EtIndonesia. “Hidup tanpa penyesalan itu tidaklah sempurna.” Seperti yang disampaikan dalam film About Time, saat kita mau merangkul segala penyesalan dalam hidup, justru dari sanalah kita akan belajar lebih banyak.
Apakah dalam hidup ini ada penyesalan? Hampir bisa dipastikan 99% orang akan menjawab: “Ada.”
Meskipun dunia terus mengajarkan kita untuk “melupakan masa lalu, jangan dipikirkan lagi,” atau “menyesal tidak ada gunanya, lebih baik fokus pada masa kini,” kenyataannya, kenangan akan hal-hal yang kita sesali tetap saja muncul sesekali di benak kita.
Mungkin kita akan berpikir: “Andai dulu aku lebih giat belajar, mungkin aku bisa masuk universitas impian,” atau, “Seandainya aku tidak melepaskan peluang kerja itu,” bahkan, “Kalau bisa kembali ke masa itu, aku tidak akan mengambil keputusan tersebut.”
Justru karena perasaan menyesal itu menyakitkan, kita sering enggan mengakuinya. Namun Kathryn Schulz, pembicara terkenal di TED dan juga seorang perfeksionis, punya pandangan berbeda.
Dalam pidatonya yang berjudul Don’t Regret Regret, dia mengatakan: “Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang utuh, belajarlah untuk hidup bersama penyesalan, bukan lari darinya.”
Orang yang Tidak Punya Penyesalan Itu Justru Tidak Tahu Apa-apa
Todd B. Kashdan, seorang psikolog klinis dari Universitas George Mason, menjelaskan bahwa penyesalan hampir tidak ditemukan pada anak-anak. Sebelum usia 7 tahun, anak-anak belum bisa membandingkan plus-minus dari dua pilihan. Semua keputusan mereka murni didasarkan pada perasaan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “ketidaktahuan itu adalah kebahagiaan.”
Keputusan yang dibuat secara spontan biasanya tidak menimbulkan penyesalan yang besar. Misalnya, kamu asal pilih restoran dan ternyata makanannya mahal dan tidak enak, kamu tidak akan terlalu menyesal, hanya menganggap itu sebagai nasib sial saja. Tapi beda ceritanya kalau kamu sudah mempertimbangkan dengan matang untuk memilih restoran A, tapi kemudian tahu bahwa restoran B ternyata jauh lebih bagus—penyesalannya bisa jauh lebih dalam.
Ada juga jenis penyesalan lain: saat kamu baru sadar bahwa sesuatu itu penting, tetapi kamu sudah melewatkannya. Tapi justru dari momen seperti itulah kamu tumbuh dan memperoleh pemahaman yang baru.
Karena itulah, Kashdan berkata: “Jangan takut mengakui bahwa kamu menyesal. Hidup yang penuh penyesalan justru adalah hidup yang penuh pemikiran dan pertumbuhan.”
Penyesalan Itu Tak Terelakkan—Dan Sebenarnya Berguna!
Masih menurut Kashdan, banyak orang yang suka ragu saat mengambil keputusan, karena tidak bisa menerima risiko melakukan kesalahan. Mereka ingin hidup yang bebas penyesalan. Namun, justru pemikiran seperti inilah yang menimbulkan kecemasan dan rasa bersalah yang berlebihan.
Dalam film The Fault in Our Stars, tokohnya pernah berkata: “Kalau kamu ingin melihat pelangi, kamu harus rela basah oleh hujan.”
Kesalahan dan penyesalan masa lalu adalah bagian dari proses pertumbuhan kita hari ini.
Penyesalan tidak bisa dihindari. Setiap pilihan yang kita ambil punya harga dan risiko. Memilih satu berarti melepaskan yang lain. Tidak pernah ada keputusan yang “paling sempurna”.
Dalam film About Time, tokohnya berkata: “Cobalah jalani setiap hari seolah kamu sudah pernah menjalaninya, dan nikmati setiap momen seakan itu hari terakhir dari kehidupanmu yang luar biasa tapi sederhana.”
Ketika kita bisa menerima penyesalan sebagai bagian dari hidup, kita justru bisa belajar lebih banyak. Karena sejatinya, hidup tanpa penyesalan itu tidak ada. Setiap penyesalan menyimpan nilai, dan lewat pengalaman-pengalaman itulah kita terus membenahi langkah hidup kita.
Penutup: Cintai Penyesalanmu, Maafkan Dirimu Sendiri
“Hidup tanpa penyesalan itu tidak lengkap. Kita harus belajar mencintai hal-hal yang tidak sempurna dan cacat yang kita ciptakan, serta belajar memaafkan diri sendiri yang telah menciptakannya. Penyesalan bukan pengingat bahwa kita buruk, tapi bahwa kita bisa menjadi lebih baik.” – Kathryn Schulz- (jhn/yn)


