas ke luar, sangat cocok untuk mengamati sesama penumpang.
“Orang-orang yang naik kereta sangat menarik. Kamu bisa melihat berbagai macam kehidupan,” kata Carolyn.
Melalui pengamatan itu, dia merasakan kehidupan orang lain, dan itu membuatnya bahagia.
Rencana Pensiun: Akhir dari Perjalanan Pagi Buta
“Aku tidak bisa membayangkan seperti apa nanti,” ujarnya, “tapi aku menantikannya.”
Dia berharap setelah pensiun, tidak perlu lagi bangun pukul 02:45 pagi, dan bisa tidur nyenyak selama 6 jam atau lebih setiap hari.
“Aku lelah secara fisik, tapi hatiku penuh kebahagiaan. Semua ini untuk masa depan anak-anakku.”(jhn/yn)


