EtIndonesia. DHAKA, Bangladesh — Ratusan massa menggelar unjuk rasa pada Selasa (22/7/2025) di dekat lokasi jatuhnya jet latih Angkatan Udara Bangladesh ke sebuah kampus di ibu kota negara tersebut. Mereka menuntut pertanggungjawaban, kompensasi bagi keluarga korban, serta penghentian penerbangan pelatihan.
Kerusuhan yang masih berlangsung akibat insiden pada Senin itu menyebabkan lalu lintas lumpuh di sejumlah bagian kota Dhaka, yang masih dalam tahap pemulihan dari pemberontakan mahasiswa tahun lalu yang menggulingkan perdana menteri. Pemerintahan sementara kini berupaya mengembalikan ketertiban dan menyelenggarakan pemilu tahun depan. Beberapa mahasiswa bahkan memasuki kantor pusat administrasi negara dan dibubarkan dengan gas air mata serta granat kejut.
Jumlah korban tewas akibat kecelakaan tersebut meningkat menjadi 31 orang, termasuk 25 siswa serta seorang guru yang meninggal dunia karena luka bakar saat membantu korban lainnya menyelamatkan diri dari gedung dua lantai tersebut serta pilot yang sedang menjalani penerbangan solo pertamanya. Pejabat menyatakan bahwa 171 orang berhasil diselamatkan—sebagian besar siswa dari Milestone School and College, banyak di antaranya mengalami luka bakar.
Seiring dengan deklarasi hari berkabung nasional oleh Bangladesh pada Selasa, militer meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut di lingkungan Uttara yang padat penduduk di Dhaka, tanpa melibatkan otoritas penerbangan sipil tidak secara langsung.
Para hakim Pengadilan Tinggi juga meminta pemerintah membentuk komite teknis untuk menyelidiki kecelakaan tersebut.
Para siswa yang berunjuk rasa menuntut identitas para korban tewas dan luka dipublikasikan secara “akurat,” kompensasi bagi keluarga, serta penghentian segera penggunaan pesawat latih “usang dan tidak aman” oleh Angkatan Udara Bangladesh. Mereka juga menuduh aparat keamanan memukuli mereka dan memperlakukan guru secara kasar pada Senin.
“Jumlah pasti orang yang tewas dan terluka harus diumumkan kepada publik,” kata seorang mantan siswa sekolah tersebut yang menolak menyebutkan namanya kepada Associated Press di lokasi kejadian.
Militer dan kantor pimpinan sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, menyatakan tidak ada yang disembunyikan terkait jumlah korban dan bahwa mereka berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Tidak ada tanggapan terhadap tuduhan lainnya.
Para mahasiswa semakin marah ketika dua pejabat senior pemerintah—Penasehat Hukum Asif Nazrul dan Penasehat Pendidikan C.R. Abrar—tiba di lokasi, memaksa mereka berlindung selama beberapa jam di dalam kampus sebelum akhirnya dievakuasi oleh aparat keamanan. Kelompok mahasiswa lain memaksa mereka mundur. Pada malam hari, setelah selama sembilan jam, sebagian besar mahasiswa dan kedua penasehat tersebut meninggalkan kampus di bawah pengamanan ketat.
Di tempat lain di Dhaka, para mahasiswa menerobos barikade keamanan dan memasuki kompleks Sekretariat Bangladesh, kantor pusat administrasi negara. Aparat keamanan menggunakan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan mereka.
Saluran Jamuna TV melaporkan sekitar 80 mahasiswa terluka akibat dipukuli aparat keamanan. Para mahasiswa menuntut pengunduran diri Abrar, yang mereka tuduh terlambat mengumumkan pembatalan ujian umum selama hari berkabung Selasa. Abrar tidak memberikan pernyataan publik terkait tuduhan tersebut.
Kekacauan pun meluas ke daerah sekitarnya.
Dihantui oleh Tragedi
“Kemarin, ketika pesawat mendekat, suaranya sangat keras—tak bisa dibayangkan—seakan-akan gendang telinga hendak pecah. Dalam waktu lima detik, pesawat itu jatuh tepat di depan saya di sini,” kata Smriti, seorang siswii yang hanya menyebutkan satu nama.
“Tiba-tiba, aku melihat kobaran api menyala tinggi dari gedung itu,” ujar mahasiswi tersebut. “Saat aku tiba, aku melihat beberapa anak tergeletak dengan tangan dan kaki terbuka, beberapa jasad tak bernyawa tergeletak di sekitar. Bisakah mereka diselamatkan? Katakan, apakah mereka bisa kembali ke pelukan orang tua mereka?” tanyanya.
Asisten khusus Presiden sementara Muhammad Yunus, Sayeedur Rahman, pada Selasa mengatakan bahwa sebanyak 78 orang, sebagian besar mahasiswa, masih dirawat di rumah sakit. Awalnya dilaporkan 20 orang meninggal, dan tujuh orang lagi meninggal akibat luka-luka sepanjang malam. Pihak militer melaporkan, empat kematian lainnya dilaporkan pada Senin malam.
Maherin Chowdhury, guru yang menyelamatkan lebih dari 20 siswa dari gedung sekolah yang terbakar, meninggal dunia akibat luka bakar parah yang dideritanya. Insiden tersebut disampaikan oleh rekannya, Tanzina Tanu.
Para dokter menyatakan pada Senin malam bahwa kondisi sekitar puluhan korban luka masih kritis. Sebuah pos donor darah dibuka di rumah sakit khusus luka bakar tempat sebagian besar korban dirawat.
Dua puluh jenazah telah diserahkan kepada keluarga mereka, meskipun beberapa kemungkinan perlu diidentifikasi melalui pencocokan DNA karena kondisi hangus total.
India sedang mengupayakan pengiriman tim pakar medis, termasuk spesialis luka bakar dan perawat, ke Dhaka, menurut pejabat India yang mengetahui rencana tersebut. Mereka berbicara tanpa menyebut nama, dikarenakan tidak berwenang memberi pernyataan kepada media. Hubungan India dengan Bangladesh memburuk sejak pemberontakan mahasiswa tahun lalu.
Pesawat Mengalami Kerusakan Teknis
Jet latih buatan Tiongkok, F-7 BGI, mengalami “kerusakan teknis” beberapa saat setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara A.K. Khandaker pada pukul 13.06 siang, menurut pernyataan militer.
Pihak militer menyebutkan, sang pilot, Letnan Penerbang Mohammed Toukir Islam, “melakukan segala upaya untuk mengalihkan pesawat menjauh dari daerah padat penduduk menuju lokasi yang lebih jarang penduduk. Ini adalah penerbangan solo perdananya sebagai bagian dari pelatihan. Belum jelas apakah ia sempat keluar dari pesawat sebelum jet menghantam bangunan.
Sekolah tersebut terletak sekitar 11 kilometer dari pangkalan udara, berada di kawasan padat dekat stasiun metro, dengan banyak toko dan rumah di sekitarnya.
Ini adalah kecelakaan pesawat paling mematikan di ibu kota Bangladesh dalam ingatan terakhir. Pada tahun 2008, sebuah jet latih F-7 lainnya juga jatuh di luar Dhaka, menewaskan pilotnya, yang sempat keluar dari pesawat setelah mendapati kerusakan teknis.
Pesawat F-7 BGI diproduksi oleh AVIC Chengdu Aircraft Industry Group Co. Ltd dari Tiongkok. Pesawat ini merupakan varian terakhir serta tercanggih dalam keluarga pesawat Chengdu J-7/F-7, menurut situs web perusahaan. Laporan media menyebut Bangladesh memesan 16 pesawat tersebut pada 2011. Secara keseluruhan telah dikirim pada 2013. Pesawat itu merupakan versi buatan berdasarkan lisensi dari MiG-21 buatan Uni Soviet.
oleh Julhas Alam
Sumber : The Associated Press via The Epoch Times


