Aaron Gifford
Sebagai imbas penggunaan media sosial, inflasi nilai di sekolah, dan faktor lingkungan, perilaku narsistik tampaknya semakin meningkat di kalangan anak-anak dan remaja, menurut beberapa psikoterapis dan pakar.
Prevalensi narsisme pada siswa di bawah usia 18 tahun telah meningkat sekitar 10 persen dalam 12 tahun terakhir dan seharusnya menjadi perhatian para psikolog sekolah saat tahun ajaran baru dimulai, menurut David Liebert, seorang psikoterapis yang berpraktik di Tampa, Florida.
Liebert mengingatkan bahwa narsisme adalah istilah yang sangat luas, para profesional kesehatan mental umumnya menghindari mendiagnosis gangguan kepribadian spesifik ini pada anak-anak karena kepribadian mereka masih dalam tahap perkembangan. Akibatnya, perkiraannya sangat bervariasi.
Gangguan kepribadian narsistik didefinisikan sebagai kebutuhan akan kekaguman, pola umum dari rasa kebesaran diri yang berlebihan (megalomania)—atau perasaan yang terlalu tinggi terhadap pentingnya diri sendiri—dan kurangnya empati. Menurut Perpustakaan Nasional Kedokteran Amerika Serikat (National Library of Medicine), gangguan ini memengaruhi kurang dari 2 persen populasi umum.
Liebert mengatakan ia percaya bahwa dalam beberapa tahun terakhir, gerakan peningkatan harga diri mungkin telah melampaui batas. Kebutuhan akan persetujuan secara terus-menerus adalah masalah umum di komunitas tempat anak-anak mendapatkan piala meskipun berada di posisi terakhir, dan bintang emas tidak lagi diberikan untuk hasil kerja terbaik karena khawatir akan mengecualikan anak-anak lainnya.
“Harga diri yang hanya sedikit terluka, dikombinasikan dengan kerendahan hati, adalah sesuatu yang sehat,” kata Liebert. “Anak-anak perlu diberi lebih banyak kesempatan untuk gagal.”
Anita Horvath, seorang psikoterapis yang berbasis di Cobleskill, New York, mengatakan perilaku narsistik sering kali muncul pada individu saat masih anak-anak, dipuji atas prestasinya tetapi tidak dilihat sebagai pribadi secara keseluruhan.
Ia percaya perilaku ini terus meningkat dari waktu ke waktu. Anak-anak saat ini menghabiskan lebih banyak waktu jauh dari orang tua mereka. Bahkan ketika bersama orang tua, mereka mungkin kurang memiliki koneksi emosional, di era yang lebih berfokus pada kinerja dan produktivitas daripada pada anak sebagai manusia utuh. Akibatnya, mereka memiliki lebih sedikit dukungan dalam menghadapi pengalaman negatif.
Lebih dari itu, orang tua mereka sendiri mungkin juga belum dewasa secara emosional, kata Horvath kepada The Epoch Times.
“Sering kali, menjadi orang tua bukanlah tentang memenuhi kebutuhan emosional anak. Justru anaklah yang diminta untuk memenuhi kebutuhan orang tua. Orang tua yang belum dewasa secara emosional mudah terpicu, memproyeksikan emosinya ke anak, dan anak dipaksa untuk menyesuaikan diri demi mendapatkan kasih sayang. Dan terkadang, akibatnya, kepribadian anak berkembang dengan cara yang tidak sehat,” jelasnya.
Horvath percaya bahwa langkah-langkah perbaikan dapat ditemukan dalam nilai-nilai keluarga tradisional.
“Menjunjung tinggi pernikahan. Menjunjung tinggi keluarga. Mengakui dan menghadapi masalah kita sendiri, bukan membebankan semuanya kepada anak-anak,” katanya.
“Kita terus-menerus membelikan mereka barang, menjadi orang tua yang permisif, membiarkan mereka sendirian dengan internet, tidak bertanggung jawab atas mereka dan tidak memberikan mereka tanggung jawab, tidak menghabiskan waktu berkualitas bersama mereka—lalu kita heran mengapa mereka terlihat begitu arogan.”
Respons Terhadap Trauma
Ada berbagai bentuk perilaku narsistik, tetapi untuk diagnosis resmi dibutuhkan kriteria spesifik, kata Tina Lintner, manajer klinis senior untuk program rawat inap di Rawhide Youth Services di New London, Wisconsin.
“Betapa bebasnya orang menggunakan kata ‘narsistik’ itu tidak adil dan tidak tepat,” katanya kepada The Epoch Times.
Remaja yang mengalami pengabaian dan trauma sering kali masuk ke mode bertahan hidup demi melindungi diri dan kehilangan empati terhadap orang lain, jelasnya.
Anak-anak ini mungkin merasa bahwa mereka adalah beban bagi orang lain, ketika dibiarkan sendiri, mereka membuat keputusan buruk tanpa pengawasan, termasuk merundung orang lain untuk menutupi harga diri yang rendah, kata Lintner. Mereka yang tampak percaya diri dan besar kepala bisa jadi justru kekurangan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri, tambahnya.
Anak laki-laki yang mengikuti program Rawhide datang melalui sistem peradilan remaja negara bagian. Mereka tinggal dalam kelompok kecil bersama teman sebaya, staf pengawas, dan terapis. Mereka bertanggung jawab atas memasak, mengelola tempat tinggal secara bersama-sama, belajar untuk peduli terhadap orang lain, serta memperoleh keterampilan hidup dan cara mengatasi masalah. Penggunaan ponsel, video game, dan media sosial dibatasi.
“Perilaku mereka terlihat jauh lebih stabil tanpa perangkat-perangkat itu, sangat kentara,” ujarnya.
Catrina Drinning-Davis, seorang terapis di Texas yang bekerja dengan para penyintas kekerasan dalam rumah tangga, mengatakan bahwa narsisme adalah gangguan umum pada orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap pasangan atau anak mereka.
Banyak dari mereka mempelajari perilaku tersebut dari orang tuanya atau tumbuh dengan rasa berhak karena tidak pernah mendapat konsekuensi atas tindakan mereka. Pola kekerasan dalam hubungan romantis, katanya, dapat dimulai sejak usia 14 tahun dan memburuk seiring waktu.
“Semua harus tentang saya—kalau kamu tidak memberikan apa yang saya inginkan, saya akan membuat hidupmu sengsara,” kata Drinning-Davis kepada The Epoch Times. “Orang yang abusif juga cenderung mencari pasangan yang lebih muda dari mereka.”
Sebuah meta-analisis dari data lebih dari 37.000 peserta di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat, yang diterbitkan tahun lalu oleh American Psychological Association, menunjukkan bahwa meskipun tingkat narsisme menurun dari masa kanak-kanak hingga usia dewasa yang lebih tua, “orang yang sejak kecil lebih narsistik dari rata-rata, tetap lebih narsistik dari rata-rata ketika dewasa.”
Peran Orang Tua
Perilaku narsistik bisa diturunkan, kata Rick Rodgers, seorang pekerja sosial klinis berlisensi yang berbasis di Indiana. Ia menganggap narsisme sebagai masalah keluarga, bukan masalah individu. Dalam banyak kasus, katanya, salah satu orang tua juga merupakan seorang narsistik atau memiliki kondisi yang tidak terdiagnosis, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) atau bahkan tingkat autisme tertentu.
Orang tua narsistik, katanya, bisa sepenuhnya mengabaikan anaknya atau mencoba hidup melalui anak tersebut dengan harapan-harapan yang tidak realistis.
“Generasi Baby Boomer adalah generasi yang paling narsistik,” katanya kepada The Epoch Times. “Ingat iklan layanan masyarakat dari tahun 1980-an dan 1990-an—‘Ini jam 22.00 malam. Apakah Anda tahu di mana anak Anda berada?’ Itu adalah pengumuman layanan publik karena para Boomer lebih fokus pada diri sendiri, bukan pada anak-anak mereka.”
Tim Diehl, seorang ayah sekaligus mantan pendeta di Reading, Pennsylvania, mengatakan bahwa saat ini ada lebih banyak tekanan dari teman sebaya bagi para orang tua untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak mereka. Ia menunjuk pada kegiatan olahraga luar kota (travel sports), yang bisa mahal dan menyita waktu, sebagai contoh.
“Orang tua lain melakukan semua itu untuk anak-anak mereka karena mereka merasa itu yang mendefinisikan mereka sebagai orang tua. Tapi kebanyakan orang tua sebenarnya tidak suka harus mengantar-jemput terus-menerus, dan anak-anak pun tidak menghargainya,” kata Diehl, 48 tahun, kepada The Epoch Times.
Diehl mengatakan bahwa remaja secara alami memang cenderung egois; tidak mengherankan bila mereka merasa seolah dunia berputar mengelilingi mereka.
Media sosial memperlebar jurang antar generasi. Orang tua sering terlihat kurang menarik dibandingkan dunia maya. Orang dewasa di rumah membiarkan anak-anak terputus dari kenyataan, padahal seharusnya mereka mendorong anak keluar dari zona nyaman mereka, ujar Diehl.
“Ada nilai dari pekerjaan yang tidak kamu sukai, dari atasan yang tidak kamu sukai,” katanya. “Segala hal yang tidak kita sukai justru bisa memberi manfaat dalam jangka panjang.”
“Kedewasaan itu soal hubungan dan kebijaksanaan. Keterputusan dan keinginan instan justru bertentangan dengan kebijaksanaan. Terlalu banyak dari kita [orang tua] yang tidak memperhatikan. Tugas orang dewasa adalah belajar untuk memperhatikan.”
Orang tua dapat mengurangi perilaku narsistik pada anak-anak dengan menanamkan pemahaman bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, seperti keluarga, Tuhan, dan negara, kata Liebert.
“Ambillah tanggung jawab yang tidak akan menghasilkan pujian, tetapi tetap akan membuat hidup orang lain menjadi lebih baik,” ujarnya.
Media Sosial
Perjuangan khas remaja untuk diterima telah berkembang menjadi keinginan menjadi terkenal dan lebih baik dari orang lain, menurut Mark Gregston, pendiri Parenting Today’s Teens, sebuah organisasi nirlaba berbasis di Texas. Ia telah bekerja dengan remaja di lingkungan kelompok selama lima dekade. Media sosial dan influencer media sosial telah memainkan peran dalam tren yang mengkhawatirkan ini, katanya.
“Orang akhirnya menyadari bahwa konsumsi dengan diri sendiri tidak membawa ke mana-mana,” ujar Gregston kepada The Epoch Times. “Ada harga yang harus dibayar ketika terlalu terobsesi dengan diri sendiri. Kamu tidak akan dewasa.”
Gregston mengajarkan kepada remaja dan orang tua mereka nilai interaksi pribadi, percakapan yang lebih mendalam, dan relasi antar personal. Remaja tidak memiliki akses ke ponsel selama setahun di pusat konseling residensial Heartlight milik Gregston. Ketika mereka kembali ke rumah, “masalah terbesar mereka adalah menemukan teman sebaya berpikiran sama yang tidak terlalu peduli dengan ponsel,” katanya.
Liebert, psikoterapis berbasis di Tampa, mengatakan bahwa larangan ponsel di kelas mulai diterapkan di sekolah-sekolah di beberapa negara bagian pada tahun ajaran mendatang, adalah langkah ke arah yang benar.
“Saya belum pernah mendengar pasien mengatakan kepada saya, ‘Ketika Anda menyuruh saya mengurangi penggunaan media sosial dan mengurangi scrolling sebesar 50 persen, hidup saya berantakan,’” ujar Liebert kepada The Epoch Times.
Solusi
Para ahli menyarankan bahwa orang tua dapat mengurangi perilaku narsis pada anak-anak dengan menanamkan pemahaman bahwa ada sesuatu di luar diri mereka, seperti keluarga, Tuhan, dan negara, kata Liebert.
“Ambil tanggung jawab yang tidak akan mendapat pujian, tetapi tetap membuat hidup orang lain lebih baik,” ujarnya.


