EtIndonesia. Chu Shijian, pendiri brand “Chu Cheng” (Jeruk Chu), pernah menjalani kehidupan yang ekstrem dan penuh kontroversi: dipenjara di usia 71, memulai usaha baru di usia 74, dan menjadi miliarder di usia 85. Dia dianggap salah satu tokoh bisnis paling ikonik dan kontroversial dalam sejarah modern Tiongkok.
Pada 5 Maret 2019, tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-91, Chu Shijian meninggal dunia di Yuxi, Yunnan. Sebuah legenda bisnis pun resmi berakhir.
Dia menciptakan dua mahakarya bisnis: perusahaan rokok Hongta dan jeruk “Chu Cheng”.
Ungkapan yang paling tepat menggambarkan hidupnya adalah: “Ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari seberapa tinggi dia pernah berdiri, tapi seberapa kuat dia bisa bangkit setelah jatuh ke titik terendah.”
Dari “Raja Tembakau” ke Tahanan Negara
Chu Shijian lahir pada 1928 dari keluarga petani di Yuxi, Yunnan. Dia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pabrik Rokok Yuxi pada tahun 1979—saat usianya 51 tahun dan perusahaan itu nyaris bangkrut.
Dengan visi reformasi dan modernisasi, dia berani:
· Mengimpor mesin produksi rokok terbaik dari luar negeri
· Mempelajari teknologi pertanian modern untuk budidaya tembakau
· Mengajarkan petani lokal teknik menanam yang lebih baik
Di bawah kepemimpinannya, rokok Hongta laris manis di seluruh Tiongkok dan dikenal hingga ke mancanegara. Pada usia 62 tahun, dia dinobatkan sebagai salah satu dari “10 Pengusaha Top Tiongkok”. Di usia 66, dia masuk daftar “10 Tokoh Reformasi Terbaik”.
Namun puncak kejayaan itu runtuh pada 1995 saat Chu dituduh korupsi. Pada 9 Januari 1999, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena penggelapan dan kepemilikan kekayaan tidak sah. Saat itu, dia berusia 71 tahun.
Dari “Raja Tembakau” Menjadi “Raja Jeruk”
Pada 2002, Chu Shijian mendapat pengurangan hukuman dan bebas bersyarat karena alasan kesehatan. Di usia 73, bersama istrinya, dia menyewa sebidang tanah pegunungan gersang dan memulai usaha menanam jeruk.
Siapa sangka, lebih dari satu dekade kemudian, jeruk “Chu Cheng” menjadi buah premium yang laris manis di seluruh Tiongkok. Produksinya mencapai 10.000 ton per tahun, dengan keuntungan bersih lebih dari 60 juta yuan!
Tahun 2012, jeruk Chu mulai dijual di platform e-commerce. Di tahun berikutnya, penjualan mencapai lebih dari 1 juta kilogram dengan omzet lebih dari 100 juta yuan. Jeruk ini bukan hanya lezat, tapi juga dikenal sebagai “jeruk penuh semangat juang”.
Meski bermula tanpa modal, dia dibantu oleh komunitas Tionghoa dari Singapura. Chu menerapkan pendekatan bisnis berbasis teknologi dan ketat dalam pengendalian mutu:
· Jumlah buah per pohon harus diatur
· Irigasi saat kemarau harus tepat
· Petani diberi pelatihan langsung dan sistem insentif berdasarkan kualitas panen
Petani di daerah Xinping yang semula tergolong miskin berhasil keluar dari kemiskinan. Banyak yang penghasilannya tembus 100 ribu yuan per tahun.
Chu Shijian percaya bahwa pertanian modern dan internet adalah masa depan. Dia membuktikannya—“Chu Cheng” menjadi contoh sukses dari kolaborasi “Internet + Pertanian Khas Dataran Tinggi”. (jhn/yn)


